Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
47. Mengalami kontraksi


__ADS_3

Setelah pertengkaran kedua nya, Zahra pun menimang nimang keputusan nya, dan untuk menerima Ricard kembali. Mengingat usaha Ricard selama sebulan lebih yang sering mengirim nya sarapan yang bergizi, membuat hati nya yang awal begitu keras menjadi lembut dengan apa yang di lakukan Ricard selama ini kepada nya.


Kedua nya pun hidup dan tinggal satu atap, Ricard dengan sigap nya menyiap kan segala keperluan Zahra.


Setelah menyudahi pembicaraan Ricard pun menyuruh Zahra membersihkan tubuhnya, Zahrapun masuk ke kamarnya sedangkan Ricard menyiapkan makan malam untuknya dan juga Zahra.


Setelah Zahra selesai mandi dan berdandan, Ricard pun memanggil Zahra untuk makan malam, mereka makan dalam diam yang terdengar hanya suara sendok dan garpu.


Ricard begitu bahagia bisa hidup sederhana bersama Zahra tanpa ada yang tahu mengenai keberadaan mereka.


Ricard yang sudah selesai makan berjalan menuju ruang tamu sedangkan Zahra yang membersihkan peralatan makan mereka, karna keduanya sudah membagi tugas. Jika Ricard yang memasak Zahralah yang membersihkan peralatan makan dan sebaliknya. Zahra pun ikut duduk bersama Ricard di ruang tamu.


"Zahra bolehkah aku berbaring di pangkuan mu." pinta Ricard.


Zahra tanpak terbelalak mendengar permintaan Ricard namun Zahra berpikir sejenak dan memperbolehkan Ricard tidur di pangkuan nya sambil mengelus perut nya.


"Zahra terima kasih, kamu sudah mau mengizinkan aku untuk menafkahi mu dan juga anak kita, ini adalah hal yang ku nantikan selama 6 bulan mencarimu." ucap Ricard dengan pelan nya.


Zahra pun terhanyut dan mulai mengelus puncak kepala Ricard, hingga kedua nya tertidur di ruang tamu. Ricard terbangun pukul 02.00 dini hari, alangkah kaget nya ia melihat Zahra yang membiarkan nya tidur di pangkuan nya selama beberapa jam.


Ricard pun beranjak dengan pelan nya agar Zahra tidak bangun, ia pun menggendong Zahra menuju kamar, setelah menempat kan Zahra di ranjang, Ricard pun duduk di samping Zahra dan mengelus pipi Zahra dengan lembut nya.


"Zahra aku tak menyangka bisa sedekat ini dengan mu, aku berjanji akan selalu menjaga dan mencintai mu seumur hidup ku, dan akan membahagia kan kalian berdua kelak nanti." gerutu Ricard di samping Zahra yang tertidur dengan pulas nya.


Kini tepat 9 bulan Zahra mengandung, Ricard dengan sigap menjaga Zahra hingga pada malam di mana Zahra merasa kan sakit yang luar biasa. Ricard yang sudah selesai menyiap kan makan malam, terlonjak kaget mendengar teria kan Zahra yang merinti kesakitan.


"Zahra ada apa denganmu,? tanya Ricard yang begitu khawatir ketika melihat Zahra yang begitu pucat pasif saat merinti kesakitan.


"Ricard perut ku sakit sekali, sakit Ricard." pekik Zahra di ikuti dengan butiran bening yang sudah mulai membasahi pipi nya.


"Aku akan membawa mu ke rumah sakit, mungkin kontraksi yang kamu rasa kan saat ini karena kamu akan lahiran." ucap Ricard, ia pun menggendong Zahra dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Sampainya di sana, Ricard menggendong Zahra masuk ke rumah sakit dan meminta pertolongan. Zahra pun kini di tangani oleh beberapa dokter dan juga perawat. Ricard pun pergi menyelesaikan administrasi.


kali ini mereka mencari Zahra di berbagai rumah sakit, karna terhitung dari bulan sejak Zahra meninggal kan Prancis, ini saat nya Zahra lahiran.


Donny dan orang-orang nya mencari Zahra di beberapa rumah sakit yang ada di Jerman. Adriyansyah mencari Zahra di rumah sakit Calivornia sedangkan Fahrezah mencari Zahra di rumah sakit yang ada di Italya.


Fahrezah sudah mencari kurang lebih 10 rumah sakit terbesar namun dia tidak menemukan Zahra. Ketika Fahrezah ingin kembali dia mendengar beberapa perawat berkata.


"Kasihan sekali gadis itu, sudah mau lahiran tapi ia hanya di temani oleh pria yang belum ada ikatan apa pun dengan nya!" ucap beberapa orang perawat yang sedang terlibat dalam perbincangan.


Fahrezah pun berbalik dan bertanya. "Dimana gadis yang kalian bicarakan?" tanya Fahreza dengan dingin nya.


Ketiga perawat itu langsung terdiam saat Fahrezah menatap tajam ke arah mereka.


salah seorang perawat pun mengantar kan Fahreza ke ruang Operasi.


Fahrezah menitih kan butiran bening ketika mendapati sang Adik sedang berjuang sendiri dan di bius karena akan melakukan operasi.


Fahreza mengenakan baju berwarna hijau dan langsung mendekati Zahra dan berulang kali mengecup kening sang Adik .


Dokter pun melakukan operasi, awal nya operasi berjalan lancar namun tiba-tiba terjadi kontraksi.


"Ada apa ini Dokter??" tanya Fahreza khawatir.


"Tuan tolong Anda keluar dulu." kata salah seorang perawan. "Biarkan dokter menangani pasien." ucap perawat itu kembali.


Fahrezah pun mengikuti perkataan perawat. dan menunggu di luar, sudah hampir tiga jam dokter menangani Zahra namun tak kunjung keluar.


Ricard yang sudah selesai mengurus administrasi pun hendak kembali ke ruang operasi, namun Ricard kaget melihat Fahrezah ada disana. Ricard mengurung kan niatnya untuk menemani Zahra. Ricard hanya melihat dari kejauhan saja.


Tiba-tiba Dokter keluar dari ruang Operasi. "Tuan, apakah Anda kerabat pasien?" tanya Dokter.

__ADS_1


"Ya, saya Kakaknya." balas Fahreza singkat.


"Tolong panggil kan suami pasien karena ada hal yang ingin saya bicara kan dengan nya." ucap dokter kembali.


"Maksud anda apa dokter,? saat saya tiba di sini tidak ada seorang pun di sini selain saya." balas Fahreza dengan ragu.


"Ya sudah, begini Tuan, kami sudah berusaha sebisa mungkin, namun kali ini Anda harus memilih antara Ibu dan Anak." jelas sang dokter.


Doker menjelaskan secara detail kondisi Zahra dan bayi nya kepada Fahrezah, kini Fahrezah dalam hati yang begitu dilema dan berpikir keras atas apa yang dokter katakan.


Disisi lain Ricard Alziro mengutuk dirinya. Ricard tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Zahra dan Anaknya.


"Tuan, Nyonya Zahra ingin bertemu dengan Anda." Fahrezah pun masuk ke ruang Operasi namun dia tidak bisa menahan tangisnya dan langsung memeluk sang Adik di meja Operasi.


"Kakak maafkan Aku, Aku mohon selamat kan baby Aggrita, jika kelak Aku tidak ada anggaplah dia sebagai diriku. Sayangi baby Aggrita seperti kalian menyayagi diriku, Aku mohon selamat kan Anakku, dan beritahu Ricard jika aku sangat bahagia selama beberapa bulan menghabis kan waktu bersama nya." ucap Zahra dengan lirih nya.


Fahreza mematung 100% ketika mendengar Ricard tinggal bersama Zahra.


"Jadi selama ini Ricard tahu mengenai keberadaan mu! baik lah aku akan membuat perhitungan dengan nya saat ini." pekik Fahreza dengan marah nya.


"Aku mohon jangan marah kepada Ricard, dan mengenai Anak ini, ia berhak hidup dia tidak bersalah. Beritahu Ayah dan juga lain nya ketika Kakak kembali membawa Anakku dan jangan menyalahkan Ricard atas Apa yang terjadi nanti." ucap Zahra dengan lemas nya.


Ketika Zahra menyebut nama Ricard, Fahreza begitu marah namun dia tidak mau terlihat oleh Adiknya bagaimana pun Ricard sudah bertanggung jawab dan menjaga Zahra selama beberapa bulan ini.


"Sayang Kakak tidak bisa memilih antara Kamu dan Babymu." kata Fahrezah dengan isak tangisnya.


"Kakak Aku mohon, Ahgggg sakit." Zahra merinti kesakitan.


"Dokter tolong selamat kan ad-" perkataan Fahreza terhenti ketika melihat Zahra menarik ujung kemeja nya dengan wajah memohon.


"Selamat kan Bayi nya!" ucap Fahrezah dengan wajah tidak merelakan Zahra.

__ADS_1


"Tuan tanda tangani ini surat persetujuan pengambilan tindakan yang di lakukan dokter." ucap sang perawat dan Fahrezah pun menandatangani surat persetujuan.


"Anda keluar lah, kami akan segera melakukan Operasi." ucap perawat itu kembali.


__ADS_2