
Setelah prosesi mencurah kan isi hati dari keluarga terdekat Ricard, iring-iringan tersebut pun membawa jasad Ricard ke peristirahatan terakhir.
Prosesi demi prosesi pun terlaksana kan dengan lancar setelah penaburan bungan di makam Ricard, satu persatu para pelayat pun meninggal kan makam. Hingga menyisah kan kedua orang tua Ricard, Zahra, Dirga dan si kecil Aggrita.
"Mah, udah ya, Ricard pasti sedih melihat Mamah seperti ini." bisik Papah Fikry tepat di telinga Mamah Lindah.
Ricard, terima kasih untuk segala nya, aku tidak mengira jika pertemuan kita kembali akan berakhir seperti saat ini, aku berjanji di depan makam mu, kelak aku akan membuat mu bangga dengan pencapaian anak kita, aku akan menjadi kan dia seperti kemauan mu. Berbahagia lah di sana, Card. Doa ku akan selalu menyertai nama mu. Gumam Zahra dalam hati sembari mengusap lembut batu nisan Ricard.
"Sayang, ayo kita pergi, sebentar lagi akan turun hujan." ucap Mamah Lindah yang sejak tadi melihat Zahra tak henti-henti nya mengusap nisan Ricard dan menitih kan butiran bening.
Zahra seperti sedang terbawa dengan pikiran nya, ia tidak mendengar ucapan dari Mamah Lindah dan Papah Fikry. Melihat itu Dirga pun menepuk pundak Zahra. "Ra, bangun lah. Sebentar lagi akan hujan." ucap Dirga.
"Card, aku tahu saat ini kamu pasti sedang melihat ini semua, di mana gadis yang telah mencuri hati mu dengan penuh kasih sayang sedang mengusap nisan mu. Tetap lah tersenyum di sana. Aku akan menjaga mereka dengan jiwa raga ku, untuk membalas segala kebaikan mu." gumam Dirgantara dalam hati.
Zahra pun terbangun dari lamunan nya. "Kami pergi dulu ya, bebahagia lah disana." ucap Zahra dan mencium nisan Ricard untuk terakhir kali nya.
Di rumah mewah sudah duduk keluarga besar Zahra maupun Leon beserta sang adik sembari menunggu kedatangan keluarga inti dari mendiang Ricard.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, terlihat si kecil berlari ke arah Leon dan memeluk nya.
"Daddy Eon." teriak si kecil yang kembali aktif saat melihat Leon. Leon pun dengan sigap nya membalas pelukan hangat dari calon anak sambung nya.
Mamah Lindah dan lain nya pun ikut bergabung duduk bersama keluarga besar Zahra. "Pah, Mah kami turut berduka cita atas kepergian Ricard." ucap Bunda Wina dan Ayah Laks bersamaan.
"Makasih Ayah, Bunda dan lain nya, jika tidak ada kalian mungkin prosesi demi prosesi akan sangat menyisah kan kesedihan yang mendalam bagi kami." balas Mamah Lindah sembari menggenggam erat tangan Bunda Wina.
"Ini sudah kewajiban kami sebagai keluarga." balas Bunda Wina sembari mengusap punggung tangan Mamah Lindah.
Setelah memastikan seluruh keluarga duduk, Donny mengeluarkan 2 buah amplop dari saku belakang nya. Semua tampak bingung.
Semua tampak bingung pasal nya sejak kapan Ricard memberikan surat itu kepada Donny, dan setahu mereka hubungan Donny dan Ricard sempat bersitegang paskah kejadian 7 tahun yang lalu.
Seperti tahu dengan tatapan dari semua nya, Donny pun tersenyum. "Ada hal yang tidak kalian ketahui selama ini, sebenar nya aku dan Ricard sudah bersahabat paskah kembali nya Zahra beserta Leon, kami pun sudah sepakat untuk menjaga Zahra maupun Aggrita meski kami tidak mendapat kan hati nya." jelas Donny secara jujur.
"Dan mengenai surat itu, Ricard menulis nya sehari sebelum kejadian yang merenggut nyawa nya. Awal nya aku sangat marah ketika ia memberikan surat ini, karena aku berpikir jika yang di lakukan Ricard sangat lah konyol, seperti ia akan segera meninggal saja, namun siapa sangka jika ia seperti mendapat kan firasat jika hidup nya akan berakhir ke esokan hari nya." jelas Donny dengan sedih nya, mengingat ia sempat marah besar kepada Ricard saat Ricard menyodor kan kedua surat tersebut kepada nya.
__ADS_1
Papah Fikry pun menerima surat tersebut dan dengan perlahan menyobek perekat pada amplop tersebut.
***Mungkin saat Papah dan Mamah membaca surat ini, Ricard tidak ada lagi di tengah-tengah kalian. Ricard bersyukur kepada Tuhan telah memberi kan Ricard seorang Ayah yang sangat hebat dan seorang Ibu yang mencurah kan segala kasih dan sayang nya kepada seorang anak. Ricard berharap Mamah dan Papah bisa melanjut kan kehidupan dengan baik dan bahagia. Ricard telah membeli rumah mewah di samping rumah Papah dan Mamah, jadi kan rumah itu sebagai hadiah pernikahan untuk Zahra dan Leon, agar kelak kalian tidak merasa kesepian saat Zahra membawa Aggrita pergi. Dan Ricard mohon penuhi permintaan terakhir Ricard dengan menikah kan Leon dan juga Zahra di hari ulang tahun Ricard lusa nanti.
I Love you Mom & Dad.... By. Ricard***.
Itu lah isi surat yang di tulis kan Ricard untuk kedua orang tua nya. Tanpa terasa butiran bening pun lolos kembali dari pelupuk mata kedua orang tua nya.
Papah janji akan melaksana kan amanat mu. Gumam Papah Fikry dan hati.
"Leon, ini surat kedua yang Ricard ingin aku berikan kepada mu." ucap Donny sembari menyodor kan surat tersebut kepada Leon. Dengan senang hati Leon pun menerima surat tersebut. Leon pun hendak merobek perekat amplop tersebut namun Donny keburu menahan nya.
"Le, setelah membuka surat itu, berarti kamu menyetujui apapun yang tertulis di dalam surat itu." suara itu ialah rekaman yang di buat Ricard sehari sebelum kematian nya, dan Donny lah yang menjadi perantara dari kedua surat tersebut.
Semua kaget saat mendengar suara lemah lembut Ricard, dan semua itu bagaikan sebuah hipnotis di ruangan itu, bagaimana tidak rekaman yang di putar Donny seperti nyata jika Ricard belum lah meninggal.
"Apapun itu aku akan melakukan nya." seru Leon dengan yakin.
__ADS_1
"Apa kamu yakin? akan memenuhi segala permintaan Ricard?" tanya Donny memastikan.
"Aku yakin!" balas Leon dengan serius. "Apa pun itu, karena bagiku kebahagian Zahra dan Aggrita adalah yang terpenting, sekalipun aku harus rela mengorban kan nyawa ku demi kebahagiaan mereka." ucap nya kembali dengan keyakinan.