Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
131. Menjadi pendonor.


__ADS_3

"Tidak mungkin, mana bisa ada kecocokan antar mereka, Arrrgghh." teriak Adry tak habis pikir dengan takdir.


"Apa yang harus kita lakukan saat ini? dan tidak mungkin jika kita melakukan persiapan tapi mempelai pria tidak bisa hadir saat pesta pernikahan. Terlebih lagi jika operasi itu berlangsung kita juga tidak mungkin mengambil resiko terhadap mereka paska operasi." tanya Adry kembali.


Mereka pun terdiam cukup lama sebelum seseorang mendorong pintu dengan keras nya dan berdiri dengan sorot mata yang begitu tajam. Mereka pun terlonjak kaget dan mengedar kan pandangan mereka untuk melihat siapa yang dengan beraninya masuk tanpa permisi. Alangkah terkejut nya mereka ketika mendapati seorang wanita dengan tatapan tajam melihat mereka.


Semua pun serempak berdiri dari duduk mereka. Almira yang menyadari tatapan tajam dari orang di depan nya segera menunduk kan kepala nya, karena ia tidak sanggup berkontak mata dengan orang tersebut. Begitu pun dengan ke empat pria di samping nya.


Flashback.


"Sayaang, kamu mau makan apa! aku akan membelikan nya untuk mu." ucap nya kepada pria di depan nya dengan senyum mengembang.


"Aku mau makan kepiting, tapi pedesan dikit ya, abis nya aku bosan makan-makan hambar dari rumah sakit." balas nya dengan memohon kepada wanita di depan nya dengan wajah memelas.


"Ok, pesanan mu akan tiba dalam 30 menit kemudian, dan tolong Tuan Muda untuk bersabar hingga aku kembali dengan membawa makanan yang di pesan." ucap wanita itu sembari mengecup bibir pucat pria di depan nya.

__ADS_1


Setelah mengambil tas selempang berukuran kecil ia pun segera melenggang keluar dari ruangan itu dan meninggalkan pria yang sedang duduk di atas ranjang tersebut dengan raut wajah bahagia tak lupa dengan senyum lebar nya.


Gadis itu pun berjalan di koridor rumah sakit, ia awal nya berjalan dengan bahagia mengingat senyum dari pria yang teramat di cintai nya. Namun saat melewati ruangan salah seorang dokter utama yang menangani kekasih nya, ia tampak mendengar perdebatan yang tidak biasa hingga terdengar gebrekan meja yang cukup keras, ia pun tidak ambil pusing karena tidak mungkin jika ia harus menguping.


Ia pun melanjutkan langkah nya namun baru beberapa langkah ia mendengar suara yang sangat di kenal nya, ia pun penasaran dan kembali mendekati ruangan itu. Dan benar ada nya, suara yang ia dengar barusan adalah suara orang terdekat nya.


Ia pun berdiri cukup lama di depan pintu itu, namun informasi yang ia tangkap hanyalah mengenai kecocokan sum-sum tulang nya yang sama dengan Leon, mendengar tidak ada lagi perdebatan ia pun segera mendorong kasar pintu itu dengan kuat.


Flashback off.


"Lakukan operasi saat ini juga, dan aku berharap kalian tidak akan mengatakan kepada nya siapa pendonor untuk nya." ucap nya dengan tegas namun tersirat suatu penekanan di akhir ucapan nya.


"Dokter, seharus nya anda tahu dengan apa yang saya katakan tadi, siapkan segala nya sekarang juga, dan untuk kalian jangan sekali kali mencoba mengagalkan operasi ini atau pun mengatakan ini semua kepada nya. Jika itu terjadi kalian pasti tau akibat dari semua kecerobohan kalian." ucap nya kembali dengan dingin nya sembari menunjuk ke arah mereka sebelum meninggalkan ruangan itu karena ia harus segera kembali dengan pesanan kekasih nya.


Setelah melihat kepergian nya, mereka pun terduduk dengan lemas nya, entah apa yang ada di pikiran mereka kali ini, karena selama mengenal Zahra baru kali ini mereka melihat ketajaman dari mata seorang Zahra yang biasa nya memancar kan keteduhan dari bola mata nya namun nyatanya ia bisa berubah menjadi sosok yang lebih kejam dari Leon yang mereka kenal.

__ADS_1


"Kenapa kamu menahan ku, aku berniat menjelaskannya kepada Zahra sebelum semua nya terlambat." ucap Al dengan kesal nya kepada Adry karena sikap nya cukuo aneh.


"Aku menyelamat kan kamu dari amukan gadis keras kepala itu, tidak ada yang akan berubah sekalipun kau menangis darah kepada nya. Aku sudah bisa menebak nya saat di menatap ke arah kita, maka dari itu aku menahan mu." jelas Adry dengan sedikit lembut kepada Al.


"Lalu! apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Ervan yang binggung akan situasi saat ini.


"Kita ikuti kemauan nya, semoga saja setelah ini kita bisa bernapas lega dan tidak mendapat ancaman ataupun tatapan tajam dari nya." balas Adry dengan lantang nya tanpa memperdulikan tatapan tajam dari ke empat orang tersebut.


"Udah, lakukan saja. Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada nya. Tapi tunggu dulu, apa ada efek samping bagi calon pendonor setelah pasca operasi?" balas nya dan segera melayang kan pertanyaan kepada Dr. Gerald.


"Pasti ada dan efek samping dari pendonor pasca operasi transpalasi sum-sum tulang berupa peningkatan sel darah putih yang dapat menyebabkan leukimia dan juga penuaan dini, namun semua itu berjangka panjang jadi bisa kita cengah dengan beberapa cara seperti pola hidup sehat dan juga mengonsumsi beberapa obat-obatan yang khusus untuk pencegahan." jelas dr.Geral dengan uraian yang cukup panjang.


"Apa lagi ini! sungguh takdir sedang mempermain kan kita kali ini. Di lain sisi kita tidak ingin terjadi sesuatu kepada nya namun kita juga tidak bisa mencengah nya." pekik Ervan tak kalah mengacak acak kan rambut dengan segala pemikiran yang sedang berkecamuk di kepala nya.


"Bagaimana cara kita menyampaikan ini kepada Leon? aku tidak berani mematah kan keinginan nya untuk menikah lusa nanti." pekik Ervan kembali masih dengan mimik wajah yang terlihat tidak bersemangat.

__ADS_1


"Aku akan mencoba berbicara kepada nya." seru dr.Geral dengan santai.


"Semoga berhasil dan semoga juga kamu keluar dari sana masih dalam keadaan hidup." timpal Adry mengingat kemarahan Leon beberapa hari lalu dan itu semua terekam jelas di pikiran nya, ia pun bergifik nyeri mengingat tatapan tajam setajam belati yang Leon perlihat kan kepada nya.


__ADS_2