
Kali ini Aggrita berhasil membuat semua yang ada di kediaman Leon tampak tertawa geli ketika mendengar perkataannya yang berhasil membuat Fahreza bungkam.
"Hahaha... Emang enak di gituin." timpal Adri dan Alfian bersamaan dan di selingi tawa oleh keduanya.
"Sayang gak boleh gitu, kasian loh Paman Eza di ledekin." ucap Leon dengan menahan tawa.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja! gak usah di tahan segala." balas Reza dengan sindiran.
" Hahaha...ada yang ngambek nih!" dan kali ini Donny yang bicara.
"Sumpah ya, baru kali ini aku di gituin dan lebih parahnya di bungkam oleh anak loh." ucap Fahreza dengan kesal kepada Leon dan semua pun tertawa geli ketika mendapati Fahreza yang sudah mulai kesal kepada mereka.
"Makanya, Paman kalau ngomong di saring dulu, jangan suka ceplas ceplos gitu, biar gak di ledekin." timpal Aggrita kembali.
"Waaw... belajar dari mana cara ngomong kayak gitu. Sungguh sakit hati Paman mendengar perkataanmu, sayang." balas Alfian dan kembali menertawakan Fahreza.
"Don, pasti kamu deh yang ajarin si kecil ngomong kayak barusan." timpal Adri dengan tawa.
"Emang tampang gue yang keren gini, punya mulut emperan, gak kali. So.. selama si kecil tinggal bareng aku sama Prily kita selalu ajarin ia deng baik. Kalau gak percaya, tanya aja sama si kecil. Iya gak sayang." balas Donny dengan bangganya.
"Papah Ony selalu ajarin Grita yang baik-baik kok, emang Paman sekalian mau tau siapa yang ngajarin Grita ngomong kayak barusan." jelas sang anak dengan polosnya.
"Emang siapa yang ajarin anak Deddy ngomong kayak gitu!" tanya Leon dengan tersenyum.
__ADS_1
"Semuanya sering ajarin Grita baik-baik kok, Deddy. Cuman Grita sering liat aja Paman Eza ngomong sama Paman Al kayak gitu. Jadi Grita hanya ikutin perkataan Paman Eza aja." jelas sang anak dengan polosnya namun kali ini semua mata tertuju kepada Fahreza karena mereka tidak percaya jika Fahreza yang biasanya jarang sekali berbicara memiliki cara bicara seperti itu.
"Emang Paman Eza bicara apa ke Paman Al waktu itu." tanya Donny kembali.
"Ceritanya panjang banget, terus tiba-tiba Paman Eza bicara kayak gini ke Paman Al. Kamu jadi Adik yang baik dikit napaa, jangan ngeselin, lama-lama gue buang loh ke laut, terus bicaramu juga jangan suka ceplas ceplos gitu." jelas Aggrita dengan meniru cara bicara Fahreza hingga memperagakan cara Fahreza yang marah kepada Alfian.
"Waahh..parah kamu Za! terbuktikan siapa yang berhasil membuat si kecil berbicara seperti barusan dan ternyata kamu sendiri yang memberikan contoh yang tidak baik buat si kecil." ucap Donny dengan sindiran namun di selingi tawa.
Perkataan Aggrita kali ini membuat mata Fahreza membulat karena begitu terkejut mendengar namanya yang memberikan contoh kepada keponakannya.
"Sayang, gak boleh tiruin cara bicara orang yang lebih tua, apa lagi bicara kayak barusan, itu gak sopan namanya. Misalkan Grita dengar orang besar ngomong kayak gitu jangan di tiruin apa lagi kayak barusan. Ok, karena Deddy sama semuanya gak mau Grita jadi anak yang gak sopan sama orang yang lebih tua." jelas Leon dengan menanamkan perilaku baik kepada calon anak sambungnya.
"Grita janji gak bakalan ngomong kayak gitu lagi. Paman, Grita minta maaf ya, Grita udah gak sopan bicara sama Paman barusan." ucap Aggrita dengan menunduk dengan rasa bersalahnya.
Mendengar Fahreza yang tidak mau memaafkannya anak itu pun melepaskan tangannya dari pundak Leon dan berjalan menuju Fahreza dengan raut wajah sedih.
"Paman jangan marah sama Grita, Grita mau temenan sama Paman, jadi Paman gak boleh marah sama Grita. Paman harus temenan sama Grita. Okey.!" ucap sang anak dengan menekan segala perkataannya dan menarik narik kaos Fahreza.
"Hhmm.. buah gak jatuh jauh dari pohonnya. Sungguh renkarnasi dari ibunya, yang gaya bicaranya selalu di tekan dan gak ngebolehin kita menang darinya." timpal Adrian dan di selingi tawa oleh semuanya.
"Baiklah, Paman akan berteman dengan Grita tapi Grita cium Paman dulu, baru Paman mau temenan sama Grita." ucap Fahreza dan segera berjongkok di depan Aggrita.
"Dek, kalian pasti belum makan siang kan! tadi kakak mampir di restoran favorit kita namun makanannya ketinggalan di mobil. Tolong ambilin dong." ucap Leon kepada Almira.
__ADS_1
"Baiklah kakak, kunci mobilnya!" balas Almira dengan menyodorkan tangannya sembari menunggu kunci mobil.
Almira dan Prily pun segera berjalan keluar halaman dan setelahnya keduanya pun segera menyiapkan makan siang. Namun mereka belum juga makan karena menunggu Leon yang sedang berbicara dengan si kecil di pojok kolam renang.
"Deddy janji gak bakalan ninggalin Grita sama Bunda karena Grita dan Bunda sama seperti Aunty orang yang sangat penting dalam hidup Deddy. Ya sudah, kasiang Paman dan lainnya sedang menunggu Deddy sama Grita buat makan siang. Grita pasti laper." jelas Leon dan segera menggendong anak sambungnya.
Semua pun akhirnya lega karena mereka sedari tadi menahan lapar karena menunggu gadis kecil mereka beserta Leon.
"Maaf membuat kalian menunggu dengan lamanya." ucap Leon dan segera mendudukkan Aggrita di kursi samping miliknya.
"Tidak masalah, apa sih yang gak untuk gadis kecil kita." balas Alfian.
Setelah selesai makan Prily dan juga Almira membersih peralatan makan siang mereka namun Leon yang sejak tadi duduk sudah tampak gelisa karena ia melupakan Zahra sendirian di Apartement.
"Aku pamit dulu ya, Zahra pasti lagi nungguin aku buat makan siang." jelas Leon kepada yang lainnya.
"Ya udah cepetan pulang, sebelum kau di cuekin oleh penghuni Apartement." balas Fahreza sembari tertawa.
Leon pun segera pergi setelah berpamitan dan kembali ke Apartement sebelum Zahra menyadari kepergiannya yang sudah cukup lama. Sesampainya di sana ia begitu merasa bersalah karena setibanya di Apartement ia mendapati pemandangan di mana Zahra yang sudah tertidur di meja makan dengan beberapa hidangan yang pastinya di masak oleh Zahra sendiri.
"Sayang, kok tidur di sini sih.!" ucapnya dengan pelan seraya duduk berjongkok di depan Zahra.
"Kamu udah pulang! Maaf aku ketiduran, habisnya aku nungguin kamu sejak tadi, aku mengira kamu pergi lagi dan ninggalin aku untuk kesekian kalinya." balas Zahra dengan mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Jangan ngomong kayak gitu lagi, aku gak suka kamu ngomong kayak gitu, aku barusan abis meating bersama Ervan dan lainnya. Maafin aku juga, yang gak ngabarin kamu sejak tadi. Ya sudah, aku ke kamar bentar buat bersihin tubuhku baru setelahnya kita makan tapi kamu juga jangan lupa bersihin wajahmu." ucap Leon kembali dan tidak lupa mengecup puncak kepala Zahra dan berjalan masuk ke kamar.