
"Rany, besok Zahra Humairah akan mulai bekerja. Kamu siapkan ruangan kosong yang berada disamping ruanganku. Jadikan ruangan itu ruangan bu Zahra Humairah sampai masa kontraknya habis." ucap Ricard dengan jelas.
"Baik CEO!" balas Rany dan membungkuk setelah nya ia duduk kembali di kursi nya.
Hari berlalu begitu cepat, keesokan harinya Zahra Humairah pergi ke Alziro Group dengan riasan yang tipis beserta liptin dan mengenakan dress berwarna pink selutut dipadukan dengan highells yang membuat dirinya begitu terlihat cantik dan seksi.
Zahra Humairah berlalu pergi ke perusahan Alziro Group. Sesampainya di depan perusahaan, seorang satpam menghampirinya dan mengambil kunci mobilnya.
Zahra disambut oleh karyawan dengan sangat ramah, setelah dia berjalan memasuki perusahaan semua mata melihat ke arahnya.
Dirgantara kaget melihat sosok wanita cantik dan juga seksi ada di kantor mereka, teriakan Dirgantara bisa didengarkan oleh semua staf di kantor itu. "Sungguh seperti bidadari yang turun dari langit cantik nya wanita itu." seru Dirgantara dengan keras nya.
Zahra berbalik dan menggelengkan kepala ke arah Dirgantara dan tersenyum.
Rany menuntun Zahra keruangannya.
Disisi lain Ricard sedang melihat dan mendengarkan Zahra Humairah yang sedang berbicara dengan sekertarisnya. "Sungguh wanita yang sangat cantik!" gumamnya dalam hati.
"Bu ini ruangannya, jika Bu Zahra memerlukan sesuatu, jangan sungkan memanggil saya." ucap Rany dengan ramahnya.
"Baik, terima kasih atas bantuan kamu. Oh iya, Nama kamu siapa?" tanya Zahra.
"Saya Rany bu, saya asisten ibu sekarang, jika bu Zahra membutuhkan sesuatu saya ada di depan." jelas Rany.
"Apa saya setua itu, sehingga kamu memanggil saya Ibu? panggil saja Zahra, aku tidak mau kau memanggilku dengan sebutan itu lagi." ucap Zahra dengan ketus.
"Tapi saat ini saya asisten ibu." tolak Rany.
"Kamu bukan bawahan saya, dan saya bukan atasan kamu, sekarang kita adalah teman, tidak ada tapi-tapian, jika kamu memanggilku dengan sebutan ibu, aku akan melaporkanmu kepada Tuan Alziro." ucap Zahra kembali dengan ancaman.
"Baik Zahra, saya kembali ke ruanganku dulu, jika memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk mengatakan padaku." balas Rany dan segera keluar dari ruangan tersebut.
"Terimah kasih, Rany." ucap Zahra dengan tersenyum tanda ia puas dengan jawaban Rany.
Ricard yang sedari tadi tersenyum menatap Zahra dari ruangannya. Ketika itu Ia sadar Zahra sedang berbicara dengan seseorang di telpon, sejak Rany keluar dari ruangan Zahra.
"Hallo Ayah." sapa Zahra.
.....ayah
"Ayah aku gak mau berdebat dengan Ayah, keputusan ku sudah finally." ucap Zahra dengan pelan nya.
.........ayah
"Aku tidak akan pernah menerima sepeser pun uang Ayah, aku masih sanggup menghidupi diriku sendiri dan juga segera Ayah tarik semua orang Ayah, aku merasa risih setiap aku berjalan mereka selalu mengikutiku." jelas Zahra dengan marah ketika mendapati orang suruhan Ayahnya yang sering membuat nya menjadi tontonan.
........ayah
__ADS_1
"dan 1 lagi suruh Kakak secepatnya kembali ke Jerman, Aku tidak mau semua kerja kerasku disana sia-sia hanya karena Ayah dan Ommah menyuruh Kakak menjagaku terus menerus." timpal nya kembali dengan kekesalan yang teramat dalam.
.......ayah
"Bunda, tolong aku, suruh Ayah menarik orang-orangnya kembali ke Indonesia, Aku berjanji setelah study ku selesai aku akan segera kembali ke perusahaan." Zahra menjelaskan.
......bunda
"Zahra menyayangi Bunda dan Ayah." ucap nya dan segera memutuskan sambungan telepon tersebut.
Ricard yang tidak segaja mendengar perbincangan Zahra dengan seseorang pun kaget mengetahui jika selama ini bukan hanya Fahreza dan kedua adik nya yang menjaga Zahra namun ada juga para bodyguard yang di kirimkan oleh Ayahnya.
"Zahra, sungguh beruntung nya dirimu memiliki keluarga yang begitu menyayangi dan mengkhawatir kan dirimu, namun aku tidak habis pikir dengan dirimu yang rela bekerja di perusahan orang lain di bandingkan dengan perusahan milik mu atau pun Orang tua mu." ucap Ricard dalam hati.
Toktok...
Zahra berdiri, dan mempersilahkan Ricard masuk. "Silahkan masuk, Tuan Ricard." ucap Zahra dengan melebarkan senyum.
"Bagaimana, apa anda menyukai ruangan ini, jika ada yang ingin kamu pindahkan jangan sungkan mengatakan pada Rany." balas Ricard.
"Ini sudah lebih dari cukup Tuan Ricard, dan mengenai proyek ini saya sudah berdiskusi dengan Amanda dan segeralah kita melakukan rapat perihal pengembangan rumah tak terbatas itu." jelas Zahra.
"Baiklah, segera kita adakan pertemuan." ucap Ricard dqn berjalam kembali keruangannya, namun hatinya merasa gelisa ketika mendengar pembicaraan Zahra tadi.
"Rany kamu ke ruangan ku bentar dong." pinta Zahra
"Rany kamu udah makan belum,? jika belum kita makan bareng yuk di resto teman aku yang gak jauh dari sini." ucap Zahra dengan berbohong karena Zahra tidak mau identitasnya terbongkar.
"Baiklah.!" balas Rany dan secepat nya membereskan beberapa file di meja nya.
Mereka pun menuju restoran, sampainya direstoran, Prily yang melihat sosok Zahra segera menghampirinya.
"Bos, saya sudah menyiapkan makan siangnya dan menaruhnya diruang kerja." jelas Prily.
"Rany, kamu pilih makanan dulu, saya mau menyapa sahabat saya di dalam. Kamu tidak masalahkan saya tinggal sebentar." ucap Zahra dan segera menarik pergelangan tangan Prily.
Tanpa Zahra sadari ada beberapa pasang mata yang sedang menatapnya.
"Prily, pleace jangan panggil saya bos di depan teman kantorku, aku gak mau mereka berteman dengan ku karena aku seorang pewaris tunggal dan makanan ku, tolong kau bawa ke meja yang tadi." ucap Zahra dengan pelan nya.
"Prily, apa orang-orang ayahku datang lagi?" tanya Zahra memastikan.
"Tinggal beberapa orang saja bos, seharian ini mereka mengawasi dari luar restoran." jelas Prily.
"Apa kamu sudah memberikan mereka makan siang ini." tanya Zahra kembali.
"Sudah bos! tapi terjadi masalah di Nirmala Group." ujar Prily kembali.
__ADS_1
"Apa itu,? dan mengapa kamu baru memberitahuku. Ceritakan itu nanti setelah aku kembali. Ya udah tolong ambilkan makananku dan di antar ke meja itu." balas Zahra dan segera berjalan menuju Rany yang sedang menunggu nya.
Ricard dan Dirgantara hanya melonggo, namun Ricard Alziro lebih ingin mengetahui siapa Zahra sebenarnya dan apa pengaruh Ayahnya. Karena selama ia mengenal Zahra dan ke tiga kakaknya, ia tidak pernah tau mengenai pengaruh Ayah Zahra walaupun pernah sekali iya bertemu dengan keluarga besar Zahra.
Setelah membawakan makan, Prily menyambut sepasang kekasih dan mempersihlakan mereka duduk. Zahra dan Rany pun mulai memakan hidangan yang di siapkan Prily.
Prily yang sudah menunggu begitu lama, akhirnya bertanya kepada sepasang kekasih itu dengan suara yang ramah dan pelan.
"Tuan dan Nyonya mau pesan apa?" tanya Prily dengan lemah lembutnya.
Namun Prily kaget ketika wanita itu menarik pergelangan tangannya dengan kasar dan berteriak mencaci maki dirinya.
Semua yang ada di restoran itu sontak kaget dan menatap ke arah mereka. Zahra pun dengan santainya meneruskan makan nya tanpa melihat keributan di samping meja makannya.
Ricard mengerutkan keningnya karena melihat Zahra yang hanya duduk dengan santainya, tanpa memperdulikan asistennya di bully oleh seorang pelanggan.
Namun ketika seorang pelayan laki-laki yang hendak menghampiri Prily dan menolongnya. Zahra sontak mengangkat tangannya untuk menghentikan langkah pria tersebut dan menyuruh pelayan pria itu untuk kembali.
Rany, Dirgantara dan Ricard Alziro menatap heran ke arah Zahra. Zahra yang sudah selesai makan akhirnya berdiri dan berjalan ke arah Prily.
"Ada apa ini? kalau mau ribut tolong keluar dari sini, kalian hanya mengganggu pengunjung yang lainnya." ucap Zahra dengan tegas nya.
Perempuan itu lebih marah dan hendak menampar Prily namun dengan cepatnya Zahra menahan pergelangan tangan wanita itu.
"Apa kau ingin menamparnya?
silahkan saja, tapi 1 tamparan yang kau layangkan kepadanya akan buruk bagimu." dengan tajam nya ia berkata.
Zahra menarik Prily dan menyuruhnya segera kembali ke ruang kerjanya.
Seketika sang pria berdiri dan mau menampar Zahra namun ada beberapa bodyguart masuk.
"Nona besar, biarkan kami yang mengurus ke 2 pengacau ini" pinta kepala bodyguart.
Ricard Alziro seperti disambar petir mendengar panggilan beberapa pria bertubuh kekar itu memanggil Zahra dengan sebutan Nona Besar juga seperti halnya di club malam waktu itu.
Zahra Humairah manatap tajam ke arah orang-orang suruhan Ayahnya dan berkata.
"Saya tidak menyuruh kalian masuk ke sini! Kalian segera angkat kaki dari sini, dan kembalilah kalian ke Indo." ucap nya dengan tatapan yang begitu tajam.
Zahra menghempaskan tangan pria itu, seketika semua pengunjung yang ada di dalam resto kaget ketika Zahra menampar sepasang kekasih itu dan berkata. "Jangan pernah kalian menginjakkan kaki kalian disini, dan 1 lagi jangan pernah mencoba menyakiti pegawai dan juga asistenku karena saya tidak akan berkompromi dengan siapapun karena itu tidak akan baik untuk kelangsungan hidup kalian.
Kalian pergilah sebelum emosiku bertambah." jelas Zahra dengan emosi yang hampir meledak.
"Dan kalian juga kembalilah ke Indonesia, sungguh aku sudah muak melihat kalian selalu mengikutiku." ucap Zahra kembali kepada pria-pria berotot di depan pintu masuk.
Para pria bertubuh kekar itu, hanya berdiri seperti patung dan tidak membantah perkatakan Zahra.
__ADS_1