
Setelah mengantar sang anak keluar Zahra pun segera kembali masuk dan mulai berbicara dengan Leon.
" Inikah alasanmu mengakhiri hubungan kita,?" tanya Zahra dengan butiran bening yang sedari tadi di tahannya.
"Apa maksudmu,? ini semua tidak ada hubungannya dengan perpisahan kita, aku mohon pergilah jangan membuat kesalah pahaman antara aku dan Prety." balas Leon dengan tegasnya walau dalam hatinya merasa rindu akan sosok di depannya.
" Dulu aku mengira kita akan menjadi pasangan yang akan saling berbagi apapun itu, tapi nyatanya kamu tega mengakhiri cinta kita tanpa memberi alasan yang pasti kepadaku. Jika benar kau tidak mencintaiku lagi katakan itu saat Istrimu ada di sampingmu." keluar sudah semua unek-unek dalam hati Zahra.
Toktok...
"Masuklah.!" sahutnya dari dalam.
"Hey, Honey bagaimana kondisimu,? apa ada yang sakit." tanya Prety dan memulai aktingnya dengan bergelut manja di lengan Leon.
"Dia siapa Honey,?" tanyanya kembali.
"Kenalkan Dia adalah Zahra, kakak ipar Almira." jawab Leon.
__ADS_1
Mendengar perkataan Leon yang menyebutnya kakak Ipar dari Almira membuat Zahra tidak dapat berkata apa-apa melainkan diam seribu bahasa.
"Zahra bisakah kamu pergi sekarang dan terima kasih telah menjengukku." ujar Leon dengan menahan tangis karna ia tidak rela membuat Zahra terlihat rapuh pada saat ini.
"Mengapa kau melakukannya Le,? Aku harap kau tidak akan pernah menyesalinya kelak nanti, dan jangan pernah memberikan harapan untuk putriku karna aku tidak ingin melihatnya sedih ataupun kecewa dengan perlakuan baikmu yang hanya pura-pura saja terhadapnya." jawab zahra dengan kesedihan yang teramat dalam di hatinya.
"Zahra aku tulus dan begitu menyayangi Aggrita tapi tidak denganmu, rasa cinta yang ada di hatiku untukmu dahulu, sudah tidak ada lagi saat aku bertemu Prety dengan sejuta kelebihan yang bisa memberikan segalanya. Maafkan aku, aku tidak me--..." belum sempat meneruskan perkataannya Zahra sudah berlari keluar dengan tangisannya.
"Le, apa yang kau lakukan,? seharusnya kau mengatakan segalanya pada Zahra bukan membuatnya lebih patah hati seperti saat ini, kau sungguh tega Le." timpal Ervan dengan kesalnya.
"Apa yang kau pikirkan, seharusnya kau optimis untuk penyembuhanmu bukan sebaliknya, dasar gila." teriak Ervan karna marah dengan ucapan Leon dan pergi tanpa pamit bersama Prety.
Kini giliran Tuan Laksmana yang masuk dan berbicara dengan Leon.
"Nak, bisakah Ayah berbicara denganmu,?" tanya Tuan Laksmana.
"Ayah, maafkan aku yang telah membuat Zahra sedih." ucap Leon.
__ADS_1
"Nak, mengapa kau tidak jujur kepadanya saja, Ayah tidak ingin kalian seperti ini, cobalah untuk berdiskusi dengannya, Ayah tau kamu mungkin merasa tidak percaya diri dengan kondisimu saat ini tapi alangkah baiknya kamu jujur kepadanya, usia, jodoh dan kematian adalah milih yang di atas, Dokter hanya menerka saja, kehidupanmu bukan di tentukan oleh Dokter, dan Ayah berharap kamu mau menyetujui permintaan Almira untuk melakukan chemoterapy." ujar Tuan Laksmana untuk membujuk Leon.
"Ayah aku sangat mencintai Zahra, tapi aku tidak bisa melihatnya terpuruk ataupun rapuh saat aku pergi kelak nanti. Semua ku lakukan untuk kebahagiaannya. Dan mengenai pengobatanku aku tidak ingin melakukannya karna aku tidak ingin terlihat seperti orang penyakitan yang tinggal menunggu hari kematiannya dan itu akan berakibat pada rambutku yang perlahan-lahan akan jatuh satu persatu sehingga membuatku terlihat sangat menyedihkan dan mungkin Zahra pun tidak akan sudih bersama denganku." jelasnya panjang lebar.
"Nak, apa kamu meragukan cinta Zahra kepadamu,? ada hal penting yang ingin Ayah katakan padamu dan mungkin ini akan menjadi pertimbanganmu sebelum semuanya kau sesali." ujar Tuan Laksmana.
"Di balik pintu yang tertutup rapat itu terdapat Zahra dan juga Reimont di luarnya. Saat ini Reimont sedang melamar Zahra di depan banyak orang, tapi Ayah menyuruhnya mempertimbangkan keputusannya untuk menerima lamaran Reimont terhadapnya, Ayah mohon untuk kamu memikirkannya lagi agar kelak kamu tidak akan menyesalinya." timpalnya kembali.
"Ayah, aku tidak memiliki keberanian itu untuk menceritakan semuanya pada Zahra, Ayah beri aku waktu aku ingin sendirian saat ini." ucapnya dengan tangisan..
Mendengar itu Tuan Laksmana segera keluar dan berulang kali menepuk pundak Leon karna ia begitu mengharapkan Leon untuk menjaga Zahra kelak nanti.
Setelah melihat kepergian sang Ayah, Leon tampak sedih dengan apa yang barusan di katakan sang Ayah kepadanya. "Siapkan jet sekarang juga, tunggu aku di atap rumah sakit dalam 10 menit." Leon berkata pada seseorang di balik telpon.
Setelah Leon selesai menelpon Leon pun membuka semua alat medis yang terpasang di tubuhnya, dan mencoba berjalan ke arah pintu, untungnya saat ini di luar ruangannya tidak ada seorangpun jadi dengan cepatnya Leon berjalan menuju lift khusus dan menuju atap rumah sakit.
Kali ini kepergian Leon adalah keputusan terbesar yang di ambilnya karna ia tidak ingin semua bersedih dengan keadaannya ataupun merasa ibah terhadapnya. Leon kini pergi ke tempat di mana tak seorangpun tau keberadaannya.
__ADS_1