
Hampir 3 jam berlalu kepergian Leon dari ruangannya kini tibalah para Dokter untuk memeriksa kondisinya namun hal mengejutkan di dapati oleh para Dokter.
Beberapa Dokter sedang berjalan menuju ruangan di mana Leon berada namun saat mereka masuk ruangan itu tampak kosong dan beberapa alat medis berhamburan di atas ranjang, detik itu pun para Dokter bercucuran keringat dingin karna merasa takut akan menghilangnya Leon selaku pemilik rumah sakit itu.
"Apa yang terjadi? Dimana Direktur? mengapa semua alat medis berhamburan seperti ini,?" beberapa pertanyaan terlontar dari mulut para Dokter.
Melihat itu semua Dokter pun keluar dan mulai menanyakan keberadaan Direktur mereka kepada para perawat penjaga yang letaknya tidak jauh dari kamar sang Direktur.
"Apa kalian melihat Direktur?" tanya sang Dokter.
"Kami tidak melihatnya!" jelas beberapa perawat penjaga.
"Tolong hubungi Kepala Mira sekarang, dan katakan segera kesini.!" jelas sang Dokter karna khawatir dengan kondisi Leon.
Hampir dua jam seluruh staf rumah sakit maupun para Dokter mengelilingi rumah sakit namun kunjung tak menemukan keberadaan Leon di manapun. Hingga di mana Almira, Zahra, Reimont dan seluruh keluarga besar Zahra tiba di rumah sakit. Dan alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar kabar jika Leon menghilang dan tak seorangpun melihatnya pergi.
"Maafkan kami Dokter Kepala, tapi kami semua sudah menyisirih seluruh rumah sakit ini namun tak kunjung menemukan keberadaan Direktur, maafkan kami.!" jelas sang Dokter.
Mendengar itu Zahra segera berlari menuju kamar rawat Leon dan di ikuti Reimont dari belakang. Zahra tampak tak percaya jika Leon tega meninggalkannya.
"Kamu tidak seharusnya pergi Le, jika kehadiranku hanya membuatmu marah, aku akan segera menjauh dari hidupmu, tapi tidak seperti ini, karna kondisimu seperti saat ini hanya akan memperburuk keadaan, aku mohon Le, kembalilah." tangis Zahra yang terdengar menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Leon.
"Ra udah, hentikan. Semua ini bukan salahmu, beri Leon waktu untuk berpikir, dan semoga saja tidak terjadi sesuatu kepadanya." ucap Reimont selaku sahabat Zahra.
"Tapi semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak datang beberapa jam yang lalu, hingga membuatnya marah dengan kehadiranku. Semua ini salahku." Teriak Zahra berulang kali menyalahkan dirinya.
"Mira bantu aku, cari tau di mana Leon saat ini, aku mohon padamu Mira, sungguh aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap dirinya." ucap Zahra kepada Almira seraya memohon.
__ADS_1
"Zahra kamu tenanglah, aku akan menelpon Ervan dan menyuruhnya kesini." balas Almira dengan pelannya karna ia juga begitu terpukul dengan perginya sang kakak.
Hampir sejam lamanya akhirnya Ervan dan juga Prety tiba di rumah sakit. Keduanya tampak keheranan melihat banyak Dokter yang berkumpul di depan ruangan rawat Leon. Ervan pun segera berlari menuju kerumunan itu.
"Mira, Apa yang terjadi,?" tanya Ervan khawatir.
"Van, beri tau di mana kakak sekarang! aku mohon padamu, jangan pernah sembunyikan sesuatu kepadaku jika kau menganggapku sebagai adikmu," Almira berbicara dengan kedua tangan yang di angkat tinggi sembari memohon kepadanya.
" Aku sungguh tidak tau kemana Leon. Aku bersumpah! Aku akan mencoba menelponya, ini tidak baik untuk kesehatannya saat ini." jawab Ervan dengan jujur.
"Kau tidak perlu menelponnya karna saat ini ponselnya sudah tidak aktif lagi." jawab Almira.
"Ervan hubungi Istrinya Leon, pasti ia tau di mana keberadaan Leon saat ini." pintah Zahra.
"Ra maafkan aku, tapi sebenarnya Prety bukanlah Istri Leon, melainkan tunanganku, maafkan kami Ra." ucap Ervan dengan penyesalan.
"Mengenai penyakit Leon itu benar adanya, dan kami semua melakukan itu atas permintaan Leon, agar kelak kamu tidak akan sedih dan bahagia setelah kepergiannya." balas Mira.
"Aku tidak bisa percaya omongan kalian lagi dan katakan kepada Leon untuk mengakhiri semua kebohongan ini karna selamanya kalian tidak akan menemukanku. Dan untuk keluarga besarku, terima kasih atas kebohongan yang kalian mainkan bersama Leon, dan kali ini sudah menjadi keputusanku, aku akan membawa Aggrita pergi jauh untuk selamanya. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami." perkataan Zahra kali ini seperti bom atom.
"Zahra, kamu dengarkan penjelasan kami dulu, semua itu Leon lakukan demi kebahagianmu, dan kami tidak bermaksud membohongimu." ucap sang Ayah.
"Tidak untuk kali ini Ayah, biarkan aku membawa Aggrita, dan jangan berani mengikuti kami karna jika itu terjadi kalian akan menerima kabar kematian kami saat itu juga." balas Zahra dengan ancaman.
Mendengar perkataan Zahra yang sudah melewati batas dengan cepatnya sang Bunda menamparnya untuk pertama kali seumur hidupnya menyentuh sang anak.
Plakkk....tampar sang Bunda.
__ADS_1
"Zahra, hentikan! Kau sudah melewati batasanmu, minta maaflah kepada Ayahmu." teriak sang Bunda dengan kemarahannya.
"Bunda, tidak harus seperti itu." Alfian berbicara.
"Maafkan aku Ayah. Dan selamat tinggal." itulah ucapan Zahra untuk mengakhiri perdebatan antara mereka dan berjalan menuju Prily dan Donny yang sedang bermain di taman rumah sakit bersama sang anak.
Tanpa tau apa yang terjadi Donny dan Prily pun memberikan Aggrita kepada Zahra.
"Kalian mau kemana Zahra,?" tanya Donny.
"Aku ingin mengajak Aggrita jalan-jalan sebentar." jawabnya singkat.
"Kalian hati-hatilah." balas Donny bersama Prily dan segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Melihat Donny dan Prily yang berjalan masuk, Zahra pun mulai menitihkan butiran bening yang sedari tadi ia tahan. "Maafkan aku Ly, tidak seharusnya aku memeisahkan kalian dengan Aggrita tapi hanya ialah penyemangat hidupku saat ini, aku yakin kalian akan segera di karunia seorang bayi mungil." ucapnya dalam hati.
"Zahra, tunggu aku." teriak Reimont.
Mendengar teriakan sang sahabat Zahra pun menghentikan langkahnya.
"Reimont maaf atas yang kau lihat barusan, tapi bisakah kau tidak mengikutiku lagi, saat ini aku hanya ingin berduaan dengan anakku saja." ucapnya dengan pelan karna tidak ingin menyinggung perasaan sang sahabat.
"Ra, ijinkan aku mengantarmu kemanapun kau pergi setelahnya aku akan segera lembali ke America. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kalian bagaimanapun juga kamu adalah sahabatperempuanku satu-satunya." balas Reimont dengan wajah memmohon.
"Baiklah, tapi kamu harus janji tidak akan memberikan informasi apapun mengenai keberadaan aku dan anakku kepada siapapun termasuk Ayah maupun Bundaku." jelas Zahra.
"Baiklah aku berjanji kepadamu untuk tidak memberikan informasi mengenaimu dan juga Aggrita kepada siapapun." balas Reimont dengan mengulang kembali perkataan sang sahabat.
__ADS_1