
Leon saat ini sedang mengemasi beberapa barang bawaan nya, ia lebih memilih meninggal kan Perancis dan kembali ke Italya menjalan kan bisnis nya kembali karena ia berpikir jika ia sudah terlalu lama membebani Ervan dengan perusahan nya.
"Van, pesan kan tiket untuk ku saja, aku ingin kembali sekarang juga." ucap Leon saat telpon tersebut di jawab oleh sang asisten.
"Baik, Le. Apa kakak ipar tidak ikut bersamamu?" tanya Ervan yang khawatir jika sesuatu pasti sedang terjadi ketika mendengar suara dingin Leon.
"Jangan mengurusi yang bukan urusan mu!" balas Leon dingin.
Ervan tahu jika saat ini hubungan Leon dan Zahra pasti sedang cekcok, di karena kan ini adalah hari yang di takuti oleh Ervan di mana sifat dingin dan cuek Leon kembali setelah beberapa tahun berubah sejak kehadiran Zahra.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak berbicara lagi, ya sudah aku tutup dulu." balas Ervan dan segera memutus kan sambungan telpon tersebut sepihak.
Zahra seperti tahu dengan isi pikiran Leon, dengan begitu Zahra tak mau lagi mencari Leon kemana pun karena ia berpikir jika saat ini mungkin Leon sedang mengemasi barang-barang nya di hotel. Tanpa membuang waktu pun Zahra segera mengendarai mobil Ricard menuju hotel yang tak jauh dari kediaman Papah Fikry.
Adry yang tak tahan lagi pun, segera menarik Al menjauh dari semua orang. Al terus menerus memberontak, ia tidak ingin berbicara dengan Adry lagi setelah apa yang Adry lakukan terhadap nya beberapa saat lalu.
"Lepasin! gak ada yang perlu di bicara kan lagi." ucap Al dengan kesal nya. Namun lagi-lagi Adry tak mengubris perkataan Al dan terus menarik nya menuju mobil.
"Masuk!" ucap Adry.
"Aku gak mau! lepasin tangan ku, Adry." teriak Al dengan kesal.
"Aku bilang masuk, Al! jangan memancing ku lagi." ucap Adry dengan sorot mata tajam. Al pun merasa ngeri saat melihat tatapan tajam dari Adry, tak ingin memperkeru suasana Al pun memilih mengalah.
__ADS_1
Setelah memasti kan Al masuk, Adry pun segera masuk di bangku kemudi. Hening suasana di dalam mobil itu sangat lah hening, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kedua nya.
"Aku mau turun!" teriak Al saat Adry melajukan mobil tersebut di atas kecepatan rata-rata.
"Mau kamu apa sih, Adry? jika kamu gak mau turunin aku di sini, aku akan loncat sekarang juga." ucap Al dengan ancaman.
Mendengar itu Adry pun menepih kan mobil nya, Adry menarik tengkuk Al dan mencium nya dengan kasar. Al berusaha mendorong tubuh Adry namun kekuatan nya kalah dengan kekuatan Adry. Ia pun hanya bisa pasrah dan membiar kan apa yang di lakukan oleh Adry. Merasa sudah cukup Adry pun melepas kan panggutan nya.
Dengan marah Al pun menampar Adry. "Aku benci kamu Dry!" teriak Al dan memaling kan wajah nya menatap ke arah jendela.
Adry menyesali apa yang barusan ia lakukan terhadap sang kekasih namun ia terlalu cinta dan tidak ingin kehilangan sang kekasih. "Al, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaaf kan ku?" tanya Adry dengan frustasi.
"Yang perlu kau lakukan menjauh dari ku, karena aku tidak ingin lagi melanjut kan hubungan ini!" ucap Almira tanpa melihat ke arah Adry.
"Aku akan mengantar mu kembali ke rumah Paman Fikry." ucap Adry kembali dan mulai mengemudi menuju kediaman Papah Fikry kembali. Al membuang wajah nya menatap ke arah jendela karena ia tidak ingin Adry melihat nya menangis.
Sesampai nya di sana Adry pun menyuruh Al untuk turun. "Turun lah!" ucap Adry tanpa melihat ke arah Al. Al pun turun, dengan wajah sembamnya.
Adry pun melajukan mobil nya menuju bandara. Di pikiran Adry saat ini adalah menjauh sejauh mungkin dari Al agar tidak ada yang tersakiti lagi.
"Le, aku tahu kamu di dalam. Tolong buka pintu nya, semua ini hanya salah paham saja." ucap Zahra tepat di depan pintu kamar Leon.
Leon dengan malas nya membuka pintu tersebut. "Katakan! dan setelah nya pergi lah dari sini." ucap Leon dengan dingin nya.
__ADS_1
Zahra pun berhamburan memeluk Leon, karena ia berpikir jika beberapa pekan yang lalu ia sudah menyakiti Leon dengan menikah bersama Ricard.
"Kamu tahu gak, saat pernikahan ku dengan Ricard beberapa pekan lalu, aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan mu lagi, aku takut jika kau akan membenci ku, namun Ricard lah yang mendorong ku untuk tetap kembali ke sisi mu, mungkin aku wanita yang begitu egois, namun pernikahan itu hanya semata mata untuk menyelamat kan Ommah dan Grita yang di sekap oleh Arindi. Saat itu aku tidak dapat memikir kan apa pun selain menerima tekanan dari Arindi." ucap Zahra dengan berlinang air mata.
Leon tetap diam dan tidak membalas pelukan Zahra. "Maafin aku Le, dan mengenai pernikahan kita, aku tidak bermaksud menolak nya namun aku tidak ingin melangsungkan pernikahan yang mewah di karena kan aku tidak berani berbahagia di atas kesedihan Papah Fikry dan Mamah Lindah. Aku ingin mengada kan pesta pernikahan tertutup yang hanya di hadiri kerabat terdekat." jelas Zahra panjang lebar.
"Atau mungkin ini cara mu untuk bisa berpisah dengan ku dan kembali bersama wanita iblis itu! dan jangan bilang jika jatung bertegub kencang saat melihat Arindi lagi" celetuk Zahra ingin melihat reaksi Leon.
"Jangan ngada-ngada deh! sana pergi, gak lucu!" balas Leon sembari menyentil jidad Zahra dan berjalan menuju balkon.
Melihat itu Zahra pun tersenyum, ia ingin menguji Leon lagi, walau ia sebenar nya tahu jika Leon sangat mencintai nya.
"Ohh jadi beneran kamu masih mengharap kan nya. Baiklah jika kamu tidak ingin menjadi Ayah sambung buat Aggrita, dan alangkah baik nya aku meminta Reimont saja untuk menikah dengan ku." ucap Zahra sembari berbalik untuk meninggal kan Leon. Namun belum sempat melangkah Leon langsung memeluk nya dari belakang. "Jika kamu berani melakukan nya, jangan salah kan aku untuk menghancur kan nya." ucap nya dengan penekanan.
"Mana mungkin aku berani, bisa-bisa aku mati berdiri saat melihat kemarahan mu. Dan satu lagi aku tuh gak nyangka jika CEO dingin bagaikan es balok seperti mu bisa sebucin ini." balas Zahra dengan ledekan.
"Atau mungkin kamu beneran mau nikah sama Reimont! hingga kalian di nobat kan sebagai keluarga yang begitu harmonis saat di America waktu itu." ucap Leon dengan kesal nya mengingat kedekatan Zahra bersama Reimont.
"Kalau cemburu bilang aja! gak usah ngungkit ngungkit masalah lalu deh, toh aku sama Reimont hanya sebatas sahabat doang gak lebih kok. Kalau kurang yakin, aku akan menghubungi nya dan tanya kan sendiri ke orang nya." jelas Zahra dengan cemberut.
"Yang pancing siapa, yang ngambek juga siapa." balas Leon.
Kedua nya pun saling bersitatap hingga jarak kedua nya sangatlah dekat, Zahra dapat mencium aroma tembakau dari deru nafas Leon. Dan dengan lembut nya Leon menyatukan bibir nya dengan bibir Zahra. Ciuman itu penuh dengan kehangatan, Leon pun memperdalam ciuman tersebut.
__ADS_1