
Setelah perdebatan itu Adry maupun Ervan keluar dari ruang rawat Leon. Kini tinggal lah Zahra dan Leon di dalam ruangan itu.
"Kamu kalau lagi marah tambah cantik deh!" bisik Leon saat Zahra sudah duduk di sampingnya.
"Gak lucu tau!" ketus Zahra yang masih kesal dengan Leon karena membohongi nya.
"Ya udah, aku minta maaf, aku tahu aku salah, seharus nya gak bohongin kamu, tapi sungguh aku ngelakuin ini semua semata mata aku mencintai mu dan tidak ingin kamu sedih hanya karena pemberitaan tersebut." ucap Leon mencoba membujuk kekasih hati nya dan menarik Zahra ke dalam dekapan nya.
"Aku akan memaaf kan mu, tapi ada syarat nya!" balas Zahra sembari melepas kan dekapan Leon.
"Apa pun syarat darimu, aku akan memenuhinya selama jiwa dan raga ini ada di dekat mu, katakanlah." ucap Leon dengan melempar kan senyum nya.
"Aku ingin kesembuhan mu!" balas Zahra menatap Leon dengan mata berkaca kaca.
Leon membuang napas nya dengan kasar mengingat perkataan Zahra mengenai kesembuhan, pasal nya ia berpikir jika diri nya tidak dapat memenuhi permintaan Zahra, mengingat tubuh nya yang semakin hari semakin melemah saja, ia takut jika ia tidak dapat memenuhi persyaratan Zahra, namun ia dengan sekuat tenaga mencoba meyakinkan Zahra akan satu hal.
"Jodoh, kehidupan dan kematian, kita tidak tahu apa yang menjadi takdir kita, namun di saat seperti ini, aku tidak mau menjadi seorang yang optimis untuk mengharap kan sesuatu yang mungki tidak pasti dengan apa yang akan terjadi kedepan. Aku pun ingin sekali menjadi pria dengan seribu sayap yang bisa membawa segala kebahagian untuk mu, Al dan juga Grita anak ku, namun kau tahu, aku takut jika menjanji kan sesuatu kepada kalian tapi akhirnya aku mengingkari janji itu." balas Leon dengan memejam kan mata nya seraya menelan pahit segala takdir yang Tuhan berikan kepada kehidupan nya.
Jawaban Leon membuat Zahra bungkam, ia menyadari jika permintaan nya mungkin membuat perasaan Leon sedih, karena bagaimana pun seharus nya ia tidak mengorek segala keresahan yang di rasakan oleh Leon.
Melihat Leon yang tampak tak membuka mata nya, Zahra merasa sakit di hati nya, bagaimana pun ia sudah membangunkan kegundahan di pikiran Leon yang seharus nya tidak ia katakan.
Zahra pun tampak melamun dengan pandangan yang kosong mengarah ke luar jendela, setelah tidak mendengar kan suara apapun Leon pun membuka mata nya perlahan, dia berharap jika Zahra saat ini sudah tertidur di samping nya namun ketika membuka mata ia melihat tatapan kosong dari sorot mata Zahra, dan itu semua seperti seribu belatih yang menancap di tubuh Leon.
__ADS_1
Untuk mengalih kan kesedihan Zahra Leon pun mengirim kan pesan kepada Al.
"Dik, kakak ingin melangsungkan pernikahan kakak dan Zahra di Italya lusa nanti, kakak ingin kamu mengatur segala nya dari sekarang, kembali lah ke Italya. Kakak berharap kamu bisa memenuhi permintaan terakhir kakak, dan kakak mau semua konsep nya seperti yang telah kakak dan Zahra susun beberapa bulan lalu." isi pesan yang di kirim kan Leon kepada Al.
"Fan, kembali bersama Al sekarang, dan persiapkan pesta pernikahan yang mengah untuk aku dan juga Zahra, semua tanggung jawab mengenai pernikahan ku, aku serah kan semua nya kepadamu, aku tidak ingin ada bantahan apapun. Kau sahabat terbaik ku." isi pesan kedua yang di kirim kan Leon kepada Ervan sang asisten sekaligus sahabat nya.
Setelah berhasil mengirim pesan kepada mereka, Leon pun menarik Zahra dalam pelukan nya.
"Sayang, ada apa? kamu kok diemin aku sih." tanya Leon dengan suara berat nya seperti menahan tangis nya, entah tangis nya kali ini adalah tangis bahagia atau kesedihan karena telah mengatakan uneg-uneg dalam hati nya kepada wanita di dalam dekapan nya.
Tampah sadar setetes butiran bening akhir nya lolos dari kubangan nya, Leon tersenyum simpul mengingat sebentar lagi ia akan menjadi suami dari seorang wanita hebat seperti Zahra.
"Maaf, seharus nya aku tidak membuatmu bersedih, tapi apa salah jika aku meminta kesembuhan darimu." balas Zahra sembari mendonggak kan wajah nya menatap Leon dengan sorot mata
"Tidak ada yang salah dari segala ucapan mu, tapi kamu harus menjadi sosok yang lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi segalanya kedepan nanti. Karena aku Leon Alexander tidak ingin melihat Istrinya menangis atau pun bersedih dalam keadaan apapun karena senyum dan kecerian mu adalah obat untuk bertahan hidup." ucap nya kembali dan dengan tidak tahu malu nya ia menciumi seluruh wajah Zahra hingga sang empuhnya akhirnya tersenyum lebar.
Di balik pintu yang tertutup rapi, ada empat orang yang sedang tersenyum bahagia kala mendengar kan tawa kebahagian dari kedua insan yang berada di dalam ruangan itu.
"Sekian lama akhir nya kebahagian itu kembali lagi." gumam Ervan dengan mata berseri seri mengingat gelar tawa Leon dan zahra.
"Aku senang akhir nya kecerian itu kembali setelah hampir setahun lama nya memudar." membatin Adry di ikuti seutas senyum.
"Baiklah, kita akan mengatur segala nya dari sekarang. Ayo kita harus segera kembali ke Italya dan memberitahu kan kabar bahagia ini kepada seluruh dunia jika sang penguasa akan melangsung pernikahan yang mereka tunggu-tunggu selama ini." seru Ervan dengan bahagia mengingat senyum seorang Leon sebentar lagi.
__ADS_1
"Gun, kita harus bicarakan ini dengan Geral, karena segala keputusan Leon untuk meninggal kan rumah sakit ini ada di tangan nya." ucap Almira serius melihat ke arah Dr.Gun.
"Ayo kita diskusikan itu bersama nya, semoga saja di mengizin kan nya." balas Dr.Gun.
Ke empat nya pun segera berjalan menuju ruangan di mana Dr.Gerald tempati. Sesampai nya di sana Dr.Gerald segera mempersilahkan mereka masuk.
"Melihat kedatangan kalian pasti ada sesuatu hal yang penting, yang ingin kalian bicarakan dengan saya." tebak dr.Geral dengan ciri khas nya yang terlihat begitu humoris ketika melihat ke empat nya berdiri di depan nya, ia pun tersenyum ke arah mereka. "Ayo duduk, kita diskusi kan itu, namun tatapan kalian ubah lah sedikit." ucap nya kembali seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika mendapat kan tatapan dari ke empat nya.
"Dokter, Tuan akan menikah lusa nanti, jadi kami berharap anda bisa ikut berpartisipasi dalam menggelar pernikahan beliau." ucap Ervan dengan serius nya dan jangan lupa dengan sorot mata tajam ciri khas dari seorang pria berkacamata tersebut.
Pria di depan mereka begitu terkejut mendengar itu, karena yang ia ketahui kondisi Leon saat ini makin menurun dan tidak mungkin untuk melepaskan beberapa alat di tubuh nya. "Tidak, aku tidak bisa, karena--." balas Dr.Gerald yang terhenti dengan cara ia memejam kan mata nya.
"Apa maksud dari perkataan anda?" tanya Ervan kembali dengan dingin nya, namun beda hal nya dengan Al dan Dr.Gun yang tahu mengenai kondisi Leon.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Tuan Leon, alat di tubuh nya tidak bisa kita lepas kan, karena itu akan sangat berbahaya mengingat kanker di tubuh nya sudah stadium akhir dan kemungkinan kesembuhan nya hanya tinggal 20% saja. Terkecuali kita melakukan pencangkokan sum-sum tulang belakang sekali lagi, dan mungkin hasil dari operasi tersebut akan berhasil kurang dari 40% lagi." jelas nya kepada mereka.
"Mengapa kamu tidak memberitahukan itu kepada kami." bentak Ervan dengan sorot mata yang begitu tajam bagaikan sebuah belati dan menarik kerah baju Dr.Gerald.
"Kak, hentikan. Aku tahu mengenai kondisi kakak, tapi aku yang meminta dr.Gerald untuk tidak mengatakan nya pada kalian. Karena aku tidak ingin kalian khawatir." seru Almira tiba-tiba berdiri dan menepis tangan Ervan dari kerah baju Gerald.
"Apa yang harus kita lakukan saat ini?" ucap Ervan frustasi dan terduduk dengan lemas nya.
"Hanya ada satu pendonor yang memiliki kesamaan dengan kakak namun itu tidak bisa kita lakukan karena kakak mungkin tidak akan menyetujui nya." ucap Almira dengan lirih nya.
__ADS_1
"Apa lagi ini, Al?" dan kali ini Adry lah yang berbicara.
Melihat Almira yang tidak berucap, Dr.Gun pun angkat bicara. "Sebenarnya pendonor yang cocok dengan Tuan ialah Nyonya sendiri, dari hasil yang kami terima sewaktu Nyonya pingsan, kami melihat hasil rekam medis Nyonya dan menyatakan jika Nyonya memiliki kecocokan dengan Tuan." jelas Gun dengan berat hati.