Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
88. Hak asuh


__ADS_3

Ricard yang sedang bermain bersama sang anak di kejutkan dengan kedatangan Sally Jhou di Villanya.


"Ricard!" panggil Sally dengan nada suara yang begitu manja.


"Hmmm" balas Ricard dengan deheman.


"Aku tadi di permalukan oleh Zahra dan kekasihnya, kekasihnya juga berlaku kasar kepadaku," ucap Sally seraya memperlihatkan bercak merah di lehernya yang di cekik oleh Leon kepadanya tadi.


" Apa yang kau katakan,?" balas Ricard, karna ia tahu jika Zahra tidak mungkin melakukan hal segila itu kepada orang lain sekalipun itu musuhnya melainkan mereka yang mengusiknya terlebih dulu.


"Tadi aku ingin membeli gaun untuk aku kenakan saat acara pertunangan kita, tapi sungguh aku tidak tahu jika toko itu milik Zahra dan gilanya saat Zahra datang ia malah mencibirku dan mengatai aku wanita jalang." jelas Sally dengan menambahkan bumbu-bumbu kebencian kepada Ricard.


Mendengar penjelasan Sally, Ricard tampak kesal dan juga marah dengan sikap Zahra yang merendahkan orang lain. " Sialan, aku tidak akan membiarkan Aggrita di asuh olehnya lagi karna aku tidak ingin Aggrita memiliki sifat angkuh sepertinya dan secepatnya aku akan mengambil hak asuh anak untuk Aggrita." gumam Ricard dalam hati.


"Kamu tenanglah, aku akan membuat perhitungan dengan Zahra maupun Leon." ujar Ricard dengan raut wajah dingin karna ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Zahra saat ini, yang menurutnya berubah 180 derajat sejak ia kembali.


Zahra yang sedang asik berkumpul bersama sahabatnya di kejutkan dengan dering ponsel.

__ADS_1


drrgg...drrrggg.


Leon yang menyadari perubahan di raut wajah Zahra pun hendak bertanya namun Zahra dengan cepatnya menolak panggilan itu. "Sayang kok gak di jawab! angkatlah siapa tahu ada hal yang mendesak yang ingin Ricard bicarakan denganmu." ujar Leon.


" Kamu tidak masalah jika aku menjawab telpon itu,?" tanya Zahra memastikan.


"Ngapain marah, toh Ricard adalah Ayah dari si kecil dan mungkin telponnya kali ini ingin bicara mengenai si kecil. Angkat dan bicaralah di luar.!" jawab Leon dengan lembutnya karna ia berpikir ia tidak memiliki hak untuk melarang Zahra untuk berbincang dengan Ricard mengenai Aggrita.


"Baiklah,!" Zahra pun beranjak dan keluar untuk menjawab telpon dari Ricard dan menanyakan perihal ia menelponnya.


"Zahra ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai Aggrita, jika kau memiliki waktu luang datanglah ke tempat biasa dan aku berharap kamu akan datang sekarang." jelas Ricard dengan menekan segala perkataannya.


"Ricard maaf aku tidak bisa menemuimu sekarang karna aku sedang sibuk dan pukul dua siang nanti aku sudah harus kembali ke Italya, mungkin kita bisa mengatur waktu kembali." jawab Zahra karna sungguh ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara Sally dan juga Leon akan pertemuan dirinya dan juga Ricard.


"Ok, baiklah, semoga saja kau tidak akan menyesali penolakanmu kali ini dan mungkin ini akan menjadi perpisahan terakhir dirimu dan juga Aggrita." ucap Ricard kepada Zahra yang membuat Zahra binggung.


" Apa maksudmu Ricard,? kau jangan gila Ricard dan jangan coba-coba mengancamku karna aku tak pernah takut denganmu." Zahra yang mulai kesal dengan sikap Ricard yang tiba-tiba mengancamnya.

__ADS_1


"Semua keputusan ada di tanganmu." Ricard pun memutuskan sambungan telpon tanpa mendengar jawaban Zahra.


Zahra begitu marah dan segera meninggalkan club miliknya dan berlalu pergi ke cafe di mana tempat yang Ricard katakan kepadanya tanpa memberitahukan kepergiannya pada Leon.


Tidak memerlukan waktu lama akhirnya Zahra tiba di depan cafe. Ia tampak kesal ketika melihat Ricard yang sedang asik menyesap secangkir kopi di dalam cafe. Ia pun segera masuk dan menghampiri Ricard. Kini keduanya saling menatap satu sama lain.


" Mari kita bicarakan mengenai hak asuh anak!" ucap Ricard dengan saantainya.


Zahra terbelalak, lalu menatap Ricard dengan dinginnya ketika Ricard dengan santainya berbicara mengenai hak asuh anak kepadanya. " Apa kau sudah gila, dan dari mana kau mendapatkan ide itu, Ricard?" tanya Zahra dengan kemarahannya.


" Keputusanku sudah bulat Zahra, Aggrita adalah darah dagingku, yang berhak atas dirinya hanyalah aku bukan kau.!" ucap Ricard kembali dengan tegasnya.


"Kau tidak akan pernah mendapatkan hak asuh Aggrita karna kita tidak pernah menikah, dan satu lagi yang berhak atas dirinya hanyalah aku bukan kau, sekalipun kau yang menafkahinya. Dan aku berharap kau tahu mengenai itu, Ricard." jawab Zahra dengan seribu kekesalannya karna ia tidak menyangka Ricard akan mempermasalahkan mengenai siapa yang berhak atas Aggrita.


"Jika kau benar-benar mencintai dan menyayangi Aggrita, kau tidak seharusnya meninggalkan dan mencampakan dia selama bertahun tahun lamanya dengan memalsukan kematianmu." jawab Ricard dengan suara yang meninggi sehingga mereka menjadi sorotan di cafe itu.


Zahra tampak diam seribu bahasa karna ia tidak sanggup lagi berdebat dengan Ricard yang tiba-tiba mengorek masa lalunya kembali.

__ADS_1


__ADS_2