
Zahra, Fahreza, Adriansyah, dan Alfian kini tiba di Airport International Hang Nadim, setelah perjalanan beberapa belas jam.
Mereka pun langsung menuju ke Rs.Budi Kemuliaan Batam. Sesampainya di sana, Zahra begitu syok melihat sang Bunda yang berada di ICU, dengan terpasang banyak alat medis membuat nya melemas seketika dan jatuh pingsan. Fahreza dan Adriansyah kaget melihat sang Adik jatuh pingsan dan dengan spontan berteriak.
"Dokter..tolong Adik kami." teriak Adri.
Beberapa menit kemudian datang lah beberapa perawat dan salah seorang dokter. Adriyansyah pun segera menggendong nya dan langsung membawa Zahra ke UGD.
"Dokter, berikan yang terbaik untuk Adik kami." ucap Fahreza.
Hampir sejam Dokter menangani Zahra akhirnya keluar. "Dokter, bagaimana keadaan Adik kami?" tanya Fahreza khawatir.
"Ikutlah dengan saya ke ruangan saya." pintah sang Dokter.
Fahreza dan Adriyansyah mengikuti sang dokter ke ruangannya. "Tuan tolong jangan biarkan Zahra tahu, tentang kemungkinan yang akan terjadi kepada Ibu Wina." jelas sang Dokter.
"Maksud Anda apa dokter??" tanya Fahreza selidik.
"Nona Zahra saat ini mengalami depresi berat dan salah satu faktornya keadaan Ibu Wina." ucap Dokter kembali.
"Apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya Adri seraya memijat pelat dahi nya.
__ADS_1
"Jangan biarkan Nona Zahra mengalami tekanan, apapun itu! saya sarankan untuk mengikuti spikoterapi dengan psikolog, kemungkinan jika tidak langsung di obati akan berakibat fatal bagi nona Zahra." jelas sang Dokter kembali.
"Baik, terimah kasih banyak Dokter." ucap Fahreza dan segera berdiri dengan raut wajah lesuh.
Fahreza dan adriyansyah pun keluar dengan raut wajah kesedihan, mereka tidak menyangka Zahra orang yang begitu keras kepala dan selalu tampak tenang. Kini mengalami depresi.
Mereka yang hendak kembali ke ruangan Zahra, tiba-tiba teralihkan pandangan mereka ketika melihat Tuan Laksmana yang sedang duduk menatap ke arah ruang ICU.
Hati mereka seketika sakit seperti di tusuk beribu-ribu pisau melihat orang yang mereka sayangi terpuruk.
Mereka pun berjalan menuju ke arah Ayah Zahra. "Paman Laks!" panggil Fahrezah dan duduk memeluk Pamannya.
"Kapan kalian sampai Nak? dimana Zahra?" tanya Tuan Laks.
"Apa maksud kalian,?" tanya Tuan Laksmana dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan.
"Paman duduk dulu, ada yang ingin kami beritahukan kepada Paman." Fahreza pun mulai menjelaskan.
"Kami tiba di sini sudah hampir 3 jam yang lalu. Adik begitu syok melihat keadaan Bunda dan jatuh pingsan. Kami menunggu hampir sejam akhirnya Dokter Fahry keluar, setelah memeriksa kondisi Adik, kami pun menanyakan kondisi Adik, dan Dokter Fahry menyuruh kami ikut ke ruangannya. Dan kata dokter, Adik mengalami depresi berat." jelas Fahreza. Fahreza dan Adriyansyah dengan menitihkan butiran bening ketika melihat ekspresi Paman mereka yang tampak terpukul.
"Antarkan Paman ke ruangan Adik kalian." ucap dan sikap Tuan Laksmana sungguh berbeda dari biasanya. Mereka pun berjalan menuju ruangan Zahra. Sesampainya di ruangan, mereka terkejut melihat Zahra yang belum sadarkan diri. Fahrezah pun memanggil salah seorang perawat dan bertanya.
__ADS_1
Perawat pun menjelaskan
"Dr.Fahry membius Ny.Zahra, karena pasien sedang dalam guncangan, takutnya akan lebih fatal jika membuat perasaan pasien makin menjadi-jadi, namun pasien akan sadar kembali esok hari." jelas perawat.
"Terimah kasih Sus." balas Fahreza.
Tuan Laksamana pun duduk dan menciumi tangan Zahra sembari mengeluarkan butiran bening karena Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. "Sayang maafkan Ayah, Ayah pun tidak tahu dengan penyakit Bundamu namun Ayah sudah mencari rumah sakit terbaik di Eropa untuk penyembuhan Bunda. Ayah tidak mau kehilangan kalian, karena kalian begitu berharga buat Ayah." ucap nya lirih dengan isakan tangis.
"Paman Laks pulang lah dulu dan istirahat bersama ommah dan Alfian. Biar Aku dan Adri yang menjaga Adik dan Bunda." ucap Fahreza.
Paman pun berdiri dan memeluk ke 2 Keponakannya dan berkata. "Paman bersyukur, Tuhan memberikan Paman 3 putra dan 1 putri yang saling menjaga dan saling support. Kabari Paman jika terjadi sesuatu, Paman pulang dulu." balas Tuan Laksamana dengan tegar nya.
"Baik Paman!" ucap Fahreza kembali sembari melemparkan senyum.
Ardi pun mengantar sang Paman sampai di tempat parkir. Fahrezah pun duduk di samping ranjang sambil memegang tangan Zahra. "Sayang maafkan kami, yang telah berbohong kepada mu mengenai kondisi Bunda, tapi kami melakukannya karena kami tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu." dengan derasnya butiran bening itu jatuh di pipi Fahrezah.
Ricard adalah seorang pebisnis berdarah dingin dan penguasa di kota Bordeaux. Kali ini Ricard kewalahan mencari informasi tentang keberadaan Zahra, Ricard masih membayangkan Adriyansyah menjemput Zahra dengan raut wajah kesedihan saat itu.
"Dirgantara suruh orang-orang kita, yang berada di Indonesia untuk mencari tahu keberadaan Zahra dan keluarganya." ucap nya sarkas.
"Baik Bos!" jawab Dirgantara dan segera beranjak meninggalkan Ricard di ruangannya.
__ADS_1
Ricard tersenyum mengingat kejadian dimana dia mencium Zahra tanpa ada penolakan dari Zahra sedikit pun. "Apa yang terjadi denganku, Apa aku sungguh mencintainya! tidak Aku hanya ingin bermain-main dengannya! tapi kenapa sejak kepergiannya, Aku tidak bisa fokus lagi dalam bekerja. Sial! lama-lama wanita ini membuatku gila." sindir nya kepada diri nya sendiri.