Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
112. Kepribadian ganda Zahra.


__ADS_3

Zahra yang awalnya janjian bertemu dengan Reimont beberapa jam yang lalu, tiba-tiba mendapatkan telpon dari Ervan yang sudah bangun dari koma dan menjelaskan situasi saat ini, dengan segera pun terbang menuju Malaka dan menitipkan sang anak kepada Prily yang sejak Zahra membawa pergi Aggrita, Prily ikut dengan Donny dalam perjalanan bisnis dan untungnya tempat yang Zahra tinggali dekat dengan lokasi Prily maupun Donny tinggali.


Zahra yang sudah tiba di Malaka, mencari buku telponnya dan menekan beberapa nomor gangster terbesar di Malaka yang pernah menjadi kaki tangannya.


"Selamat malam, Ketua.! Apa ada hal mendesak dan memerlukan bantuan kami!" sapa salah seorang kepala gangster.


"Selamat malam, kalian cari tau lokasi Irchan Kwal saat ini, karena ada hal yang harus aku selesaikan dengannya." dengan tegasnya ia menjawab sapaan itu.


"Dengan senang hati Ketua, tapi alangkah baiknya jika Ketua tidak terlibat dengan hal seperti ini lagi, jika Ketua berkenan biarkan kami yang melakukannya." balas sang ketua gangster.


" Tidak masalah, aku akan menyelesaikannya sendiri, tapi untuk itu siapkan aku sebuah pistol dan kirimkan lokasinya kepadaku dan temui aku di sana." ucapnya kembali dengan tenang.


"Baik Ketua, kami akan segera mengirimkan lokasinya dan akan segera kesana dalam lima belas menit." balasnya.


Setelah pembicaraan itu Zahra yang mengenakan setelan Kaos putih di padukan dengan celana jeans panjang dan rambut yang di kucir seperti ekor kuda dan sebuah Highhell terlihat seperti wanita pembunuh bayaran. Mendapatkan lokasi keberadaan Irchan Kwal membuat Zahra tampak seperti singa kelaparan dengan kecepatan tinggi ia pun tiba di lokasi itu. Ia melihat banyak mobil yang terparkir dengan banyaknya pegawal yang sudah membungkuk ketika melihat mobilnya tiba. Ia pun turun dan di sambut dengan hormat oleh petinggi-petinggi gangster di Malaka.


"Ketua ini barang yang anda minta, tapi sebelum itu, biarkan kami saja yang menyelesaikan ini." ucapnya kembali.


"Tidak, jika aku akan memerlukan kalian, akan aku hubungi kalian nanti." balasnya dengan tegas.


"Maafkan saya Ketua yang dengan lancangnya berbicara kepada anda." ucapnya dengan takut.


"Tidak masalah, aku akan segera masuk setelahnya kalian bisa membersihkan tempat ini." ucap Zahra dengan raut wajah memerah.

__ADS_1


"Siap di laksanakan!" balasnya.


Zahra pun berjalan masuk ke markas Irchan Kwal, namun sebelum masuk ia menyembunyikan pistol tersebut di belakang kaosnya. Api kemarahannya mulai berkobar saat mendapati ketiga kakaknya beserta Almira yang di gantung dengan berlumuran darah namun pandangannya terahlikan di pojok ruangan yang terlihat jelas sosok yang sangat di cintainya terkapar berlumuran darah seperti ke empat saudaranya.


"Irchan Kwal, lama tak jumpa!" teriaknya hingga membangunkan kelima sosok yang di cintainya.


Mendengar suara yang begitu asing mereka pun membuka mata, alangkah terkejut melihat Zahra di sana. Begitupun dengan Leon ia tidak menyangka akan di pertemukan di tempat seperti itu dengan Zahra untuk pertemuan mereka kembali sejak perpisahan beberapa bulan yang lalu.


"Dek, jangan lakukan itu lagi! kakak mohon.!" teriak Fahreza.


"Zahra, hentikan, kamu tidak harus melakukannya." timpal Adri ketika melihat sorot mata Zahra yang memerah seperti kobaran api yang sebentar lagi akan membakar gedung tersebut.


"Apa maksud kalian? katakan kepadaku!" pintah Almira.


" Sebenarnya Zahra pernah membunuh seseorang tapi semua itu di karenakan kami sekeluarga di sekap dan dengan kemahiran Zahra ia berhasil membebaskan kami dari gedung yang hampir meledak itu. Tapi sejak kejadian itu Zahra tampak berdiam diri, dan juga mengalami depresi sehingga ia lupa akan kejadian itu, oleh karena itu kami keluarga tidak pernah mengungkit masa lalu kelamnya waktu itu, tapi kejadian itu setahun sebelum dia menjabat sebagai CEO di One Group, Jerman." jelas Fahreza.


"Zahra, kakak mohon! jangan lakukan itu, kakak tau kamu tidak bisa melihat kami di perlakukan seperti ini, tapi alangkah baiknya kamu jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu sakit kembali." ucap Fahreza memohon.


"Kakak, terima kasih selama ini kalian tidak pernah mengorek masa laluku tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian." balas Zahra.


"Sungguh keluarga harmonis, dan selamat berjumpa kembali Zahra Humairah Chandra. Inilah waktu yang aku nantikan selama ini! terima kasih untukmu Leon Alexander yang sudah mau membawa kekasihmu kepadaku." teriak Irchan Kwal karena sebenarnya ia hanya ingin memancing Zahra untuk keluar untuk dendam masa lalunya.


"Sejak mendengar pemberitaan itu aku sudah tau maksudmu! tapi sayangnya aku tidak pernah takut denganmu. Karena bagiku kematian kakakmu belum sepenuhnya menghapus luka yang kau timbulkan kepada keluargaku." jelas Zahra dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Dasar wanita murahan, serang dia" teriak Irchan Kwal.


Belum sempat anak buahnya menyerang, Zahra sudah membidik kepala nya duluan.


Ketakutan Fahreza dan kedua adiknya akhirnya terjadi, dimana Zahra pasti membawa sebuah pistol pada waktu seperti ini, tapi mereka baru menyadari jika waktu itu pria yang meninggal adalah kakak dari Irchan Kwal.


Leon tak menyangka jika Zahra lah yang membunuh Arwin Kwal belasan tahun yang lalu. " Zahra, jangan gegabah! ini semua adalah jebakannya. Letakkan pistol itu! " ucap Leon dengan memohon.


"Satu-satunya cara mengakhiri semua ini adalah dengan kematiannya. Dan setelah ini kita bisa hidup dengan tenang." balas Zahra dengan sorot mata seperti takut akan masa lalunya kembali teringat saat di mana keluarganya hampir terpanggang di dalam gedung jika ia terlambat menemukan mereka.


"Hentikan, jika kalian berani menyentuh Ketua, aku pastikan kalian tidak akan bisa hidup tenang dan keluarga kalian pun akan merasakan akibat dari semua ini." teriak Rudolf Aston sang kepala gangster.


Kekacauan pun terjadi, di mana salah seorang anak buah Irchan Kwal mulai menembak Fahreza namun untungnya meleset dan mengenai tali hingga ia jatuh ke lantai. Melihat itu Zahra pun menembakki tali Adri, Alfian dan juga Almira setelah melihat itu Zahra pun menyuruh mereka untuk bersembunyi.


Irchan Kwal pun mendapatkan kesempatan dan menendang perut Zahra hingga ia tersungkul ke lantai dan mengambil alih pistol yang di pegang Zahra dan mengarahkan pistol tersebut di kepala Zahra.


Leon yang sedari tadi mencoba membuka ikatan di tangannya akhirnya berhasil dan berlari untuk menyelamatkan Zahra namun hal tersebut tidak baik untuk Zahra. Merasa kehadiran Leon, Irchan Kwal pun mengarahkan pistol itu dan hendak menarik pelatuknya namun Zahra dengan kecepatannya mendorong Leon dan mengambil pistol lain dan menembak kepala Irchan Kwal namun tanpa mereka sadari jika Zahra pun terkena tembakan di perutnya.


Leon pun berdiri dan hendak membantu Zahra untuk berdiri namun saat ia melihat pakaian Zahra yang sudah berlumuran darah ia begitu terpukul dan menyalahkan dirinya.


" Jangan menyalahkan dirimu, maafkan aku yang tidak pernah mengatakan sisi burukku kepadamu dan juga Almira. Jika kelak aku tidak ada lagi tolong rawat Aggrita seperti darah dagingmu sendiri karna selama ini ia selalu marah kepadaku karna selalu meninggalkanmu dan tidak merawatmu saat kamu sakit." ucap Zahra dengan tangan kanan mengusap pipi Leon dan tangan kirinya menekan perutnya yang tertembak.


" Sayang, buka matamu, aku yakin kamu akan baik-baik saja." ucap Leon histeris.

__ADS_1


Setelah ikatan mereka terbuka mereka pun segera berlari menuju Zahra dan Leon. Melihat itu Almira pun segera memberi pertolongan pertama kepada Zahra.


"Ra, kamu harus tetap sadar! aku akan menolongmu." ucap Almira walau ia tau kedalaman peluru yang masuk ke perut Zahra dan mungkin akan membuat ia tidak sadarkan diri.


__ADS_2