
Setelah pertengkaran itu Zahra meninggalkan Italya keesokan harinya dan pergi tanpa ada yang tau mengenai keberadaannya. Ini adalah kali kedua Zahra pergi tanpa pamit kepada siapapun.
Reimont begitu putus asa karena kehilangan jejak Zahra malam itu, ia mencoba menggali informasi mengenai Zahra di club malam itu namun tak seorang pun menjelaskan atau memberikan info mengenai Zahra. Hingga tiba di mana ia harus segera kembali ke America dalam perjalanan menuju Airport Reimont tampak diam karna ia tidak tau harus menghubungi Zahra dengan cara apa untuk berpamitan.
Zahra yang sudah berada di dalam pesawat memilih beristirahat sejenak dan menutup mata menggunakan eye mask, keberangkatannya kali ini untuk menenangkan diri dan mencoba untuk mencernah segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya.
Beda halnya dengan Leon yang sedang mengurung diri di vilanya karna ia menyesali segala perkataannya malam itu kepada Zahra. Berapa kali Ervan maupun Almira mengetuk pintu kamarnya namun tak kunjung di jawab oleh Leon.
"Kakak apa yang terjadi,? Mengapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri, aku tidak ingin kehilangan kakak ataupun kakak ipar apapun akan aku lakukan demi kebahagian kalian, tolong buka pintunya kakak." teriak Almira dengan sedih.
"Kalian pergilah.! aku ingin sendiri, aku mohon tinggalkan aku sendiri." balas Leon dari dalam kamar tanpa membuka pintu.
"Kakak, aku tau kakak sedang tidak baik-baik saja, biarkan aku membantu kakak, aku pasti bisa menyembuhkan kakak walau nyawaku taruhannya kakak. Aku sungguh tidak ingin kehilangan kakak karna bagiku kakak adalah hal terpenting dalam hidupku setelah kepergian Ayah dan Ibu." curahan hati Almira begitu memilukan hati bagi setiap orang yang mendengarkan isi hatinya begitupun dengan Leon tidak sanggup meninggalkan Almira sendirian.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan kesalahan besar kepadanya, malam itu aku sungguh ingin memeluknya karna betapa hatiku merindukannya, tapi apa yang ku lakukan kepadanya." teriak Leon dan di ikuti beberapa dentuman barang pecah.
Mendengar itu Almira sungguh sedih dan memilih menyuruh Ervan untuk menghancurkan pintu kamar sang kakak.
"Ervan hancurkan pintunya, aku sungguh tidak bisa melihat kakak seperti itu, aku takut jika ia akan melakukan sesuatu terhadap dirinya." ucap Almira dengan khawatir jika Leon akan salah mengambil keputusan.
"Tapi Al, pintu itu terbuat dari baja kita tidak bisa menghancurkan pintu itu hanya dengan mendobraknya." jawab Ervan dengan pasrah
"Baiklah, aku akan memanggil mereka dan menanyakan cara merusak pintu baja itu" jawab Ervan kembali.
Setelah beberapa saat akhirnya semua berkumpul di depan kamar Leon, dan mencari cara untuk merusak pintu yang terbuat dari baja tersebut. Hampir 2 jam berlalu terdengar beberapa dentuman barang-barang yang di hancurkan dari dalam kamar hingga saat pintu berhasil di buka mereka begitu terkejut melihat isi kamar tersebut berhamburan di lantai sedangkan Leon duduk meringkuk di samping ranjang. Melihat itu hati Almira maupun Ervan seperti di tusuk beribu-ribu pisau melihat keterpurukan Leon.
"Kakak mengapa kamu seperti ini,? apa yang terjadi antara kakak dan Zahra,?" tanya Almira sembari memeluk erat sang kakak yang terus menerus mengutuk dirinya.
__ADS_1
"Kakak membuatnya menangis dan parahnya lagi kakak mengatakan hal buruk kepadanya, sehingga Zahra pergi dan tak tau kemana, apa yang harus kakak lakukan,? kakak tidak bisa mengatakan kebenaran mengenai apa yang terjadi dengan kakak. Maafkan kakak tidak menceritakan ini kepadamu sejak awal." balas Leon dengan butiran bening yang terus menerus jatuh.
"Kakak hentikan semua ini, ini tidak adil untuk kakak ipar, ia berhak tau mengenai ini apapun yang terjadi aku akan tetap mengatakan ini kepadanya agar ia tidak berpikir negatif kepada kakak." tegas Almira dengan kedua tangan memegang wajah sang kakak.
"Kakak tidak ingin ia sedih ataupun terpuruk setelah kepergian kakak kelak nanti, biarkan Zahra menjalani kehidupannya tanpa kakak, kakak mohon kepadamu jangan pernah katakan hal apapun kepada Zahra sekalipun mengenai penyakit kakak, dan jika kelak kamu tidak segaja bertemu dengannya dan ia menanyakan keberadaan kakak katakan jika kakak sudah bahagia dengan istri kakak dan biarkan kebohongan ini terus menerus hingga kakak tiada di dunia ini lagi." ucap Leon yang membuat Almira begitu sedih hingga berulang kali memeluk sang kakak.
"Kakak harus ikut bersamaku, aku akan menyembuhkan kakak apapun itu, aku sudah bertemu dengan dokter yang pernah menangani kakak sebelumnya dan dia adalah temanku, ia juga akan berkontribusi dalam operasi kakak." balas Almira menyakinkan Leon.
" Tidak, kakak tidak ingin tinggal di rumah sakit, apapun yang terjadi bawahlah kakak kembali ke Mansion kakak karna di sanalah kakak bisa mengenang Ayah, Ibu dan Zahra karna di sana juga banyak kenangan kakak bersama Zahra dan kamu. Kakak mohon jangan paksa kakak." mohon Leon kepada Almira.
"Baiklah kakak jika itu keinginan kakak, tapi kakak akan terus dalam pantauan ku, dan rutin melakukan chemotherapy walau hanya sebentar, segala sesuatunya akan menjadi tanggung jawabku." balas Almira.
Zahra yang tertidur dengan pulasnya di dalam pesawat tidak menyadari jika di sampingnya ada Reimont begitu pun dengan Reimont tidak menyadari jika di sebelahnya adalah Zahra karna Zahra menggunakan masker beserta eye mask. Hampir empat jam berlalu akhirnya Zahra terbangun dan mulai membuka penutup matanya. Saat ia hendak ke kamar kecil ia begitu familiar dengan sosok yang duduk di sampingnya dalam keadaan tertidur dengan mengenakan kaca mata hitam, namun dengan cepatnya ia menepis pemikirannya.
__ADS_1