Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
135. Kehilangan mu adalah kelemahan ku.


__ADS_3

Zahra memutar bola mata nya, menatap tajam ke arah Leon. "Berhentilah bergurau, tidak lucu!" ketus Zahra dengan kesal nya.


"Siapa yang bergurau dengan mu, aku sedang tidak melucu!" balas nya tak kalah tajam dengan sorot mata yang memerah menahan marah.


Melihat perdebatan itu, kelima orang itu hendak keluar namun langkah mereka terhenti saat mendapat kan pelototan tajam dari Leon.


"Jangan pernah berharap bisa keluar dari sini!" pekik nya dingin.


"Sayang, apa yang kau lakukan, biarkan mereka pergi! kasian kan mereka udah sangat capek." selah Zahra dengan lirih, namun tiba-tiba ia bungkam ketika mendapat kan tatapan tajam dari pria di depan nya.


"Mau berkata jujur, atau masih mau main-main? jika kamu tidak menjelaskan semua nya, jangan berharap mereka bisa lolos dari pandangan ku." ucap nya dengan menekan segala perkataan nya.


Zahra seperti tau arah perbicaraan Leon, ia pun mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan segala nya kepada Leon meski ia harus sabar menahan kemarahan pria di depan nya.


"Kalian keluar lah! aku akan menjelas kan segala nya kepada Leon. Dan terima kasih telah membantu ku." ucap Zahra dengan senyum yang begitu tulus kepada kelima nya.


Leon berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah jendela, ia masih cukup kesal dengan mereka.

__ADS_1


Setelah nya mereka pun meninggal kan Zahra bersama Leon di ruangan itu. Zahra mulai mengatur nafas nya, ia tahu jika saat ini Leon pasti kecewa dan marah dengan keputusan yang ia ambil beberapa hari yang lalu, namun ia tidak ingin Leon marah dengan kelima orang yang telah membantu nya, mengingat mereka yang sudah berusaha mencengah nya.


"Le, kamu boleh marah sama aku, tapi tidak dengan mereka. Aku tahu keputusan yang aku ambil mungkin tidak baik, tapi lihat lah aku baik-baik saja." ucap Zahra dengan mata berkaca kaca, ia takut jika Leon akan mendiami nya seperti beberapa waktu yang lalu.


Leon masih bungkam, ia tidak menghirau kan Zahra, ia masih memikir kan segala konsekuensi mengenai tindakan Zahra yang mungkin akan mengakibat kan efek samping pasca transpalasi sum-sum tulang pada tubuh nya.


"Le, maafin aku! aku janji gak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan dari kamu." ucap Zahra kembali dan mencoba turun dari ranjang meski menahan rasa perih.


Namun sayang ia tidak dapat menopang tubuh nya untuk berdiri dengan baik hingga ia hampir saja ambruk jika Leon tidak memeluk tubuh nya.


"Apa yang coba kau lakukan! bagaimana jika aku tidak menopang tubuhmu, mungkin kau sudah jatuh.!" ucap nya dingin.


Leon pun menggendong Zahra, dan kembali membaringkan tubuh nya di ranjang. "Tidurlah!" ucap nya dan berlalu kembali ke ranjang di samping Zahra.


Zahra pun mencoba menahan tangis nya ketika melihat Leon tak menggubris perkataan nya.


"Seharus nya kamu tahu, hal yang paling aku takuti selama ini, itu adalah kehilangan dirimu! saat kamu tertembak waktu itu, aku seperti kehilangan separuh hidup ku, jadi aku mohon untuk yang terakhir kali nya, jangan pernah memilih pilihan yang akan membahayakan dirimu." ucap Leon yang sudah berbaring di ranjang nya sambil melihat ke langit-langit ruangan itu.

__ADS_1


"Apa salah, jika aku berkorban untuk pria yang aku cintai? jika kamu saja bisa berkorban untuk ku, apakah aku harus berdiam diri ketika melihat kamu terbaring lemah di ranjang mu!" balas Zahra dengan pelan nya namun terdengar tangis yang seperti di tahan oleh nya.


"Aku tidak ingin berdebat dengan mu saat ini, maka dari itu tidurlah!" seru Leon dan segera membelakangi Zahra yang sedang menatap ke arah nya.


Zahra tahu jika saat ini Leon sedang menangis, terlihat jelas jika ia sedang terisak sembari memunggungi nya.


Perlahan lahan Zahra pun mencoba menutup mata nya, entah pukul berapa ia tertidur karena hampir seharian ia menangis dan terlelap dengan sendiri nya, beda hal nya dengan Leon, ia tidak bisa tidur memikir kan efek samping jangka panjang pasca operasi yang di lakukan nya.


ia pun bangun dari ranjang nya, dan berjalan menghampiri Zahra yang sudah terlelap namun isakan itu masih terdengar, butiran bening itu pun masih terkenang di sudut pelopak matanya. Dengan lembut Leon membersih kan butiran bening itu, berulang kali ia mengecup pucuk kepala Zahra dengan lembut nya.


"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, tapi aku tidak bisa melihat mu dalam keadaan seperti ini, hidup ku terasa berhenti ketika melihat kamu kesakitan." gumam Leon dengan pelan nya di samping ranjang Zahra.


"Jika Allah masih memberikan aku waktu lebih lama lagi, aku berjanji akan selalu membahagia kan kamu dan juga anak-anak kita kelak nanti." gumam nya kembali dan mengecup bibir pucat wanita yang sedang tertidur dengan pulas nya.


Setelah mengeluarkan segala unek-unek yang menganjal di hati nya, ia pun naik ke ranjang yang sama dengan Zahra dan berbaring di samping nya. Tidak membutuh kan waktu lama ia pun ikut tertidur.


Tepat pukul 05.00 subuh, Zahra terbangun dari tidur nya, ia merasakan ada nya tangan yang memeluk pinggang nya dari belakang, ia pun tersenyum ketika melihat lelaki yang amat di cintai nya sedang tidur dengan dengkuran halus di samping nya. Dengan perlahan ia mencoba membalik kan tubuh nya, agar ia dapat menatap wajah yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Maafkan aku, sayang! aku tahu aku salah tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap mu, maka dari itu aku memilih jalan ini, walau nyawa ku taruhan nya." gumam nya pelan sembari mengusap lembut wajah Leon.


Leon dapat mendengar segala perkataan Zahra, karena ia sejak tadi sudah bangun terlebih dulu. Ia pun berpura pura mengerat kan pelukan nya dan menjadi kan lengan satu nya sebagai bantal untuk Zahra. Zahra tersenyum dan kembali memejam kan mata nya.


__ADS_2