
Zahra pun terduduk dengan lemas nya, ia tidak menyangka jika semua yang ia selidiki bertahun-tahun lama nya, rahasia besar itu pun terbongkar dengan sendiri nya. Ia merasa cukup bersalah telah mengatakan kebenaran mengenai kejanggalan atas kematian orang tua Prily.
Leon pun menghampiri Zahra yang sudah terduduk dengan lemas nya di samping ranjang. "Sayang, kau seharus nya tidak melakukan nya, Serkan orang yang sangat licik, kami beberapa kali mencari bukti kejahatan Serkan dan keluarga namun semua nya nihil." jelas Leon kepada sang istri.
"Maaf kan aku, aku tidak bermaksud lancang mencampuri urusan keluarga kalian, namun aku tidak sengaja mendengar perdebatan mu dan Serkan kala itu, kamu pasti ngat saat aku bertanya mengenai kondisi orang tua mu saat itu, tapi kau hanya berlalu meninggal kan aku begitu saja. Dan aku pun tidak sengaja menemukan beberapa lembar koran yang robek di ruang kerja mu. Aku pun mencoba menyatuh kan lembaran koran tersebut, dan menurut ku kecelakaan itu cukup janggal. Oleh karena itu aku meminta bantuan salah satu teman ku yang ada di California, untuk membuka kembali kasus orang tua mu. Setelah beberapa bulan, aku pun menerima email dari teman lama ku itu, dan semua itu berisi kan bukti-bukti kesengajaan dari jatuh nya jet pribadi Ayah mu." jelas Zahra karena tidak ingin sang suami salah paham terhadap apa yang ia lakukan beberapa tahun lalu.
"Dari mana kau bisa mengetahui rekaman yang ada di tangan Serkan?" tanya Fahreza.
"Seorang hacker tidak memerlukan apapun untuk mendapat kan informasi penting dari musuh nya. Aku menyadap ponsel Serkan, setelah nya aku pun mencuri beberapa data dari ponsel nya." jawab Zahra dengan angkuh nya.
"Dan mengenai orang tua Prily, kenapa kau yakin jika Serkan ada di balik kematian orang tua Prily." tanya Reza kembali yang penasaran dengan insting sang adik.
"Malam itu, malam yang sangat menyakit kan bagi Prily, tapi sudah lah aku tidak ingin mengingat nya lagi. Ternyata Ibu Serkan adalah Ibu sambung Prily, Ibu Prily meninggal saat Prily berusia 12 tahun, dua tahun kemudian Ayah menikah dengan Ibu Serkan. Ayah Prily meninggal karena ofer dosis, obat yang ia konsumsi adalah obat terlarang yang di berikan dalam dosis banyak, dengan campur tangan Paman Prily sehingga kasus itu di tutup begitu saja tanpa kejelasan. Namun ada beberapa hal yang tidak di ketahui Prily." jelas Zahra sembari tersenyum bahagia.
"Apa itu?" tanya Fahreza.
"Apa kakak ingat saat aku meminta kakak mengakuisi Preety Corp! itu adalah bagian dari semua rencana ku. Aku menjadi pemegang saham terbesar di sana. Aku sudah mengumpul kan semua bukti kecurangan Paman Prily selama memegang kendali perusahan dengan bantuan para di reksi, dan sebentar lagi semua harta kekayaan orang tua Prily akan kembali kepada nya. Mungkin waktu nya telah tiba." seru Zahra kembali mengingat akan ada beberapa orang yang datang saat ini.
Tok..tok
"Masuk lah!" balas Zahra.
__ADS_1
Tampak beberapa orang pria masuk sembari membungkuk ke arah Zahra. "Katakan lah!" seru Zahra.
"Ketua, ini adalah bukti kejahatan dari Tuan Keneth Sadrik. Tapi saat ini Tuan Keneth telah mengalih kan beberapa saham milik nya pada perusahan saingan. Dan menurut orang suruhan kita, Tuan Keneth akan melari kan diri ke Scotlandia." jelas beberapa pria tua di depan Zahra.
"Itu tidak akan terjadi, dan mungkin saat ini juga, pria brengsek itu sudah di tahan oleh polisi." balas Zahra dan menyalakan tv.
Di layar itu pun terlihat seorang pria paru baya di bawa oleh beberapa orang polisi dengan pegawalan yang begitu ketat.
"Terima kasih atas bantuan kalian." ucap Zahra sembari membungkuk ke arah para pria berjas tersebut.
"Ketua anda terlalu sungkan, kami melakukan itu karena kami pun tidak ingin merugi kan perusahan yang telah kami rintis bersama Edward Sadrik. Terima kasih atas bantuan anda, kami pamit dulu." balas beberap apria berjas sembari berjalan mundur dari ruangan Zahra.
"Apa Prily tahu mengenai semua yang kau lakukan untuk nya?" tanya Donny.
Semua tercengang dengan apa yang baru saja mereka lihat, bagaimana semua itu bisa kebetulan, sedangkan sang pemeran utama sedang dalam kondisi yang tidak sehat.
"Apa ada orang di balik ini semua Zahra? kau tidak sedang memegang ponsel terus siapa yang bermain saat kau tidak melakukan apapun." tanya Alfian yang penasaran.
"Selama ini aku dan seseorang menggunakan ini." ucap Zahra sembari mencabut lensa dari bola mata nya. "Situasi apapun yang sedang aku alami orang itu akan tahu segala nya meski kami dalam jarak yang cukup jauh." jelas Zahra dan menghancur kan lensa optik tersebut.
"Kenapa di hancur kan, dek!" tanya Fahreza bersamaan dengan Adry.
__ADS_1
"Kalian akan tahu sebentar lagi." ucap Zahra.
Adry diam-diam melihat ke arah sosok yang sangat ia rindu kan, ia berharap Al sudah mau memaaf kan diri nya dan mau kembali dengan nya.
Brraakkk... bunyi dari pintu yang di dobrak.
"Kak, apa terjadi sesuatu kepada mu? kenapa tiba-tiba kamera itu tidak berfungsi?" tanya Prily khawatir sembari membolak balik kan tubuh Zahra.
"Tenang saja, kakak baik-baik saja. Udah jangan nangis. Kayak anak kecil aja." balas Zahra sembari menghapus butiran bening di pipi Prily.
"Aku takut jika terjadi sesuatu dengan kakak, aku gak mau kehilangan orang terpenting dalam hidup ku lagi." seru Prily masih dengan isakan tangis.
Semua kembali tercegang, ternyata orang di balik kejadian hari ini adalah Prily. "Ternyata selama ini kalian mengelabui kami, yah!" pekik Alfian tidak terima jika kedua wanita di depan mereka melakukan segala nya dengan baik.
"Iri bilang kawan!" balas Donny dengan ledekan.
Hahaha.... semua nya pun tertawa saat mendengar candaan Donny.
"Baik lah kakak, aku harus segera pergi, siff pagi ku akan segera berakhir." ucap Al dan berlalu mendekati Zahra. "Kakak ipar makasih ya, aku tidak tahu jika kakak ipar tidak ada, mungkin aku akan berpisah dengan kalian dan di bawah pergi oleh kak Serkan." bisik Al dengan tubuh yang bergetar.
"Tenang lah, kau akan tetap bersama kami, tidak ada yang akan membawa kau pergi jauh dari kakak mu." balas Zahra sembari menepuk lembut pundak Al.
__ADS_1
Melihat itu Leon pun ikut bergabung memeluk sang adik dan istri nya. "Sejak dulu kakak yakin kamu adalah adik kandung kakak, Ayah dan Ibu tidak mungkin menyembunyi kan apapun dari kita, jika benar kau bukan adik kakak, setidak nya kita menemukan bukti, namun selama ini kita tidak pernah menemukan nya bukan." timpal Leon, ia sangat bahagia mengetahui kebenaran yang selama ini ia pegang teguh mengenai jati diri sang adik yang sebenar nya.