Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
155. Baby kembar


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat nya, tidak terasa hari bersalin Zahra pun tinggal beberapa hari lagi dari waktu yang di katakan sang dokter.


"Dad, sakit!" ucap Zahra dengan suara parau nya.


"Bun, apa mungkin Bunda akan lahiran sekarang? tapi kan kata dokter Bunda lahiran nya 3 hari kemudian." ucap Leon yang tidak yakin akan sang istri yang akan lahiran.


"Bunda juga gak tahu Dad, tapi perut Bunda sakit." balas Zahra dengan keringat dingin.


"Daddy bawa Bunda ke rumah sakit aja ya, habis nya Daddy takut terjadi sesuatu terhadap kalian berdua." ucap Leon yang khawatir dengan kondisi sang istri.


Setelah menyiap kan segala sesuatu, Leon pun meminta bantuan bibi untuk membawa kan segala keperluan sang istri ke mobil. Secepat mungkin Leon pun mengemudi kan mobil nya menuju rumah sakit. 30 menit kemudian mobil tersebut sudah berada tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Nampak Almira sudah menunggu kedatangan mereka dengan beberapa dokter.


"Nyonya, seperti nya anda akan segera lahiran, di lihat dari air ketuban yang sudah pecah." ujar dokter Andra dengan tersenyum.


"Lakukan yang terbaik, aku percaya kan anak dan istri ku pada mu Andra." ucap Leon melihat ke arah dokter Andra.


"Berdoa lah semoga operasi nya berjalan lancar." balas dokter Andra dan segera menyuruh beberapa perawat mendorong brankar Zahra memasuki ruang operasi.


"Kakak, tenang lah! kakak ipar pasti baik-baik saja." ucap Al menenang kan sang kakak.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini, kakak ingin mengabari Ayah Laks dulu." balas Leon dan pergi berlalu untuk menelpon Ayah mertua nya.


"Hallo Ayah, Zahra udah mau lahiran dan sekarang ia berada di ruang operasi." jelas Leon kepada Ayah mertuanya.


"Baik lah Nak, kami akan segera kesana. jika terjadi sesuatu cepat kabari Ayah ya." balas Ayah Laks dengan semburan kebahagian di wajah nya.

__ADS_1


Tiga jam kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka. Tampak dokter Andra tersenyum bahagia. Melihat itu Almira beserta Ervan yang baru tiba pun segera menghampiri sang dokter.


"Apa operasi nya lancar, dok?" tanya Al dengan raut wajah biasa-biasa saja.


"Ibu dan kedua bayi nya baik-baik saja, sebentar lagi akan segera di pindah kan ke bangsal." jelas dokter Andra dan berlalu pergi.


Al dan juga Ervan kaget bukan kepalang, bagaimana tidak keponakan nya bukan hanya satu melain kan 2. "Kak apa aku tidak salah dengar?" tanya Al kepada Ervan yang masih belum percaya jika anak sang kakak kembar.


"Seperti nya tidak, ayo kita kabari Leon secepat nya, ia pasti akan sangat bahagia jika mengetahui anak nya bukan hanya satu melain kan dua." balas Ervan sembari menarik Al pergi mencari keberadaan Leon yang entah kemana sejak tadi.


"Kakak, anak kamu dan kakak ipar." teriak Al saat melihat sang kakak sedang membeli sesuatu di kantin rumah sakit.


Mendengar itu jantung Leon berdegub kencang, ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada sang cabang bayi dan istri nya, seketika kantong kresek yang ia pegang pun terjatuh. "Al, apa terjadi sesuatu terhadap anak dan istri ku?" tanya Leon khawatir.


"Kak, selamat ya, anak mu bukan hanya satu melain kan 2." jelas Al dan itu berhasil membuat Leon bersujud syukur.


"Selamat ya Le, semoga baby dan ibu nya sehat selalu." ucap Ervan.


"Makasih ya, berkat kalian aku tidak akan pernah merasa sebahagia ini." balas Leon sembari memeluk kedua nya.


"Ayo, kakak ipar pasti sedang mencari kita saat ini." seru Al sembari menarik kedua pria tersebut. Mereka pun berjalan dengan bahagia menuju ruangan VVIP.


Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut, namun wanita yang berada di pembaringan belum juga siumanan. "Al, kok kakak ipar mu belum juga bangun! apa terjadi sesuatu kepada nya?" tanya Leon khawatir karena ini sudah lebih dari dua jam pasca operasi Zahra tak kunjung sadar.


"Aku panggil dokter Andra dulu, karena hanya ia yang tahu mengenai kondisi kakak ipar." jelas Al dan segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Kedua wanita berseragam putih itu pun dengan tergesa gesa berjalan menuju ruang perawatan Zahra.


"Dok tolong periksa kondisi istri saya!" ucap Leon dengan suara berat nya.


Dokter Andra pun mulai memeriksa kondisi Zahra dan menurut nya ini sungguh aneh, pasca operasi Zahra masih menunjuk kan ia baik-baik saja, tapi sekarang kenapa terjadi malah sebalik nya.


"Dokter Al, bisakah kita bicara di luar sebentar?" tanya sang dokter dan itu membuat Leon takut jika terjadi sesuatu terhadap sang istri. "Katakan apa yang sebenar nya sedang terjadi, saya suami nya, saya berhak tau mengenai kondisi istri saya." ucap Leon datar.


"Ada beberapa hal yang ingin saya diskusi kan dengan dokter Al terlebih dahulu sebelum mendiaknosa Nyonya Zahra." jelas sang dokter kepada Leon yang tampak ketakutan.


"Kakak tenang lah , semua nya pasti baik-baik saja, kakak hanya perlu berdoa." seru Al untuk menenangkan sang kakak.


Kedua wanita itu pun segera keluar dari ruangan itu, dokter Andra pun menjelas kan.


"Kemungkinan Nyonya Zahra mengalami Deep vein thrombosis (DVT), ini merupakan kasus penyakit yang timbul setelah operasi Caesar. Deep vein thrombosis atau bekuan darah di kaki Nyonya, yang dapat menyebabkan nyeri dan bengkak, dan bisa sangat berbahaya jika menyebar ke paru-paru atau emboli paru. Maka dari itu saya memohon untuk anda membujuk Tuan Leon, untuk menandatangi surat persetujuan penindakan secara khusus untuk kasus Nyonya Zahra." jelas sang dokter dan itu membuat Al syok.


"Lebih cepat lebih baik." ucap dokter Andra kembali.


Al pun mengumpul kan keberanian untuk mengatakan apa yang sedang di alami sang kakak ipar saat ini.


"Al, apa yang terjadi?" tanya Leon dengan isakan tangis nya.


"Kakak ipar mengalami pembekuan darah, dan itu sangat beresiko tinggi bagi nyawa nya, maka dari itu kakak harus menanda tangani surat penindakan khusus untuk kakak ipar, jika kakak tidak menanda tangani nya, takut nya pembekuan darah itu akan menyebar ke paru-paru kakak ipar dan itu akan fatal bagi kesembuhan nya." jelas Almira dengan besar hati.


"Lakukan yang terbaik, kakak tidak ingin kehilangan Zahra, apa pun yang terjadi kalian yang akan bertanggung jawab atas nyawa nya." ucap Leon dengan penekanan.

__ADS_1


"Baik Tuan, tapi sebelum penindakan berlangsung anda harus menanda tangani surat persetujuan ini terlebih dahulu." balas dokter Andra sembari memberi kan selebaran itu kepada Leon.


Leon pun menanda tangani surat tersebut.


__ADS_2