Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
109. Ervan kritis


__ADS_3

Zahra kini terlihat bahagia menjalani kehidupan barunya bersama anak semata wayangnya. Semua kasih sayang dan cintanya ia curahkan kepada sang anak. Ia pun mulai mengajari sang anak untuk melukis mengikuti jejaknya karna baginya segala sesuatu akan sangat mudah untuk di lakukan pada saat keingintahuan dalam diri menjadi acuan terbesar bagi kelangsungan hidup.


Menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal membuat Zahra menjadi sosok yang dewasa dan baginya kebahagian anak adalah prioritas utama. Namun di sela-sela kebersamaan ia dengan sang anak, bayangan Leon selalu muncul, pada saat itupun hatinya merasa gundah dengan keputusan yang di ambilnya sebulan yang lalu.


"Bagaiman jika ia benar-benar sakit? dan semua yang di katakan Ervan dan juga Ayah adalah benar! Apa yang harus aku lakukan." membatin Zahra dengan seribu pertanyaan yang ia tidak tau jawabannya.


Reza kini tiba di lokasi di mana Ervan dan yang lainnya di cekal. Ia tampak seperti singa yang kelaparan. Ia pun menuju lokasi persembunyian Ervan sementara. Sesampainya di sana ia begitu terkejut melihat Ervan yang terbaring dengan berlumuran darah.


"Apa yang kalian lakukan? mengapa tidak membawanya ke rumah sakit!" teriaknya dengan marah.


"Maafkan kami Bos, tapi orang yang kami hadapi cukup berkuasa di sini dan seluruh rumah sakit di ancam untuk tidak memberikan pertolongan kepada Tuan Ervan." jelas anak buah keluarga Zahra.


"Ervan kamu bertahanlah, kita akan segera mengantarmu ke rumah sakit. Dan aku pastikan mereka akan membayar semuanya.!" perkataannya kali ini membuat semua orang terdiam karna mereka tau benar jika ada yang mengusik keluarga Chandra tidak akan baik bagi kelangsungan hidup mereka.


Semua pun segera bergegas menuju rumah sakit namun lagi-lagi mereka di cekal saat dalam perjalanan. Tapi kali ini Reza tidak tinggal diam. Ia pun turun dengan berani dan di ikuti beberapa anak buahnya.


"Apa-apaan ini! kalian berhentilah mencari masalah dengan kami, jika tidak kalian akan tau akibat dari semua kekacauan yang kalian timbulkan saat ini." jelasnya dengan kemarahan yang hampir pecah.

__ADS_1


"Siapa kau? beraninya ikut campur dalam masalahku. Kau enyahlah dari sini sebelum aku habisi kau." teriaknya dengan sombong.


Fahreza sedikitpun tidak takut dengan ancaman dari pria di depannya. "Kalian pergilah, bawa Ervan secepatnya ke rumah sakit, jangan khawatirkan aku.!" ucapnya kepada bawahannya.


"Segera di laksanakan Bos." balas sang bawahan.


Mendengar perkataan Fahreza barusan membuat pria tersebut marah dan segera menendang perut Reza hingga ia terpental cukup jauh.


"Kau berani!" teriak Fahreza dengan kemarahan yang luar biasa dan segera membalas serangan pria tersebut. Kini Fahreza mulai membantai seluruh anggota gangster dengan kemampuannya sendiri namun di saat itu pun suara tembakan melayang di udara. Dan suara tembakan itu berasal dari pistol pria di depannya.


"Kau membuatku marah, dan kau akan mati di tanganku dengan mengenaskan." teriak pria tersebut.


"Kau, berani menentangku. Secepatnya kau akan mati di tanganku tapi sebelum itu kau akan menjadi tawananku." ucap sang pria dengan sombongnya.


"Sayangnya aku tidak takut dengan ancamanmu. Kita lihat saja setelah menghilangnya aku, apa kau akan hidup tenang atau tidak akan hidup dengan tenang saat kekuasaan yang sebenarnya hidup kembali di kota ini.!" ucapan Fahreza seperti bom waktu yang tinggal menunggu waktunya akan meledak dengan sendirinya.


Pukulan demi pukulan di layangkan kembali kepada Fahreza dan kali ini Fahreza terlihat begitu lemah dengan bercucuran darah dari setiap tubuhnya.

__ADS_1


Hari pun berlalu dengan cepat setelah mereka membawa Fahreza kini di rumah sakit Ervan mengalami koma karna benturan di kepalanya yang di hasilkan dari pukulan benda tumpul. Sehari sudah mereka tak kunjung mendapatkan kabar dari Fahreza.


"Apa terjadi sesuatu kepada kakak? mengapa ia tidak mengabari kita sejak kemarin.!" ucapnya dengan khawatir dan segera menelpon Alfian.


"Dek, segeralah ke Malaka, kita akan berjumpa di sana. Ada hal yang harus kita selesaikan di sana. Kakak akan segera kesana." ucapnya dengan jelas.


"Baiklah kakak, aku akan segera kesana." balasnya dengan singkat.


Perdebatan pun mulai terjadi antara Adri dan juga Almira.


"Aku akan pergi bersamamu!" jelas Almira.


"Sayang kamu tunggulah di sini, aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadapmu. Dan secepatnya aku akan mengabarimu jika semuanya sudah terselesaikan." balas Adri dengan memegang kedua pipi Almira.


"Tidak, apapun yang terjadi aku akan tetap ikut bersamamu. Sekalipun kau tidak mengijinkanku aku akan pergi tanpa dirimu karna semua ini berhubungan dengan kakakku." ucap Almira dengan keras kepala.


"Al saat ini aku tidak ingin berdebat denganmu, tapi aku katakan sekali lagi kamu tidak di ijinkan ikut bersamaku, apapun alasannya sekalipun nyawaku taruhannya kamu tetap tinggal di sini dan menunggu kabar dariku. Okey!"

__ADS_1


"Aku akan tetap pergi walau kau tidak mengijinkanku!" ucapnya kembali.


"Ok baiklah, tapi kamu harus janji untuk tidak melakukan hal yang bisa menarik perhatian orang agar mereka tidak mengenalimu." balas Adri dengan pasrah karna tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan kekasihnya.


__ADS_2