Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
122. Kesalahan apa yang ku buat!


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Almira berada di samping Zahra. Sekuat tenaga Almira menyadarkan Zahra dari lamunan nya namun tak kunjung membuahkan hasil. Dan kali ini Almira tidak tahan melihatnya. Almira pun segera menarik pergelangan tangan Zahra dengan kasarnya dan menyeret nya keluar dari ruangan itu.


"Kamu pikir, hanya kamu yang merasa terpukul melihat nya seperti saat ini. Sadar Zahra! yang Kakak butuh kan saat ini, hanya Do'a dan semangat dari kita bukan sebalik nya! Jika kamu tidak bisa mengontrol emosimu lebih baik Kau pergi saja. Aku sama rapuh nya dengan dirimu, Ra. Anggota Keluarga yang aku milikki hanya lah Kakak seorang!" teriak Almira dengan isak tangis yang begitu kencang.


Melihat Zahra tak merespon perkataan nya membuat Almira merasa begitu bersalah. Ia pun maju selangkah dan memeluk erat Zahra dengan erat nya. "Ra, maafin aku, aku sudah berkata kasar kepadamu, tapi aku tidak ingin melihat mu seperti ini. Kita memiliki posisi yang sama di hati Kakak. Aku mohon dengar kan aku sekali ini saja. Kuat kan hatimu, dan makan lah sesuatu untuk menjanggal perutmu. Kami semua menghawatir kan kondisimu dan juga Kakak." jelas Almira dengan terus menerus menangis.


"Al, maaf kan aku, semua ini salah aku, aku lupa dengan penyakitnya hingga membuat nya kelelahan hingga terjadi seperti saat ini. Al, dia pasti sembuh kan?" ucap Zahra dengan lirih sembari menjauh dan menggoyang pelan pundak Almira.


"Ini sudah menjadi takdir Ra! kita hanya bisa sabar dan terus mendo'a kan Kakak. Kamu makan lah sedikit, aku akan masuk untuk memastikan keadaan Kakak stabil." balas Almira dan membersihkan butiran bening di pipi sahabat sekaligus Kakak Ipar nya dan menepuk pelan pundak Zahra dan berlalu masuk kembali ke ruangan di mana Leon berada.


"Kakak, kamu harus kuat, jangan menyarah hanya karena penyakitmu! Kakak, kamu ingat gak, waktu di mana aku sakit parah, kamu selalu membisikkan kata-kata itu terus menerus. Menyemangati aku untuk tidak menyerah. Lakukan itu untukku dan juga Kakak Ipar karena kami sangat mencintaimu." ucap Almira dengan kesedihan yang begitu memiluhkan hati.


Dua minggu sejak Leon pingsan dan tak sadarkan diri hingga melakukan operasi, tidak henti-henti nya Zahra merawat dan menemani Leon di ruangan VVIP yang di atur sedemikian rupa, layaknya ruangan NICU agar seluruh Keluarga besar dapat menjenguk Leon kapan pun. Hari itu pun terasa berat buat Zahra, hampir dua minggu lama nya Leon tak sadarkan diri di tambah dengan masalah perusahannya yang dalam keadaan merugi besar karena pembatalan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahan karena ketidak hadiran nya pada saat penandatangan kontrak kerjasama. Seperti pukulan terbesar selama hidup nya.


"Tuhan, kesalahan apa yang aku buat di masa lalu, hingga kau memberiku cobaan yang begitu berat seperti saat ini! Jika aku harus kehilangan satu perusahanku, tidak mengapa, tapi tolong sembuhkan dia, dia adalah kekuatanku untuk berdiri saat ini." batin Zahra dengan memejamkan mata nya.


Zahra terlihat sangat kacau, ia terus menerus menciumi telapak tangan Leon. Zahra yang dulu nya wanita tegar kali ini seperti wanita yang kehilangan separuh jiwa nya.


Almira yang sejak kemarin tak kunjung terlihat akhirnya keluar dari salah satu ruangan dengan beberapa Dokter yang berjalan di belakang nya. Terlihat jelas kelopak mata Almira menghitam karena sejak kemarin hingga saat ini, dia sekalipun belum juga istirahat atau pun tidur beda hal nya dengan beberapa Dokter yang terlihat berjalan di belakangnya, terlihat seperti baru bangun dari tidur.


Upaya untuk penyembuhan Leon di lakukan Almira dengan bantuan beberapa Dokter ahli dari berbagai Negara. Sejak Almira masuk di ruangan khusus itu, ia tak kunjung keluar dari sana. Adri maupun Ervan merasa cukup kasihan dengan Almira, segala upaya di lakukan untuk kondisi Leon. Almira yang tidak tampak selama dua hari pun akhirnya keluar.

__ADS_1


Ya, Almira dengan beberapa Dokter sedang berdiskusi sejak hari itu dan keluar di hari berikut nya.


"Al, ada apa? sejak aku tiba kemarin, aku melihat mu masuk di ruangan itu, setelah nya aku tak melihat mu lagi dan baru ketemu kamu hari ini!" tanya Adri khawatir mendapati kekasih hati nya baru keluar dari ruangan tersebut.


"Cerita nya panjang Dry! aku akan mengatakan nya tapi belum sekarang. Aku ngantuk Dry, aku ke ruanganku dulu." balas nya singkat dan segera berjalan sembari memijat pelan punggungnya menuju ruangan nya.


Di lain tempat, Aggrita di jemput Ricard menuju Perancis untuk berkumpul bersama kedua Orang tua nya. Setiba nya di Villa Keluarga terlihat Ny.Linda begitu antusias menunggu kedatangan cucu semata wayang mereka dengan raut kebahagian.


" Ommah..." teriak Aggrita dan segera berlari menuju Ny.Linda.


Ny.Linda pun dengan penuh kebahagian berjongkok dan merentangkan tangan nya untuk memeluk cucu nya. "Ommah sama Oppah merindukanmu sayang!" ucap Ny.Linda dan segera menggendong cucu kesayangan nya.


"Mah, maafin Ricard, baru bisa membawa Aggrita ke sini. Ricard baru saja tiba dari New York." jelas nya sembari mencium telapak tangan Ny.Linda.


Ketiga nya pun masuk dan menuju ruang keluarga. Tuan Fikry yang sejak tadi sibuk dengan bacaan nya, belum menyadari kedatangan Anak dan Cucu nya namun dengan cepat nya Aggrita berbisik. "Ommah turunin Grita boleh ya, Grita mau sembunyi biar Oppah marahin Papah karena tidak mengajak Grita kesini." ucap Grita dengan polosnya seraya mendaratkan ciuman di pipi Ny.Linda.


"Baik lah, tapi Grita harus janji, gak boleh berlarian." ucapnya seraya membalas kecupan sang cucu.


Aggrita pun mengangguk tanda ia setuju. Dan berjalan dengan pelan nya menuru belakang sofa di mana Tuan Fikry duduki. Ricard pun tertawa melihat ke jailan Anak semata wayang nya.


Ricard pun berjalan menghampiri Ayah nya yang begitu fokus dengan beberapa berita di tablet nya. " Pah!" sapa Ricard.

__ADS_1


"Cucu Papah mana?" tanya Tuan Fikry sarkas.


"Papah gimana sih, anak juga baru pulang, di tanyain kek, kamu baik-baik saja atau apa, malah di omelin." selah Ny Linda dengan menahan tawa nya.


"Ngapai di belain Mah. Udah hampir 5 bulan Mah, kita gak bertemu si kecil. Semua ini atas kecerobohan nya yang hanya mentingin kerja, kerja dan kerja." kesal Tuan Fikry dan segera memalingkan wajah nya.


"Kerja, kerja dan kerja cape deh!" ucap Aggrita dari balik sofa yang di duduki Tuan Fikry.


Mendengar suara yang sangat ia rindukan membuat Tuan Fikry mencari asal suara tersebut dan dengan cepatnya meletak kan tablet nya di atas sofa. Melihat reaksi suami nya membuat Ny Linda tertawa. "Papah mau kemana?" tanya Ny.Linda.


"Papah seperti mendengar suara Aggrita, Mah!" ucap Tuan Fikry.


"Oppah, Grita merindukan Oppah!" ucap Anak kecil itu kembali tanpa keluar dari balik persembunyiannya.


"Ricard awas aja, jika cucu Papah kenapa-kenapa kamu akan tahu akibat nya." Marah nya lagi karena tidak mendapat kan keberadaan cucu nya.


"Sakit..! Oppah, Grita sakit!" teriak nya kembali.


"Kamu berangkat lah dan jemput cucu Papah! jangan kembali jika kamu tidak membawa nya kesini. Mamah juga kenapa ketawa-ketawa gak jelas. " marah nya kembali dan hendak berjalan meninggalkan Anak dan Istri nya yang sedang menertawakan nya.


"Oppah, Grita merindukan Oppah." ucap Aggrita sembari melingkarkan kedua tangan nya di kaki Tuan Fikry yang hendak berjalan.

__ADS_1


Kali ini tingkah Aggrita berhasil membuat Tuan Fikry membulatkan matanya. Kemarahan nya sirna begitu saja ketika melihat cucu semata wayang nya memeluk kaki nya. Tuan Fikry pun duduk berjongkok dan mencium pipi Aggrita berulang kali karena ia begitu merindukannya.


"Oppah merindukanmu sayang!" ucap nya seraya menggendong Aggrita dan membawa nya menuju lantai dua dan meninggalkan Istri dan Anak nya yang terus menerus menertawakan nya.


__ADS_2