
Donny maupun Ricard terus menerus membuntuti rombongan yang membawa Zahra hingga tiba di mana mereka berhenti di salah satu bangunan tua, dan kali ini Donny menepih kan mobil nya di sebuah semak-semak yang cukup rimbun hingga terlihat Zahra yang di tutup wajah nya menggunakan sebuah kain hitam dengan kedua tangan yang telah di ikat ke belakang.
Setelah memastikan para pria bertubuh besar meninggal kan area itu Donny maupun Ricard segera turun dan berlari menuju Zahra.
Merasa ada yang memegang pundak nya Zahra pun ketakutan. "Lepaskan aku! perintah mu telah aku ikuti, jangan coba macam-macam dengan ku." pekik Zahra dengan gugup.
"Ra, tenang! ini aku Ricard." ucap Ricard dan segera membuka penutup kepala Zahra dan ikatan di tangan nya.
"Kenapa kamu menyembunyi kan ini semua dari kami, Ra!" tanya Ricard dengan tajam nya, karena tidak habis pikir dengan keputusan yang di ambil wanita di depan nya.
"Maaf, aku akan menjelas kan segala nya setelah kita menemukan si kecil dan juga Ommah di dalam sana." jawab Zahra dan segera berlari menuju bangunan tua tersebut.
Ricard maupun Donny pun mengikuti langkah Zahra, ketiga nya berpencar menyusuri bangunan tua itu.
Ricard yang memilih lantai teratas bangunan tersebut pun menemukan sang anak dan juga sang Ommah namun ia tidak menyangka jika saat ini di tubuh kedua orang yang di sayangi nya terpasang sebuah bom.
"Don, aku menemukan mereka, cepat lah kesini!" teriak Ricard dengan keras nya.
__ADS_1
Mendengar itu Donny maupun Zahra segera berlari menuju lantai teratas. "Ra, ayo cepat!" ucap Donny dan kedua nya pun berlari menaiki tangga.
Mengetahui kedatangan Donny dan Zahra, Ricard pun mengangkat tangan nya, untuk memberi kode agar mereka tetap diam di tempat.
"Jangan bergerak! kalian tetap lah di posisi itu, karena salah satu kabel yang kalian injak terhubung dengan bom yang ada di tubuh Ommah." jelas Ricard dengan serius.
"Ricard apa yang harus qt lakukan?" tanya Zahra dengan panik.
"Tenang lah, aku akan mencoba menjinak kan bom di tubuh Ommah maupun anak kita. Tapi aku berharap kalian tetap pada posisi itu." balas Ricard sembari mengingat kan kedua nya.
"Kau mengira aku akan takut menghadapi dunia dengan berita pernikahan ku dengan Ricard, sayang nya aku tidak akan pernah takut, sekali pun dunia menentang pernikahan ini, dan ya, aku akan menanti kan kemarahan Leon, karena aku sudah mengetahui identitasmu Arindi Nhat!" teriak Zahra dengan keras nya dan itu berhasil memprofokasi Arindi yang berada di kejahuan.
Ricard maupun Donny tampak mematung beberapa saat namun pikiran Ricard kembali fokus dengan beberapa kabel pemicu peledak bom yang di pasang di tubuh kedua orang yang di sayangi nya.
Satu jam berlalu, dan waktu di layar bom tersebut tinggal lah 15 menit dari sekarang. Dengan kemampuan yang di miliki Ricard, ia pun berhasil memotong kabel tersebut pada detik-detik terakhir. Melihat Ricard berhasik Zahra pun berlari menghampiri sang Ommah yang sedang pingsan dan memeluk sang Ommah dengan butiran bening yang terus mengalir di pipi nya.
"Ommah maafin Zahra." ucap Zahra dengan suara serak nya.
__ADS_1
Donny pun menghampiri Ricard yang kembali fokus memotong kabel bom yang terpasang di tubuh sang anak. "Card, cepat sedikit waktu nya hampir habis." ucap Donny dengan khawatir. Terlihat peluh di kening Ricard terus menerus jatuh membasahi celana nya, ia pun merasa begitu gugup ketika di hadap kan dalam keadaan seperti saat ini, yang di mana sang anak menjadi taruhan nya.
Pada detik ke empat, Ricard pun berhasil memutus kan teka-teki pada bom yang di pasang di tubuh sang anak. "Sayang, maafkan Ayah, yang tidak dapat menjaga mu! Ayah janji mulai saat ini Ayah akan menjaga mu, karena Ayah tidak bisa hidup tanpa mu." ucap Ricard dengan butiran bening yang terus menerus mengalir di pipi nya begitu pun dengan Donny dan juga Zahra.
"Ayo, kita harus segera meninggal kan tempat ini." ucap Donny dengan cemas mengingat apapun akan terjadi setelah mendengar kan wanita di masa lalu Leon telah kembali untuk membalas kan segala dendam nya.
Mereka pun segera meninggal kan gedung tua tersebut. Donny dengan hati-hati menduduk kan sang Ommah di samping bangku kemudi, untuk memberi ruang untuk Ricard dan Zahra bersama anak semata wayang mereka.
"Nak, maafin Ayah yang tidak becus menjaga keamanan mu selama ini! Ayah janji setelah ini Ayah akan fakum dari dunia bisnis yang Ayah tekuni saat ini, agar kelak semua waktu berharga Ayah untuk kamu seorang, sayang.!" gumam Ricard tepat saat ia memeluk tubuh gembul sang anak yang sedang tidur di pangkuan nya.
Zahra yang berada tepat di samping Ricard pun angkat bicara. "Maafin aku juga, Ricard. Aku seharus nya selalu menemani Grita kemana pun ia mau, tapi aku terlalu mementing kan segala urusan ku sendiri dan lupa dengan keberadaan nya, aku janji setelah ini aku akan memeran kan status ku sebagai seorang istri dan ibu yang baik untuk kalian berdua." ucap Zahra dengan penyesalan mengingat ia yang selalu menitip kan sang anak kepada Prily maupun Fahreza dan tidak memiliki waktu yang banyak dengan sang anak.
"Ra, kembali lah ! jelas kan semua yang terjadi hari ini kepada Leon, bagaimana pun Leon harus tahu mengenai yang telah terjadi pada mu! Aku tidak ingin merebut kebahagai mu dengan berpura pura tuli dan buta jika pernikahan kita hanya untuk menyelamat kan anak kita, tidak lebih!" jelas Ricard tanpa terasa butiran bening pun jatuh di pipi Ricard untuk kedua kali nya setelah 7 tahun yang lalu, mereka pun sudah tiba di bandara.
"Keputusan ku sudah bulat, tidak ada yang perlu di jelas kan lagi, pernikahan ini bukan main-main melainkan suatu ikatan yang sakral, sekali pun pernikahan ini terjadi tanpa kehendak kita, aku akan tetap menghargai pernikahan ini. Jadi aku berharap kamu tidak mendesak ku lagi setelah kita tiba nanti di Italya." balas Zahra dengan tegas dan menekan kata terakhir nya.
Donny yang mendengar perbincangan kedua nya hanya bisa berdiam diri, bagaimana pun ia tidak ingin ikut campur dalam permasalah kedua sahabat nya.
__ADS_1