
"Kalian akan kemana,? Paman dan juga Bunda awalnya kecewa dengan keputusan yang di ambil Adik kalian tapi Paman mencoba menerimanya bagaimana pun Paman tidak ingin kehilangan Adik kalian untuk ke dua kalinya." jelas Tuan Laksmana.
"Paman maafkan kami, berikan kami waktu untuk mencernah semua kejadian ini. Kami pergi dulu." balas Fahreza dengan kekecewaan.
Zahra sangat bersalah kepada ketiga Kakaknya, ia pun memeluk kedua Kakaknya dengan eratnya dan menangis sejadi jadinya.
"Kakak, maafkan aku tapi aku hanya memiliki pilihan itu lima tahun yang lalu." penjelasan Zahra.
"Zahra, berikan kami waktu untuk menerima kenyataan ini, jawab Alfian dan juga Adriyansyah bersamaan." balas sang kakak.
Keduanya sangat terpukul dan merasa kecewa dengan keputusan Zahra yang membohongi mereka selama ini, keduanya pun pergi dari acara.
Zahra menangis melihat kepergian ketiga Kakaknya, Ricard yang hendak maju untuk menenangkan Zahra akhirnya terhenti saat Leon berjalan dan memeluk erat Zahra.
"Sayang, berikan mereka waktu, dan aku mohon tenangkan dirimu, setelah kamu tenang kita akan menemui mereka." ucap Leon menenangkan Zahra.
"Aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka dan semoga mereka akan memaafkan kamu. Ini adalah hari bahagia buat Grita, aku gak mau melihatnya sedih karna melihatmu seperti ini." ujar Leon kembali.
Leon pun memegang kedua pipi Zahra dan membersihkan butiran bening dari pipi wanita yang di cintainya.
Acara pemotongan kue pun di mulai, Zahra berdiri di samping kanan sedangkan Ricard di samping kiri setelah selesai pesta Ricard pun mengantar Sally Jhou kembali ke Apartementnya.
Sedangkan keluarga besar Zahra maupun Leon dan Adiknya kembali ke Mansion Keluarga Chandra.
Kini semuanya duduk di ruang tamu, Ommah Diana begitu bahagia karna melihat Zahra berkumpul bersama mereka kembali.
"Mengenai pernikahan kalian kami sangat menyetujui itu, namun alangkah baiknya bicarakan itu bersama para Kakakmu minta persetujuan mereka dan saran mereka." jelas sang Ayah.
"Bagaimana pun selama ini merekalah yang menjaga dan menyayangimu." tambah sang Ommah.
__ADS_1
"Baiklah Paman, aku akan meminta restu mereka, karna kebahagian kami ada pada restu mereka juga." ucap Leon dengan mengindahkan perkataan orang tua Zahra.
"Almira kamu istirahatlah di kamar Zahra dan Leon kamu pakailah kamar tamu yang berada di samping kamar Zahra." ucap sang Bunda.
"Sayang temani aku, aku ingin secepatnya bertemu dengan Kakakku, aku tidak bisa jauh lagi dari mereka." pinta Zahra.
"Baiklah aku akan menemanimu, tapi apa kamu tahu di mana mereka sekarang,?" tanya Leon.
"Aku tahu di mana mereka sekarang, tapi aku mandi dulu." balas Zahra dengan senyum.
"Baiklah sayang." balas Leon dan tersenyum bahagia ketika melihat wanita yang di cintainya bahagia.
Keduanya kini meninggalkan Mansion dan berlalu pergi ke sebuah club malam milik Zahra.
"Sayang apa kamu yakin mereka ada di sana.!" tanya Leon.
"Club itu adalah tempat yang biasa di datangi kami karna club itu salah satu milikku dan kakak lah yang mengelola semua itu." balas Zahra.
"Nona besar maafkan kami, tapi anda di larang masuk ke sini dan ini perintah dari Tuan besar." jelas para pegawai keamanan.
"Apa yang kalian lakukan, minggirlah jika kalian masih ingin bekerja di sini." dengan tajamnya Zahra berkata kepada pegawai keamanan.
Leon yang melihat perdebatan antara kekasihnya dengan beberapa orang pun segera menghampiri mereka. "Ada apa ini,? kenapa kamu tidak masuk sayang." tanya Leon.
"Mereka tidak mengizinkan aku masuk, karna perintah dari kakak." jawab Zahra.
"Baiklah kita lihat, sampai kapan kalian akan menghentikannya masuk ke dalam. Aku akan masuk kedalam, dan kamu tunggulah aku di sini!" dengan sarkasnya Leon menyindir para pegawai keamanan itu.
Leon hendak masuk namun ia pun di tahan juga. "Maaf Tuan anda tidak bisa masuk." ucap salah pegawai itu.
__ADS_1
"Apa aku juga di larang masuk, bos kalian pun tidak mengenalku, minggirlah sebelum aku bertindak kasar kepada kalian." Leon menatap para pegawal dengan tatapan seperti ingin membunuh mereka.
Para pegawal itu pun membiarkan Leon masuk namun tidak dengan Zahra.
"Le, apa kamu yakin bisa membujuk mereka.!" tanya Zahra.
"Yakinlah sayang, apapun itu aku akan membuat mereka keluar menemuimu." Leon pun tersenyum dan meninggalkan Zahra di luar club.
Leon mencari keberadaan Fahrezah dan ke dua adiknya namun ia tidak mendapati mereka di setiap sudut club.
Saat ia hendak berjalan ke luar, tidak segaja ia mendengar percakapan para pegawai club yang mengatakan jika Nona besar di hadang masuk karena bertengkar hebat dengan Tuan muda, sehingga Tuan muda beserta ke dua adiknya sedang minum-minum di ruang VVIP yang bertempat di lantai 4.
Leon pun segera berjalan menuju lift dan menekan tombol 4 yakni ke ruangan VVIP di mana Fahrezah dan lainnya berada, Leon yang sudah berada di lantai 4 pun segera masuk ke ruangan di mana Fahreza dan yang lainnya berada.
"Selamat malam, maafkan aku yang sudah lancang masuk ke area khusus ini, namun ada sesuatu hal yang perlu kalian ketahui dan jika kalian berkenan aku akan menceritakan sebuah kebenaran kepada kalian." jelas Leon dengan tegasnya kepada Fahreza dan lainnya.
Fahrezah mengerutkan alis ketika mendapati seseorang di depan mereka. "Siapa kamu,? dan beraninya kamu masuk kesini tanpa membuat janji temu dengan kami. Keluarlah, ini area khusus." ucap Fahrezah dengan marah dan terdengar tegas.
"Aku Leon Alexander, dan ya mungkin kalian tidak mengenalku tapi kalian tidak mungkin setega itu membiarkan Adik perempuan kalian berdiri di luar club dengan cuaca sedingin ini. Aku datang kesini untuk menyampaikan permohonan maaf dari orang yang sangat berarti dalam hidupku, dan wanita itu adalah Zahra. Aku pun sempat kecewa seperti kalian, 3 tahun yang lalu di mana aku dan adik perempuanku menerima Zahra dengan tulus, tapi selama itu pun ia tidak jujur kepada kami mengenai pemalsuan identitasnya dan juga mengenai ia mengasingkan diri demi kelangsungan hidup keluarganya dan rela hidup terpisah dengan anaknya." Leon yang mulai menjelaskan segala keputusan yang di ambil Zahra 5 tahun yang lalu.
"Maaf! sayangnya kami tidak tertarik mendengar ceritamu, keluarlah." bentak Fahreza dan membuat Leon begitu marah sehingga mengancam mereka.
"Apakah kalian akan tega membiarkannya menunggu kalian memaafkannya, jika kalian tidak bisa memaafkannya aku akan membawanya kembali ke Italya malam ini juga karna aku Leon Alexander tidak ingin melihat wanitaku menangis atau pun serapu saat ini." balas Leon dengan tegasnya.
Fahrezah dan juga kedua Adiknya berhamburan menuju lift dan meninggalkan Leon sendiri di ruangan itu.
Leon tampak bahagia melihat ke kompakan dan kasih sayang dari keluarga Zahra yang sangat tidak rela kehilangan satu sama lain, Leon pun turun mengikuti tangga darurat menuju lantai dasar.
Fahrezah beserta kedua Adiknya tampak rapuh ketika mereka melihat Zahra yang sedang duduk berjongkok dengan isakan tangis.
__ADS_1
Mereka pun berhamburan ke arah Zahra dan memeluknya. "Sayang maafkan kami karna begitu egois dan tidak mendengarkan penjelasanmu. Kami hanya tidak menyangka kamu akan melakukan ini dan membohongi kami bertahun tahun lamanya." ucap Reza bersamaan dengan kedua Adiknya.