Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
38. Gaun untuknya


__ADS_3

"Selamat datang tuan Alziro, Apa ada yang ingin anda cari." tanya pegawai toko dengan rama nya.


"Bantu aku memilih gaun terbaik di butik ini!" pinta Ricard.


Ricard pun berjalan menyusuri butik, matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna biru langit yang sangat indah. Ricard pun mengangkat tangan kepada pelayan butik. "Saya mau gaun ini" seru Ricard dengan mata berbinar binar.


Sang pelayan toko pun mengambil gaun tersebut dan berjalan menuju meja kasir. Ricard pun mengambil sebuah kartu berwarna hitam dari benda berukuran kecil dan menyerahkan nya kepada pegawai toko tersebut, setelah nya ia pun keluar dari butik, tapi hendak berjalan menuju lift ia teringat jika Zahra akan sangat cantik jika mengenakan gaun tersebut lengkap dengan setelan perhiasan. Ricard pun menuju toko perhiasan. "Saya mau yang ini, tolong bungkuskan untuk saya." ucap nya cepat.


"Baik Tuan Alziro." balas pegawai toko dengan melebar kan senyum.


Ricard yang sudah selesai berbelanja akhirnya kembali ke villanya. Di sisi lain Zahra yang sudah pulang ke Apartement sedari tadi, malah memilih menonton di ruang tamu dengan memakai hotpants pendek dan kemeja putih milik Ricard yang menutupi hotpansnya.


Toktok...


"Bentar.." teriak Zahra dari dalam. Zahra pun membuka pintu, ketika melihat Ricard dia kaget dan hendak menutup pintu kembali namun Ricard dengan cepat menarik pergelangan tangan nya . Zahra pun akhirnya membiarkan Ricard masuk ke apartementnya.


Ricard hanya menelan saliva nya saat mendapati Zahra yang hanya mengenakan hotpants pendek, dan kali ini ia sungguh terpesona dengan kecantikan Zahra yang sangat natural.


"Ricard, aku sungguh tidak ingin pergi kemanapun." ucap Zahra dengan rengekan.


Ricard dengan lembutnya menarik Zahra yang sudah berbaring di sofa. "Zahra bangunlah, dan kenakan gaun itu untuk ku. Cepat ganti pakaianmu." ucap Ricard dengan lembut nya, namun Zahra yang kunjung beranjak, membuat Ricard merasa gemes melihat tingkah Zahra.


Ricard pun duduk di samping zahra. "Jika kamu tidak pergi denganku-" belum sempat meneruskan bicaranya Zahra langsung beranjak bangun dengan malas nya dan mengambil gaun yang di beli Ricard dan berlari menuju kamar.


"Hahaha.. sungguh wanita yang keras kepala." gerutu Ricard.


"Zahra cepatlah, kita akan terlambat." teriak Ricard.


"Bentar lagi selesai." jawab Zahra dari balik kamar. Zahra yang sudah selesai bersiap pun akhir nya keluar. Dan sungguh Ricard terpana melihat kecantikan Zahra yang begitu cantik dan terlihat begitu sempurna bagaikan sebuah boneka yang di poles sesempurna mungkin hingga tidak terlihat kekurangan sedikit pun.


"Apa kamu sudah selesai melihat ku! jika kamu masih menatap ku seperti itu, kita akan terlambat ke jamuan itu." baritone Zahra membuat Ricard tersenyum dan secepat mungkin Ricard memberikan lengan nya ke pada Zahra.


Ketika bunyi denting lift, mereka pun masuk. Sungguh Ricard tidak mau malam ini segera berlalu karena sungguh dia jatuh hati kepada Zahra kali ini.


Ricard membukakan pintu penumpang untuk Zahra. Zahra pun masuk setelahnya Ricard ikut masuk dan duduk di kemudi. Selama perjalanan tidak ada yang bercerita, namun Ricard mencoba memecahkan keheningan.


"Zahra, dimana tunanganmu,?" tanya Ricard.


Zahra menatap Ricard dengan bingung karena ia tidak mengerti dengan lontaran pertanyaan yang di lempar kan Ricard kepada nya. Zahra pun sejenak mengingat pertengkaran antara mereka pagi tadi. "Bukan urusanmu.!" jawab Zahra ketus.


Ricard pun menghentikan mobilnya. "Zahra..Apa kau sungguh sudah bertunangan" tanya Ricard dengan kesal.


Zahra tak menghirau lontaran pertanyaan dari Ricard dan memilih memainkan ponsel nya.


Melihat Zahra yang tidak menggubrik pertanyaan nya Ricard mengeraskan rahangnya, dan menarik Zahra mendekat ke arah nya. "Zahra Aku sedang bertanya kepadamu. Ya atau Tidak." tanya Ricard dengan menekan pertanyaan nya.


"Apaan sih, lepasin tangan mu, Ricard!" ucap Zahra yang sudah mulai marah.


"Zahra, Ya atau Tidak." tanya Ricard kembali


"Ya, Aku sudah bertunangan." balas Zahra dengan kesal.


"Apa kamu tidak mencintaiku Zahra!." tanya Ricard dengan lontaran-lontaran pertanyaan yang membuat Zahra tampak kesal seketika.


Zahra terdiam sejenak. "Tidak, Aku tidak mencintaimu." balas Zahra cepat.

__ADS_1


"Sungguh.! lihat Aku dan katakan jika Kau benar-benar tidak mencintaiku." ucap Ricard. Kali ini lontaran pertanyaan Ricard membuat Zahra membeku layak nya ia seperti sedang berada dalam gua es, sejenak memikir kan pertanyaan Ricard ia pun mencoba mengalih kan topik pembicaraan. "Ricard kita hampir telat." ucap Zahra tanpa melihat ke arah Ricard karena saat ini ia begitu malu.


Ricard dengan kesalnya menaikkan kecepatan mobilnya.


"Ricard Aku mau turun, hentikan mobilnya!" pekik Zahra dengan kesal namun ia tahu jika saat ini Ricard pasti kecewa mendengar balasan dari diri nya.


Ricard sungguh tak menghiraukan Zahra yang berbicara. Setelah perdebatan panjang mereka pun sampai di hotel. Ricard turun dari mobil, dan di sambut oleh banyak wartawan yang mengelilingi mobilnya.


Ricard pun mencoba meredakan emosi nya dan berjalan memutar ke arah pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Zahra. Ricard pun memberikan lengannya kepada Zahra.


Zahra awal nya enggan menerima lengan Ricard namun melihat banyak nya wartawan ia pun segera melingkar kan tangan nya di lengan Ricard.


Semua begitu takjub ketika mendapati sosok wanita yang begitu cantik dengan balutan dress panjang yang menonjol kan belahan di dada nya, melihat kecantikan Zahra yang seperti bidadari yang turun dari surga, lontaran pertanyaan pun mulai bergema di pelataran hotel.


"Tuan Alziro, Apa wanita cantik ini adalah kekasihmu!" tanya salah satu wartawan.


Ricard pun mengatakan "Lebih tepat nya calon istri." semua pun bersorak namun semua kaget ketika seseorang berteriak.


"Zahra Humairah Chandra, selamat datang Tuan Putri." ucap pria tampan di ujung koridor hotel.


Seketika Ricard tampak bingung namun terlihat jelas Ricard seperti mengerutkan alis nya, ketika melihat sosok pria yang sedang meneriaki Zahra.


"Apa maksud Tuan Sadewa!" seru seorang wartawan.


"Wanita itu adalah seorang putri, dan seorang pewaris tunggal Chandra Corp!" teriak pria tersebut.


"Ricard, antarkan Aku pulang, sekarang." ucap Zahra di samping telinga Ricard dalam keadaan yang begitu gugup dan wajah yang begitu pucat seperti melihat malaikat maut. Ricard pun mendekat kan tubuh Zahra ke arah nya dan dengan eratnya ia memeluk pinggang Zahra. "Apa kau mengenalnya, Zahra." tanya Ricard.


"Dia adalah saingan bisnis ku waktu di Jerman." ucap Zahra tanpa memberitahukan kebenaran sesungguh nya.


Ricard tertawa licik ke arah sang pria tersebut. Dan menatap Zahra dengan lekat nya.


Dia adalah wanita paling sempurna, banyak pria yang mencoba mendekatinya namun tak seorang pun yang bisa mendapatkan hatinya." seru Sadewa tanpa melihat perubahan raut wajah Zahra yang sudah sangat memerah karena menahan api kemarahan.


"Apakah anda salah satunya Tuan,?" tanya wartawan kepada Sadewa dengan tersenyum.


"Ya, dia adalah orang yang pernah melamarku waktu di Jerman namun sayangnya saya tidak tertarik kepada seorang pria saiko seperti nya! dan yang di katakan nya barusan adalah kebenaran nya. Aku adalah pewaris tunggal keluarga Chandra! tapi apa yang aku dapat kan bukan semata dari keluarga ku karena semua itu adalah jeripayah ku sendiri. Dan berkat dorongan dari mereka sehingga aku bisa berdiri dengan identitas ku sendiri." pekik Zahra dengan melayang kan senyum yang du paksa kan dan menatap tajam ke arah Sadewa.


Perkataan Zahra kali ini berhasil membungkam mulut para wartawan untuk melayangkan pertanyaan kembali.


"Dan terima kasih untukmu Tuan Sadewa, karena telah membuka identitas ku di depan media." pekik Zahra seperti memberikan isyarat mematikan untuk Sadewa.


Ricard menarik Zahra masuk ke Aula acara namun Zahra menghentikan Ricard. "Tunggu! ada yang ingin Aku katakan pada Sadewa." ucap nya berbisik kepada Ricard.


Zahra pun berjalan menghampiri Sadewa. "Kau akan merasakan akibat nya, karena Kau telah membuka identitasku di sini." ancam Zahra dengan menyungingkan senyum kemenangan ke arah Sadewa.


Semua dapat mendengar kan yang di katakan Zahra kepada Sadewa, mereka merasa binggung, seorang wanita mampu membuat Tuan Sadewa berkeringat dingin.


Zahra pun berjalan menghampiri Ricard dan mengambil ponselnya di dalam tas, dan menelpon seseorang.


"Hancurkan Nirmala Group, tarik semua investasi yang ada di Nirmala Group sekarang juga."


Ricard tampak melonggo ketika ia mendengar yang di ucap kan Zahra kepada seseorang. Ini kali pertama nya Ricard melihat sikap Zahra pada saat ia marah, karena yang ia ketahui jika Zahra adalah pribadi yang sangat baik dan penyayang, namun ternyata bisa sekejam itu saat seseorang mengusiknya.


Zahra yang melihat raut wajah Ricard yang menatapnya dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan pun segera menggandeng lengan Ricard. "Aku akan menjelaskan semuanya setelah kita kembali." ucap Zahra dan melayangkan senyum ke arah Ricard.

__ADS_1


Ricard pun hanya mengangguk dan membalas senyum kepada Zahra.


Seketika kedua nya berjalan masuk pandangan semua tamu teralihkan kepada kedua nya. Banyak yang memuji kecantikan dan ketampanan kedua nya, dan ada beberapa orang yang mengenal Zahra pun segera menghampiri Zahra. Mereka pun saling menyapa. "Tuan Alziro, selamat datang." sapa Mr.Alex dengan rama nya.


"Terimah kasih, Tuan Xander. Senang berjumpa dengan anda." balas Ricard dan segera berjabat tangan dengan Tuan Xander.


"Nyonya Zahra, senang bisa bertemu dengan anda disini." sapa Tuan Xander ketika mendapati Zahra yang sedang berbincang dengan beberapa wanita di belakang Ricard.


"Mr. Xander. Senang berjumpa dengan anda juga. Sudah cukup lama kita tidak bertemu dan akhir nya bertemu di jamuan malam ini!" balas Zahra dengan tersenyum.


Ricard begitu terkejut mendapati sosok Tuan Xander yang sangat menghormati Zahra layak nya seorang yang sangat penting. Zahra yang sedang asyik berbicara dengan beberapa kolega nya menyadari, jika Ricard menatapnya dengan bingung.


"Ny.Denip, saya pamit dulu! ada beberapa hal yang ingin saya bicara kan dengan Tuan Alziro." ucap Zahra dengan lembut nya dan berjalan meninggal kan beberapa wanita sosialita yang sedang berbincang.


"Terima kasih, atas waktu yang Ny.Zahra berikan untuk berbincang bersama kami." balas wanita yang terlihat begitu berkelas dengan raut wajah yang terlihat begitu senang ketika berbicara dengan Zahra.


Zahra yang hendak menghampiri Ricard tiba-tiba terhenti langkah nya ketika seseorang menghalangi jalan nya.


"Selamat berjumpa kembali wanita cantik keluarga Chandra" seru pria bangsawan yang begitu tampan.


Zahra pun terhenti langkah nya ketika mendengar suara yang sangat di rindukan nya, dan alangkah kaget nya ia melihat pria di depannya dan tersenyum. "Kak Adri!" seru Zahra dan kedua nya pun saling memeluk satu sama lain. "Kakak kenapa bisa disini,?" tanya Zahra heran.


"Ini adalah acara anak perusahan kita, sayang!" balas Adry dengan senyum manis nya.


Ricard yang mendapati Adriyansyah di tempat itu begitu kaget, ia pun hendak menghampiri Zahra dan Adry untuk menyapa. Namun terlihat kembali oleh Ricard sosok Fahreza dan Alfian yang mendekati Zahra dan mengecup kening Zahra.


"Kakak, kenapa kalian datang kesini tidak mengabariku." ucap Zahra dengan marah karena tidak mengabari nya, namun Zahra terlihat asyik ketika bertemu dengan para Kakak nya dan melupakan Ricard yang sedang berbincang dengan beberapa pria namun pandangan Ricard tetap memperhatikan Zahra dari arah yang tidak terlalu jauh.


"Kakak Aku kesana dulu ya! Ricard pasti menunggu ku, sejak tadi aku melupakan nya." ucap Zahra dengan terang-terangan kepada ketika Kakak nya. Zahra pun hendak menghampiri Ricard namun pandangan Xahra tiba-tiba muram ketika melihat Ricard bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik.


Zahra begitu kesal melihat Ricard bersama seorang wanita. Zahra memutuskan untuk kembali ke Apartement, lagi-lagi ia ditahan oleh seseorang. Ya, pria di depannya adalah sahabat baiknya.


"Ny.Balldy, lama tak berjumpa." sapa Rian Salim.


"Rian, Aku sungguh merindukanmu." ucap Zahra dan mereka pun saling memeluk satu sama lain.


Puncak acara sudah dimulai. "Zahra maukah Kau berdansa dengan ku!" pintah Rian dengan melebar kan senyum yang sangat di dampa kan para wanita karena ketampanan nya yang seperti seorang pria bangsawan yang cukup menawan.


Zahra pun memberikan tangannya kepada sang sahabat. Mereka menuju lantai dansa, semua pun bertepuk tangan kepada Zahra maupun Rian saat memasuki aula dansa.


Ricard tampak marah saat mendapati Zahra yang sedang berdansa dengan seorang pria yang tidak kalah tampan nya dari diri nya. Ricard pun yang tak mau kalah mengajak salah seorang rekan bisnisnya, dan masuk ke aula dansa, mereka berdansa bersampingan, dan pembawa acara berteriak "Saatnya tukar pasangan!" seru pembawa acara dan di ikuti dengan sorakan tepuk tangan.


Ricard berhasil menangkap Zahra, Zahra yang begitu kesal kepada Ricard tak sedikit pun melihat ke arah Ricard walaupun mereka berdansa bersama.


Ricard pun mendekap pinggang Zahra dengan lekat nya. "Siapa oria itu, Apa dia tunanganmu?" tanya Ricard saat mereka berdansa.


"Bukan urusanmu!" ketus Zahra.


"Zahra jawab Aku, Apa pria itu tunanganmu.?" tanya Ricard kembali dan dekapan yang awal nya begitu lembut menjadi dekapan kesakitan untuk Zahra.


"Bukan! dia sahabat baik ku." jawab Zahra cepat karena merasa kesakitan dengan dekapan Ricard yang begitu erat di pinggang nya.


"Dan mengapa ke tiga kakakmu ada di sini.?" tanya Ricard memastikan.


"Ricard kamu tuh aneh deh, ngapain sih ngurusin urusan orang. Urus saja wanitamu sana." pekik Zahra yang sudah terlanjur kesal.

__ADS_1


Ricard pun tersenyum. "Kamu cemburu?" bisik Ricard.


"Siapa yang cemburu!" dengan wajah yang sudah memerah ia membalas pertanyaan Ricard.


__ADS_2