
Ini adalah kali pertamanya aku bertemu dengan seseorang yang memiliki pemikiran yang begitu bijak seperti kamu dan tau gak jika kamu bersedia maukah kau membimbingku sehingga bisa sesukses dirimu. Ricard berkata sambil melayangkan senyum.
Zahra pun tersenyum dan berkata. "Mana bisa seperti itu, awalnya aku menggagumimu karena kau tipe pria yang gemar dan gila akan pekerjaan dan tidak membutuhkan waktu lama kau sudah bisa membuat perubahan yang cukup besar bagi perusahanmu dan setahu aku kamu seorang playboy. Benar gak yang di katakan beberapa media cetak mengenai kamu yang suka memainkan wanita." balas Zahra dengan spontan dan terdengar sindiran pada akhir perkataan nya.
Ricard begitu terkejut dan mulai kehilangan akal, akan apa yang harus di jawabnya kepada Zahra.
"A-aku tidak seperti yang di beritakan, waktu itu tepatnya pesta perayaan ulang tahun sahabat aku, dan juga di sana terdapat banyak wanita. Saat itu pun ada beberapa wanita yang bergantian duduk di sampingku, namun aku tak merespon saat mereka mengajakku berbicara. Seperti yang kau katakan aku adalah seorang yang gila akan pekerjaan dan bisa di bilang aku telah menikah dengan pekerjaanku. Haha.." Ricard yang berbicara dengan terbatanya karena kelakuannya di ketahui oleh Zahra.
"Hahahaha, maafkan aku Ricard dan anggap saja aku tak pernah mengatakan itu padamu, sekali lagi maaf ya." ucap Zahra karena merasa tidak sewajar nya ia mengatakan itu semua.
"Gak masalah, semua orang memiliki pemikiran masing-masing namun alangkah baiknya jika kita tidak mempercayai perkataan orang, selagi kita tidak melihatnya dengan mata kepala kita sendiri." timpal Ricard masih dengan senyum nya.
Zahra pun melayangkan 2 jempol untuk Ricard. "Aku harus kembali sekarang, karena besok Ayah dan Bunda aku akan datang untuk menghadiri acara wisudaku dan aku senang bisa berbincang denganmu. Aku pergi dulu ya." ucap Zahra dan segera berlari meninggalkan Ricard.
"Baiklah, aku senang bisa berteman dengan wanita hebat sepertimu." balas Ricard.
"Terima kasih, aku pergi dulu kapan-kapan kita berbincang lagi." teriak Zahra kembali.
Setelah selesai berbicara Zahra pun menyetir mobil nya menuju Apartement. Zahra begitu bahagia mendapat surpise party dari kakak sahabat dan teman-temannya. Selesai membersihkan tubuhnya Zahra pun berbaring karena sungguh ia merasa capek dan tidak memerlukan waktu lama akhirnya ia pun tertidur.
Zahra melihat arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat subuh dan mulai membersihkan Apartementnya dan menelpon Prily.
"Prily, maaf mengganggumu pada jam segini, tapi aku membutuhkan bantuanmu." ucap Zahra dari balik ponsel nya.
"Tidak masalah bos. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Prily.
"Kamu bisa gak ke pasar saat in, karena sebentar nanti Ayah dan Bunda akan datang dan mengenai apa yang akan kamu beli nanti aku kirimkan listnya ke watsapp kamu." jelas Zahra.
__ADS_1
"Baiklah bos! aku bersiap dulu." balas Prily.
Prily begitu kewalahan saat berada di pasar karena ia tidak tau menau tentang bahan-bahan yang di suruh bosnya.
"Oh Lord... alangkah baiknya aku bekerja menguras otakku dengan file-file yang bertumpuk, dari pada di suruh ke pasar yang tentunya membuat otakku berjalan ke mana-mana, karena sungguh aku tidak tau mengenai bahan-bahan yang harus aku beli saat ini." gerutu Prily.
Hampir 2 jam Prily mengelilingi pasar akhirnya kembali menuju Apartement Bosnya. "Bos ini bahan-bahan yang kamu minta, tapi aku mohon jangan menyuruhku lagi ke pasar karena sungguh ini hampir membuatku gila." gerutu Prily saat memberikan pesanan Zahra.
"Haha... pantes aja lama, tapi makasih ya Prily sayang! aku akan mempertimbangkan permintaanmu." balas Zahra dengan di selingi tawa.
"Whaattt?" Prily tampak melonggo tanpa berkata dan hanya menggeleng kepala.
"Dik, kenapa gak bangunin kakak sih." tanya Fahreza.
"Aku lupa kakak!" jawab zahra.
"Ya udah kakak mandi dulu, baru ke Airport jemput Paman sama yang lainnya." Fahreza yang sudah selesai bersiap namun sebelum berangkat ia pun menelpon Adri.
...... Adri
"Apa kalian masih di club? jika kalian masih di sana segera pulang dan bantuin Zahra dan Prily untuk menyiapkan penyambutan Paman dan lainnya, sekarang mereka lagi masak! tugas kalian bersih-bersih rumah karena kakak dalam perjalanan menuju Airport." jelas Fahreza.
......Adri
"Dan jangan lupa minta Rere bangunin Naysila dan marcella, setelahnya suruh mereka bersiap-siap lalu kembali ke Apartement Zahra. Udah dulu Dik, kakak udah sampai Airport." ucap nya kembali.
Kini Adri, Alfian dan yang lainnya sudah bergabung bersama Prily dan juga Zahra. Semua pun kini sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
Toktok toktok
"ka Adri bukain pintu, ada tamu." Zahra yang masih sibuk di dapur dengan sahabat dan juga calon kakak Iparnya.
"Kamu diam dulu Adri. Ommah mau bikin kejutan buat kesayangan." ucap Ommah Diana dan Adri pun menyalami tangan Ommah, Paman tapi tidak dengan sang Bunda Adri pun langsung memeluk sang Bunda.
"Kakak, siapa yang datang?" teriak Zahra dari dapur.
"Hanya seorang kurir yang salah alamat sayang." balas Adry
Ommah yang mendengar Adri menyebut mereka kurir langsung menarik telinga Adri. "Apa kau bilang kami kurir?" ucap Ommah sembari menarik kuping Adry.
"Kan kata Ommah jangan bilang, Ommah udah pikun ya." gerutu Adry.
"Dasar anak kurang ajar kamu ya." balas Ommah Diana dengan tawa. Tuan Laks dan sang Istri hanya tertawa melihat tingkah Adry dan Ibu mereka.
Betapa kagetnya Ommah, Ayah dan Bunda ketika melihat anak gadis mereka yang lagi sibuk di dapur.
Naysila, Prily dan Marcella yang melihat Ommah, Ayah dan Bundanya Zahra pun hendak berdiri namun Ommah tersenyum kepada mereka dan menyuruh mereka duduk kembali.
Ketiga orang tua itu berjalan menuju ke arah kesayangan mereka, dan berkata. "Apa makan ini cukup enak untuk di makan.?" bisik Ommah di telinga Zahra.
Zahra yang mengenal suara itu langsung berbalik dan memeluk sang Ommah. "Ommah kok gak telpon dulu." ucap Zahra dan memeluk wanita paru baya itu dengan erat nya.
Zahrapun berpindah memeluk Ayah dan Bundanya.
"Ayah gimana kabar Ayah. Ayah udah sehatkan, Ayah selalu minum obat dengan teraturkan." Tanya Zahra beruntun dan semua tertawa.
__ADS_1
"Ayah mau jawab yang mana dulu. Ayah binggung karena kamu tak henti-henti bertanya. Ayah baik, Ayah juga sehat dan Ayah selalu minum obat dengan teraturnya karena Ayah takut ada yang ngambek jika tidak mengikuti permintaannya." seru Tuan Laks dan memeluk ana k gadis nya.
"Syukurlah, Ommah, Ayah dan Bunda duduklah dulu di ruang tamu, sebentar lagi makanannya siap." ucap Zahra sembari mengantar para orang tua itu menuju ruang keluarga.