
Ricard yang kini hampir dua minggu bersama sang anak di Prancis begitu bahagia. Ia yang awalnya hanya sibuk dengan perusahan tak sekalipun pulang ke Villa. Sejak kedatangan sang anak Ricard pun meluangkan waktu istirahatnya untuk pulang dan menemani sang anak bermain.
Namun siapa sangka sejak Ricard mengetahui kebusulan Sally Jhou ia tak sekali pun memutuskan hubungan dengan Sally karna ia ingin mempermainkan Sally Jhou.
Sally sangat benci dengan kedatangan Aggrita yang membuat Ricard tak memperdulikannya lagi. Sally pun mulai menyusun rencana untuk mencelakai Aggrita.
Leon merasa lega melihat keadaan Almira yang sudah mulai membaik, Leon pun meminta Zahra untuk menemani Almira dan mencari tahu tentang apa yang membuat Almira begitu terpukul.
Hampir 2 jam Zahra menemani Almira dan menanyakan perihal tentang kejadian apa yang terjadi. Setelah mendapatkan jawaban nya, dan melihat Almira yang sudah tertidur Zahra pun mengecup puncak kepala Almira dan keluar untuk menemui Leon.
Tok tok....
Leon pun menoleh ke arah pintu dan menyuruh Zahra masuk. Leon pun berdiri dan menghampiri Zahra dan memeluknya.
" Sayang terima kasih udah nemanin Almira, aku sangat bersyukur memiliki wanita sebaik kamu." ucap Leon
"Sayang ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Dan ini mungkin akan merubah pemikiran kamu mengenai Alfin." jelas Zahra.
Leon mengernyit binggung dengan perkataan Zahra namun ia tak melepaskan pelukan nya. "Katakan lah sayang." seru nya dan membawa Zahra dalam pangkuan nya.
" Sebenarnya Alfin tak sekali pun berselingkuh di belakang Mira. Alfin meninggal di saat ia meminta Kinanti menemani nya untuk membeli kado untuk hari ulang tahun Mira. Namun yang sebenar nya, Alfin meninggal bukan karena kecelakaan melain kan Alfin mengidap kanker darah. Dan Kinanti maupun Aldo tau mengenai penyakit Alfin, namun Alfin melarang mereka untuk tidak memberitahu Almira mengenai penyakit nya karena ia tidak ingin Almira berlarut larut dalam kesedihan." Jelas Zahra.
Leon tampak hancur mendengar kenyataan mengenai Alfin karena ia tahu betul mengenai cinta yang begitu besar dari Almira untuk Alfin. "Apa yang harus kita lakukan sayang,? aku tidak ingin Mira bersedih dan terus menerus memikirkan Alfin yang sudah tidak ada lagi." tanya Leon dengan frustasi.
"Kita ajak Mira jalan-jalan dan ajak juga kak Adri. Bagaimana?" tanya Zahra dengan hati-hati.
"Baiklah, kamu tentukan tempat dan mengenai Adri, bagaimana kamu mau mengajak nya." jawab Leon.
__ADS_1
Zahra tersenyum dan berkata. "Kak Adri kemarin mengambil penerbangan malam nanti, jadi besok udah nyampe disini." ucap Zahra.
"Ya sudah, aku bantu bibi menyiap kan makan malam untuk kita." ucap Zahra dan melepas pelukan Leon dengan lembut nya, lalu mengecup bibir Leon dan berjalan keluar ruangan.
"Jangan terlalu capek ntar kamu sakit." Teriak Leon.
"Ehhh ada Ervan, naik aja Van, es balok lagi di atas nungguin kamu." ucap Zahra di ikuti tawa.
"Hahahaha..." Ervan tertawa mendengar perkataan Zahra.
Toktok...
"Masuk!" sahut Leon dari dalam.
Ervan pun masuk dan menaruh berkas-berkas yang harus Leon tanda tangani. Leon dan Ervan yang sedang berkutat dengan berkas-berkas di ruang kerja hingga lupa waktu.
Leon dan Ervan yang sudah selesai akhir nya turun menuju meja makan namun ia tidak menemukan Zahra maupun Almira.
"Ervan kamu duduklah, aku akan memanggil Zahra dan Mira dulu." ucap nya kepada Ervan sembari menaiki tangga.
"Its okey brother." jawab Ervan.
Leon pun segera menuju kamar Almira, ia tampak terkejut melihat Almira yang sudah bersiap untuk turun.
"Ini baru adik nya kakak! kan kalau kamu cantik gini kakak gak risi jalan sama kamu." canda Leon.
"Apaan sih. Kakak, apa kakak ipar masak makan malam buat kita? a-aku laper banget dan pingin makan masakan kakak ipar." tanya Almira dengan malu-malu.
__ADS_1
"Dasar anak manja, ayo turun kasian Ervan nungguin kita" jawab Leon.
Kini keduanya turun dan menuju meja makan namun lagi-lagi Leon tidak mendapati Zahra. "Bibi, Nyonya mana.? bukannya tadi Nyonya bantuin bibi.?" tanya Leon.
"Iya Tuan, setelah Nyonya selesai masak katanya Nyonya ingin tidur sebentar." jawab Bibi.
"Baiklah, Bibi duduk lah dan makan bersama Mira dan juga Ervan. Van kamu gak masalah kan aku tinggal bentar, Aku akan ke kamar bangunin Zahra dan kalian makan lah lebih dulu." ucap nya kembali.
Ervan pun mengangguk.
Leon pun berjalan menuju lift dan naik ke kamar mereka yang ada di lantai 3 yang notabene nya tidak ada yang bisa masuk selain ia, Zahra dan Almira.
Leon tersenyum ketika mendapati kekasih hati nya yang sedang tertidur dengan pulas nya dan berjalan mendekati ranjang. Leon berulang kali mencium Zahra hingga Zahra pun terbangun.
"Sayang ayo bangun, kasian yang lainnya pada nungguin kita di meja makan." ajak Leon dengan lembutnya.
"Astaga aku lupa, maafin aku ya, yang sudah membuat kalian menunggu untuk makan malam." jawab Zahra dan segera berlari ke kamar mandi.
Zahra yang lupa mengambil handuk pun berterik kepada Leon yang sedang duduk.
"Sayang ambil baju mandi aku dong, sama cream pencuci wajah aku yang di atas meja rias." teriak nya dari dalam kamar mandi.
Leon pun segera mengambil keperluan yang di teriaki Zahra. Namun sungguh Leon sudah tidak bisa menahan rasa kencing nya lagi. Leon pun dengan segera membuka pintu kamar mandi dan segera masuk. Dan untung Zahra sudah mengenakan pakai mandi dan tinggal memakai crim wajah.
Zahra tampak terkejut dan berkata. "Kamu apaan sih sayang,? gak sopan, kamu keluar sana." ucap Zahra.
"Maaf, tapi aku kebelet pipis sayang." jawab Leon. Leon pun menarik tirai agar saat ia kencing tidak di terlihat oleh Zahra yang sedang mengenakan crim wajahnya.
__ADS_1