Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
156. Kecemburuan Almira


__ADS_3

Keluarga besar Zahra maupun Ricard kini sudah berada di lobby rumah sakit, semua pun berbondong bodong menuju ruang VVIP di mana kedua bayi kembar itu berada.


Al dan juga Ervan bergantian menjaga bayi kembar Zahra, sedangkan Leon tampak sedang duduk di samping Zahra di ruang ICU.


Seluruh keluarga terkejut mendapati dua box bayi di kamar VVIP tersebut, rasa penasaran menggerogoti pikiran mereka, tanpa menunggu balasan dari kedua orang yang sedang tertidur itu pun, mereka segera masuk. Alangkah terkejut nya mereka ketika mendapati dua sosok malaikat kecil yang sedang terlelap.


"Bun, Ayah sangat bahagia, Zahra kita melahir kan dua jagoan, kini rumah kita pasti akan akan sangat ramai." ucap Ayah Laks dengan mata berkaca kaca, mengingat susah nya Zahra saat membawa kedua bayi itu di dalam perut nya.


Mendengar suara yang berisik Al yang sedang tidur di brankar pun terbangun. "Ehh, Paman maaf Al ketiduran." ucap Al yang malu kedapatan sedang tidur bukan nya menjaga sang keponakan. Al pun dengan cepat berjalan ke arah Ervan. "Kakak, bangun. Di sini ada Paman Laks dan lain nya." panggil Al tepat di samping telinga Ervan. Ervan pun dengan segera bangun.


"Maaf, Paman." ucap Ervan tak enak hati.


"Gak pa-pah, kalian sudah bekerja keras dua hari ini, dan itu wajah saja jika kalian tertidur." balas Ayah Laks yang merasa tidak enak hati mengganggu waktu tidur kedua nya.


"Oh iya, Zahra sama Leon mana, Al?" tanya Fahreza yang tidak melihat sosok sang adik dan adik ipar nya.


"Paman, kak Reza ada hal yang ingin Al bicara kan dengan kalian, tapi Al mohon kalian tenang dulu." jelas Al sembari meminta keluarga kakak ipar nya untuk tenang.


"Ada apa Nak? ayo katakan!" ucap Ayah Laks masih tenang.


"Kakak ipar mengalami pembekuan darah, dan belum bangun dari koma, maka dari itu kakak sedang menemani kakak ipar di ruang ICU, tapi Paman dan lain nya gak perlu khawatir, kami sudah melakukan pencengahan dengan cara menggunakan salah satu pengencer darah, dan besar kemungkinan kakak ipar akan sadar dalam beberapa jam mendatang." jelas Al panjang lebar.


"Apa itu akan berhasil Al?" tanya sang Ayah yang masih mengkhawatir kan sang anak.


"Itu adalah cara yang sering di gunakan, karena kami mengetahui penyakit tersebut terlebih dahulu maka hanya dengan cara itu, kakak bisa melewati masa kritis nya." jelas Al kembali. Sehingga seluruh keluarga bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Apa Leon sudah memberi kan nama kepada kedua bayi mereka?" tanya sang Ayah lagi.


"Kakak belum memberi kan nama kepada mereka, kakak ingin menanya kan pendapat kakak ipar terlebih dahulu." Ervan yang membalas pertanyaan Ayah Laks kali ini.


Pagi pun berganti malam, Leon masih senantiasa menemani sang istri. "Ra, ayo bangun, aku mohon! kau selalu saja mempermain kan aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku gak kuat melihat mu seperti ini. Bayi kita sedang menunggu mu! ayo buka mata mu." ucap Leon dengan sedih.


"Aku tahu kamu kuat, bertahan lah demi anak-anak kita, Ra." ucap Leon kembali dengan isakan.


Perlahan lahan Zahra pun mengerjap kan mata nya. "Dad, Bunda haus." ucap Zahra serak.


"Bun, kamu sudah bangun." tanya Leon dengan bahagia saat melihat sang istri sudah siuman. Leon pun mengambil botol air dan membantu sang istri duduk agar bisa minum.


"Dad, bayi kita gimana?" tanya Zahra.


"Bayi kita sehat kok, sekarang sedang di gendong sama Oppah dan Ommah nya di ruangan." balas Leon dengan senyum mengingat sang istri pasti akan kaget jika mengetahui bayi nya bukan hanya satu melainkan dua.


Zahra pun mengangguk kan kepala nya.


Lima belas menit kemudian, Zahra pun di antar menuju bangsal nya. Ia terkejut melihat sang Ayah beserta Bunda menggendong dua dede bayi. "Dad, anak kita satu kan? kenapa di sini bisa ada dua dede bayi." tanya Zahra yang bingung.


Mendengar perkataan Zahra semua pun mengucap kan selamat. "Selamat sayang, kau wanita hebat, bisa ngelahiran dua malaikat kecil sekaligus." ucap semua nya bersamaan mengikuti permintaan Leon.


"A-aku punya dua bayi kembar. Dad, kita punya dua bayi kembar." teriak Zahra dengan bahagia ketika mengetahui diri nya melahir kan dua bayi sekaligus.


"Makasih sayang, kau wanita terhebat kami, kau selalu melengkapi hidup ku dan selalu memberi ku banyak kejutan. I Love you Bun." ucap Leon sembari mengatakan cinta kepada sang istri. Kedua nya pun saling berpelukan.

__ADS_1


"Saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang lengkap, ada Dad, Bunda, si imut dan kedua bayi kembar kita." seru Leon kembali, ia merasa bersyukur memiliki sosok Zahra di kehidupan nya.


Ervan dan Reza pun baru saja tiba dengan beberapa kotak makanan di tangan mereka. "Waktu nya kita meraya kan kebahagian ini." teriak Alfian dengan tidak tahu malu nya.


"Jangan berisik oon, di kira ini lapangan apa!" kesal Donny dengan tingkah Alfian yang sangat labil.


"Nak, bisa tolong nyalakan tv gak, Ayah ingin melihat tranding saham yang akan berlangsung beberapa menit lagi, tepat nya saluran International ya." pinta Ayah Laks kepada Donny.


"Baik, Ayah." Donny pun menyala kan tv tersebut. Donny bingung mau mematikan saluran atau membiar kan semua nya melihat kedekatan Adry bersama Alexa yang sedang menjadi tranding topik.


"Itu kan kakak Adry!" tunjuk Alfian ke layar tv dan semua pun melihat ke arah yang di tunjuk Alfian.


Betapa hancur nya hati Al ketika melihat kedekatan Adry dan Alexa. Namun ia tidak ingin ada yang mengetahui kesediahan nya termasuk kakak dan kakak ipar nya, ia pun berpura-pura berbicara dengan si kecil Grita.


Melihat Al yang seperti salah tingkah, Fahreza pun mematikan tv tersebut. Namun keleletan berpikir Alfian mengundang keresahan.


"Ternyata gadis bule itu seorang penyayi ya, pantas saja kakak Adry kepincut sama si bule." celetuk Alfian tanpa dosa. Fahreza pun mulai kesal dengan tingkah Alfian, tanpa berlata ia menyumpali mulut Alfian dengan pisang. "Kalau makan, jangan banyak bicara!" ucap Fahreza dengan sorot mata seperti ingin membunuh sang adik.


"Alfian, bantuin aku boleh gak, ada beberapa barang yang tertinggal di mobil tadi." ucap Donny mengalihakan pembicaraan Alfian yang hendak mengucap kan sebuah kaliamat yang pasti nya akan membuat Al sedih.


"Iya, aku juga ikut kalian deh." timpal Fahreza dan kedua nya pun segera menarik Alfian keluar dari ruangan itu.


Leon tahu jika Donny dan Fahreza merasa tidak enak hati dengan tingkah laku Alfian yang berbicara ceplas ceplos, tanpa melihat situasi.


Al pun berpura-pura menerima telpon. "Paman, aku pamit ya, ada beberapa hal yang harus aku selesai kan terlebih dulu sebelum lepas dinas. Kak, aku pamit ya." ucap Al dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Baik sayang, jangan terlalu kecapean, jaga kondisu mu juga." balas Ayah Laks. Setelah menerima persetujuan Al pun segera keluar dari ruangan itu.


__ADS_2