
menempuh perjalan belasan jam. Akhirnya Zahra tiba di Airport Charles de Graulle. Zahra mempercepat jalan nya menuju sebuah taksi yang sudah di pesannya. Agar di bisa secepat nya beristirahat.
Zahra akhirnya sampai di Apartement dan dengan cepatnya melempar tubuhnya jatuh ke ranjang dan tertidur begitu pulas.
Malam begitu cepat berlalu, sang mentari sudah mengeluarkan cahaya yang begitu terang, Zahra yang sudah bangun pun turun dari ranjang dan merapihkan tempat tidurnya, setelahnya ia berlalu masuk ke kamar mandi.
Zahra memakai kemeja berwarna pink dengan celana jeans dan di padukan dengan highells. Setelah nya ia beranjak pergi ke kantor dengan kecepatan tinggi akhirnya Zahra pun tiba di area parkir perusahan.
Semua menatap ibah ke arah Zahra, Zahra yang melihatnya merasa aneh, seketika seseorang memberitahukan nya bahwa Ricard menyuruh banyak orang untuk mencarinya.
Zahra pun menepuk pundak wanita itu dan berkata. "Tidak masalah, trimah kasih telah menghawatirkan Aku" ucap nya dan tersenyum seraya berjalan menuju pintu masuk perusahan dan menaiki lift. Setelah tiba di lantai 14 Zahra pun berjalan menuju ruangannya.
Ricard yang sedang meeting tiba-tiba melihat sosok yang ia cari beberapa bulan ini, dengan cepat nya ia pun mengakhiri rapat yang baru saja di mulai beberapa menit yang lalu dan berlari menuju ruangan Zahra.
Semua yang melihat kedatangan Zahra, pun merasa khawatir karena mereka tahu sifat dan kekejaman Ricard.
Setwlah menyapa beberapa rekan tim nya Zahra pun berniat masuk ke ruangan nya namun baru sampai di ambang pintu tiba-tiba pergelangan tangan nya di tarik oleh Ricard dengan kasar nya. Zahra merasa kesakitan saat Ricard menyeret nya dengan paksa, melihat tingkah Ricard yang menurut nya sudah sangat keterlaluan Zahra pun meneriaki nya. "Lepaskan tanganku, Ricard.!" teriak Zahra dengan marah.
Semua staf dan para Direksi tampak melonggo mendengar Zahra yang berteriak kepada seorang Ricard Alziro.
Ricard tidak mendengarkan perkataan Zahra sama sekali, dan menatap Zahra seperti ingin membunuh. Namun Zahra dengan sifat keras kepala nya tak sekali pun takut dengan sosok Ricard Alziro.
__ADS_1
Ricard membawa Zahra keruangannya dan mengunci ruangan tersebut dari dalam dan menghempaskan Zahra dengan kasarnya ke sofa.
"Ricard, Apa yang kau lakukan??" tanya Zahra dengan suara meninggi.
Ricard menatap Zahra dengan begitu dinginnya dan berteriak. "Kemana saja Kau pergi! selama hampir 2 bulan lamanya aku mengerah kan anak buah ku untuk mencari keberadaan mu.!" balas Ricard dengan nada yang lebih tinggi.
Zahra tidak menjawab apapun hanya diam dan menahan rasa sakit di pinggang nya yang terkena sudut soffa.
"Zahra, aku bertanya padamu. Zahra, jawab aku!" teriak Ricard kembali.
Dengan berani Zahra menjawabnya. "Apa yang akan kau lakukan padaku, Apa kau akan membunuhku atau kau akan meniduriku. Ricard Alziro, aku sungguh jijik melihatmu seperti ini. Kita tidak menjalin hubungan apapun, Aku bukan kekasihmu dan Kau bukan kekasihku. Apa ini? Aku bukan bawahanmu dan Aku disini rekan bisnismu, sekali lagi Aku tekan, Aku dan Kau hanya rekan bisnis tidak lebih. Jika lebih dari itu kita hanya sebatas teman dan kamu tidak berhak menanyai masalah pribadiku karena itu adalah privasiku." ucap Zahra dengan emosi yang sudah meledak.
"Zahraa... beraninya Kau!" ucap Ricard menampar Zahra.
Zahra berjalan menuju pintu namun dengan cepat nay Ricard menariknya kembali. " Maaf kan aku, Zahra! aku tidak bermaksud menampar mu.!" ucap Ricard dengan penyesalan.
"Antara kita tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!" balas Zahra dengan sarkas.
"Mengapa Adriyansya menjemputmu Zahra?" tanya nya kembali. Dan kali ini teriakannya bisa di dengar oleh para bawahan nya.
"Adri adalah kakakku dan terserah dia mau menjemputku atau menikah kan aku dengan siapapun, itu adalah haknya." Zahra meneriaki Ricard. "Anda sudah mendapatkan jawabannya, jadi biarkan saya kembali ke ruangan saya Tuan Ricard Alziro." ucap Zahra kembali dan membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar nya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Zahra membuat Ricard tambah emosi, Ricard pun melempar gelas kedinding dan menjatuhkan susunan buku hingga keadaan ruangan yang awal nya sangat bersih dan indah itu seketika menjadi seperti kapal pecah. Zahra begitu terkejut ketika mendapati tatapan kesedihan dari rekan-rekan Departement nya, dengan segera Zahra masuk ke ruangan nya sambil menahan pinggangnya yang begitu sakit..
Zahra pun mengunci diri dalam ruangan nya dan menarik semua blind di ruangan nya. Dan dengan perlahan ia mengangkat ujung kemeja nya untuk melihat pantulan bayangan pinggang nya yang sudah memar berwarna merah keungguan, ia pun memijat dengan pelan nya.
"Apa yang Aku lakukan pada nya? aku begitu kasar memperlakukannya dan tangan ini." marah Ricard kepada diri nya sendiri. Sembari menonjok sebuah lemari kaca yangg begitu besar dan mengakibat kan tangannya robek dan terluka parah hingga banyak mengeluarkan darah. Namun Ricard yang sudah tidak bisa menahan rasa bersalahnya pun akhirnya keluar dan menuju ke ruangan Zahra dengan darah yang sudah berceceran di mana-mana.
Ricard pun menggedor pintu ruangan Zahra berulang kali tanpa mempedulikan tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah, di tambah dengan tatapan para bawahan nya yang menurut nya tidak masalah.
Dirgantara yang melihat tangan sahabatnya yang berdarah pun berniat membantu nya namun dengan cepat Ricard mengangkat tangannya dan mengusir Dirgantara.
Zahra tidak menyangka Ricard akan meperlakukannya dengan begitu kasar nya. Gedoran pintu tersebut membuat Zahra terganggu dan memilih mengalah karena ia tidak ingin di salah arti kan oleh rekan-rekan nya. Zahra pun dengan cepat nya membuka pintu tersebut namun alangkah terkejut nya ia ketika mendapati tangan Ricard yang sudah banyak mengeluarkan darah. "Apa yang kau lakukan dengan tanganmu, Ricard.?" tanya Zahra dengan marah. Namun Ricard lagi-lagi menyeret nya kembali dan membawa nya menuju ruang ganti yang berada tepat di belakang kursih kekuasaan nya.
"Zahra angkatlah baju bagian belakangmu." ucap Ricard seraya meraih salep di laci nakas.
"Apa kau sudah gila!" teriak Zahra kembali dengan suara yang begitu keras.
Ricard mengeraskan Rahangnya. "Kau akan mengangkat nya sendiri atau Aku yang akan membuka pakaianmu." ancam Ricard
Zahra tetap pada pendiriannya.
"Zahra lagi-lagi kau menguji kesabaranku." ucap Ricard. Melihat ke engganan dari Zahra, Ricard pun berjalan mendekat ke arah Zahra dan hendak menarik paksa pakaian Zahra.
__ADS_1
Zahra pun berteriak. "Baiklah!" Zahrapun menggangkat ujung pakaian belakangnya. Ricard pun duduk di tepi ranjang dan mulai mengolesi salep pada lebam di pinggang Zahra. Ricard mengolesi salep dengan perlahan lahan dan tidak berkata apapun.
"Kamu kembali lah ke ruangan mu! jika merasakan sakit katakan itu padaku, aku akan mengantarmu ke rumah sakit." ucap Ricard dan segera memalingkan wajah nya.