Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
105. Tega membohongiku.


__ADS_3

"Kalian sudah lihatkan, tidak mungkin bagi Leon membuat anaknya sedih apalagi menangis walaupun Aggrita bukan darah dagingnya sendiri tapi ikatan batin keduanya sudah mulai tumbuh sejak pertama mereka berkomunikasi beberapa tahun lalu." ujar Tuan Laksmana seraya menitihkan butiran bening kebahagian.


"Paman, Bunda dan lainnya ikutlah bersamaku. Sekarang tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, sejak kemarin kalian kurang beristirahat dan sebaiknya sekarang kalian beristirahat. Masalah si kecil akan aku tangani sebelum kita kembali." ucap Almira karna seluruh badannya terasa lengket sejak kemarin.


"Baiklah." jawab Donny.


Setelah mengantar semua keluarga ke area parkiran Almira pun pamit sebentar untuk menemui Leon dan menanyakan perihal si kecil.


Toktok...


"Masuklah." sahutnya dari dalam.


"Kakak aku akan mengantar Paman beserta yang lain kembali karna sejak kemarin mereka belum beristirah dengan baik, jadi aku ingin mengajak si kecil juga." ujar Almira dengan takut karna mengingat perkataan sang kakak.


"Aku tidak ingin pulang, aku ingin menemani Deddy lebih lama lagi, tapi jika Deddy tidak mengijinkanku aku akan kembali bersama Aunty." ucapnya dengan polos.


"Kalian kembalilah, biarkan dia di sini bersamaku, tapi tolong siapkan ranjang satu lagi untuknya beristirahat dan belikan dia beberapa setelan pakaian beserta beberapa cemilan untuknya." jawab Leon tanpa melihat ke arah Almira.


"Aku maunya tidur di samping Deddy saja, aku kan kecil dan ranjangnya Deddy besar pula." ucapnya kembali.


"Ya sudah, tapi janji gak bakalan ngopol ya." canda Leon terhadap si kecil.


"Aunty belikan aku popok ya biar aku bisa tidur di samping Deddy." pintanya dengan tersenyum malu kepada Almira.


"Siap Nona besar, Aunty akan membelikannya dan segera mungkin membawanya kesini. Ya sudah Aunty pergi dulu, Kakak aku pergi dulu jika terjadi sesuatu segera kabari aku meski aku bukan lagi Dokter pribadi kakak." Almira berkata dengan senyum yang lebar karna ia tidak tahan dengan kelucuan si kecil.


Kini tinggal Leon beserta Aggrita di ruangan itu. Leon pun mulai menceritakan sebuah dogeng kepada si kecil hingga perlahan lahan si kecil tertidur dalam pelukannya.


"Maafkan Deddy sayang, Deddy sungguh menyesali perkataan Deddy tadi terhadapmu ataupun Aunty beserta Paman Ervan. Deddy begitu menyayangi kalian tapi di sisa kehidupan Deddy, Deddy ingin melihatmu tubuh menjadi wanita dewasa dan seorang yang sukses sayang." membathin Leon dengan butiran bening yang jatuh terus menerus hingga akhirnya ia pun ikut tertidur.

__ADS_1


Hari berlalu begitu cepat di mana Zahra sudah tiba di bandara pada sore hari, ia pun segera bergegas menuju rumah sakit Almira. Dengan cepatnya ia bertanya kepada perawat penjaga mengenai kamar atas nama Leon.


"Selamat sore, saya ingin menanyakan nomor kamar atas nama Leon Alexander." tanya kepada salah seorang suster.


"Maaf anda siapa, dan apa hubungan anda dengan pasien." tanya perawat kembali untuk memastikan karna permintaan Leon.


"Saya kerabatnya yang baru datang dar-.." perkataannya terhenti saat beberapa Dokter yang berlarian sedang membicarakan kondisi Leon yang kembali kritis.


"Apa yang terjadi, mengapa Dirut bisa kembali kritis, kemarin Dirut baik-baik saat bersama Putrinya,?" tanya seorang suster kepada salah seorang Dokter.


"Apa mungkin operasi yang di lakukan Dokter kepala Mira tidak berhasil,?" kita harus segera mengabari Dokter kepala Mira atas kondisi Dirut, sebelum terjadi sesuatu hal di luar kendali kita."


"Baiklah segera mungkin aku akan menelpon Dokter kepala Mira untuk kesini." jawabnya.


Mendengar itu menjadi suatu pukulan besar untuk Zahra, ia yang sudah berlaku kasar terhadap Leon beberapa waktu yang lalu dan sudah berprasangka buruk terhadapnya.


"Apa yang terjadi kepada Leon,? jawab aku.!" teriak Zahra.


"Aku sedang bertanya padamu, Apa sebenarnya yang terjadi pada Leon,?" dengan gigihnya ia bertanya tanpa memperdulikan tatapan banyak orang.


"Maaf Nona, kami tidak bisa mengatakannya jika anda ingin mengetahuinya silahkan anda bertanya kepada Dokter kepala Mira saat beliau tiba di sini." balas sang Dokter kembali.


Melihat ke engganan dari sang Dokter Zahra memilih diam dan mengikuti Dokter tersebut dari belakang.


Sesampainya di sana Zahra pun di tahan oleh beberapa pegawal suruhan Leon untuk tidak memperboleh siapapun masuk tanpa persetujuannya.


"Maaf ruangan ini sedang dalam pengawasan ketat karna Tuan kami tidak mengijinkan siapapun keluar masuk tanpa persetujuannya." cegah beberapa pegawal.


Zahra memilih untuk tidak berdebat dengan para pegawal Leon dan memilih menunggu beberapa saat sampai beberapa Dokter pun keluar dengan raut wajah yang legah karna akhirnya kondisi Leon kembali membaik.

__ADS_1


"Dokter katakan bagaimana kondisinya,?" tanya Zahra memohon.


"Keadaan Dirut saat ini sudah kembali normal namun ia tidak di haruskan untuk di jengguk beberapa saat agar Dirut bisa beristirahat dengan cukup." jawab sang Dokter dan segera berjalan meninggalkan Zahra.


Hingga perdebatan pun mulai terjadi antara Zahra dan para pegawal tersebut hingga tiba di mana seluruh keluarga besanya beserta Almira datang.


Mereka tampak terkejut melihat keberadaan Zahra di depan kamar Leon bukan hanya itu mereka pun alangkah terkejut saat melihat beberapa pegawal yang sedang menghadang Zahra untuk masuk.


"Zahra, sejak kapan kamu di sini,?" tanya sang Ayah dengan keterkejutannya.


"Ayah, kalian sejak awal tau mengenai penyakitnya dan kalian tega membiarkanku tau ini saat dirinya kritis. Aku tidak menyangka kalian akan bersekongkol denganya, untuk membohongiku." tanya Zahra saat melihat seluruh keluarganya datang dan membuat semuanya tampak merasa bersalah kepadanya.


" Kalian minggirlah, ada beberapa hal yang ingin aku tanya kepada Leon di dalam.! " melihat kemarahan Zahra mereka pun mulai takut karna bagaimana pun Zahra adalah irang terpenting bagi Bos mereka.


Leon tak tau harus berbuat apa saat mendengar Zahra marah akan keluarganya, tapi dengan cepatnya Leon memanggil Prety pacar Ervan untuk berpura-pura menjadi Istrinya dan menyuruhnya segera datang.


"Hallo, Ervan minta bantuan Prety untuk menjadi Istri pura-puraku sekarang juga karna saat ini Zahra sedang berada di depan kamarku." jelas Leon dan di iyakan oleh Ervan.


"Baiklah, kami akan segera kesana dalam beberapa menit." balas Ervan.


Melihat kegigihan wanita di depan mereka, merekapun membiarkannya masuk. Sebelum melangkah masuk Zahra meminta Alfian untuk mengambil Aggrita karna dia tidak ingin Aggrita melihat pertengkaran antara dirinya dan juga Leon.


"Aku akan masuk dan mengambil Aggrita karna aku tidak ingin ia melihatku bertengkar dengan Leon." ujarnya dan segera masuk.


"Sayang, Bunda sangat merindukanmu, tapi ada beberapa hal yang ingin Bunda bicarakan dengan Deddymu bisakah kamu pergi bersama Papa Onnny." sapa dan tanyanya kepada sang anak.


"Baiklah Bunda, tapi aku ingin di gendong Bunda setelahnya Grita akan pergi bersama Papah Onny dan juga Ibu Ily." ujarnya dengan polos.


"Baiklah, terima kasih sayang udah mau ngertiin Bunda." balasnya seraya menggendong sang anak.

__ADS_1


Tapi saat mengambil sang anak di samping Leon tampak di sorotan mata Zahra seperti sedang menahan butiran bening yang sedikit lagi jatuh tapi dia mencoba menahannya karna tidak ingin terlihat oleh sang anak.


__ADS_2