
"Zahra aku tidak ingin ini terjadi, tapi aku tidak bisa membiarkan Aggrita hidup dengan didikanmu yang menurutku tidak terpuji," ucap Ricard kembali. Dan kali ini ucapan Ricard membuat Zahra marah besar karna perkataannya.
"Apa maksud dari perkataanmu,?" teriak Zahra dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Ricard.
" Kau pasti mengerti dengan perkataanku barusan, tanpa harus aku jelaskan.!" ucapnya.
"Kali ini aku tau mengapa kau tiba-tiba mempermasalahkan mengenai hak asuh Aggrita, ini semua pasti ada kaitannya dengan wanita jalang itukan! dan mungkin kau telah di hasut olehnya, tapi yang perlu kau ingat, aku Zahra tak akan pernah takut dengan siapapun sekalipun aku harus berhadapan denganmu di pengadilan nantinya." tegas Zahra.
" Itulah mengapa aku tidak ingin kau mengurus Aggrita, inilah yang aku takutkan. Kau begitu angkuh dan sombong Zahra!" balas Ricard.
Hal yang tak di inginkan pun terjadi ketika perkataan itu keluar dari mulut Ricard, tiba-tiba Zahra menyiram Ricard dengan secangkir kopi milik Ricard. "Kau sungguh menjijikan sama seperti wanita iblis itu, dan semoga kau tidak akan menyesali segala perkataanmu barusan karna telah terpedaya dengan wanita itu.!" tegas Zahra dan berjalan meninggalkan Ricard.
Leon yang sedang berkumpul dengan sahabat kekasihnya merasakan sakit di kepala yang sangat nyeri, ia pun mulai merasa penglihatannya mulai buram, dan juga merasa kelelahan dengan cepatnya ia berpamitan. "Aku pergi dulu, ada beberapa hal yang harus aku lakukan, dan tolong katakan kepada Zahra, aku akan menemuinya nanti di Apartement." ucap Leon seraya meninggalkan Rangga dan lainnya.
"kamu hati-hati di jalan Le." balas Rangga seraya tersenyum kepadanya.
Leon merasakan nyeri di kepala yang tak tertahankan hingga akhirnya ia memilih pergi ke rumah sakit tanpa memberitahukan Zahra karna ia tidak ingin Zahra khawatir dengannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan anda,? dan mengapa kau terlihat begitu pucat Tuan Leon.?" tanya sang dokter.
"Aku merasakan sakit kepala yang hebat dan ini tidak seperti biasanya dan juga seluruh tubuhku seperti alergi hingga menimbulkan lebam keungguan di bagian-bagian tertentu." jelas Leon ketika sang dokter menanyai kondisinya.
" Baiklah kita akan mulai dengan tes darah dan juga aspirasi sum-sum tulang karna biasanya gejala seperti ini terdapat pada pengidap Leukimia." ucap dokter.
Leon begitu terpukul ketika mendengar penjelasan dokter dan mulai kebinggungan. "Apa yang harus aku lakukan, dokter?" tanya Leon.
"Tuan jangan terlalu menghawatirkannya, ini hanya diagnosa awal saja, karna penyakit ini sulit di pastikan dan untuk memastikannya kita akan segera mengetahuinya setelah kita melakukan beberapa tes, seperti tes darah dan juga prosedur MRI." jawab dokter untuk menenangkan Leon.
" Terdapat penyumbatan di pembuluh darah hingga menyebabkan pasien selalu merasakan sakit kepala yang hebat dan terdapat beberapa lebam di tubuhnya dan di pastikan pasien mengidap kanker darah dok.!" jelas perawat.
Dokter pun dengan besar hati menyampaikan kondisi Leon. " Tuan, anda mengidap kanker darah stadium empat, dan saran saya anda sebaiknya tidak melakukan aktifitas berat ataupun membuat anda drop karna itu akan sangat berbahaya bagi pengidap leukimia seperti anda." ucap dokter.
Ketika mendengar penjelasan sang dokter membuat Leon tampak frustasi dan tidak bisa mengendalikan emosinya. "Dokter, ini tidak lucu.!" teriak Leon.
"Maafkan saya Tuan, tapi itulah kenyataannya. Saya sarankan anda untuk melakukan kemoterapy agar memperlambat penyebaran sel kanker ke tubuh anda." jawab sang dokter.
__ADS_1
Leon sungguh tidak sanggup lagi mendengar perkataan dokter, ia pun berjalan seperti orang yang kebinggungan dan berulang kali ini menabrak beberapa orang yang ada di rumah sakit itu.
Zahra yang sudah kembali usai bertemu dengan Ricard tidak menemukan kekasih hatinya di club, tanpa bertanya kepada pada para sahabatnya ia pun bergegas kembali ke apartementnya namun ia tidak menemukan Leon di sana juga, ia mengambil ponsel di dalam tasnya dan mulai menelpon Leon namun tak kunjung di jawab. Sudah hampir lima jam lamanya ia menunggu, Leon tak kunjung kembali atau mengabarinya.
Hari berlalu begitu cepat, hingga saat pukul sepuluh malam Leon tak kunjung pulang. "Apa yang terjadi kepadanya,? mengapa ia tak menjawab panggilanku!" monolog Zahra ketika ia memikirkan Leon yang entah hilang kemana.
Leon yang kini sedang duduk di tepi pantai mencoba menenangkan diri, ia tidak tau harus berkata jujur atau menyembunyikan penyakitnya kepada Zahra dan Almira. "Apa yang harus aku lakukan, aku tidak sanggup jika harus meninggalkan orang yang ku cintai, Tuhan. Mengapa kau memberiku cobaan yang begitu berat kepadaku di saat aku sedang asik-asiknya mencurahkan cinta dan kasih sayangku kepada mereka." teriak Leon di tepi pantai dengan butiran bening yang begitu deras mengalir di pipinya sejak meninggalkan rumah sakit.
Tepat pukul tiga dini hari Leon pun kembali ke apartement, ia yang awalnya mengira jika Zahra sudah tidur tampak terbelalak ketika ia masuk dan menyalakan lampu, terlihat sosok yang di cintainya sedang duduk dan menatapnya begitu tajam.
"Sayang, kok belum tidur sih,?" tanya Leon.
"Kamu dari mana saja? dan mengapa kamu tak menjawab panggilanku. Apa kamu tau aku sangat khawatir denganmu,Leon!" teriak Zahra dengan kekesalannya.
Leon tak menjawab dan berlalu menarik Zahra dalam pelukannya, pelukan itu begitu erat, saat Leon memeluk Zahra dengan eratnya ia tidak mampu menahan tanggisnya namun dengan kasarnya ia membersihkan butiran bening dari pipinya.
"Ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan sehingga aku tidak mendengar panggilan darimu dan melupakan jam pulang. " Kelak jangan menghawatirkan aku lagi, aku sangat mencintaimu sayang." jelasnya sambil mengusap kasar butiran bening yang terus menerus jatuh di pipinya.
__ADS_1