
Setelah meminta izin dari keluarga besarnya kini zahra mengalihkan pandangannya kepada Prily yang tampak sedang menangis. Ia pun segera berjalan menuju Prily yang sedang berdiri di samping Donny.
"Kakak, selamat ya, akhirnya penantian panjang kakak bisa berakhir di malam ini, semoga Kakak di berikan kebahagian dan aku yakin Kakak ipar akan selalu memberikan kebahagian untuk Kakak maupun Grita kelak nanti." ucap Prily dengan berlinang air mata kebahagiaan.
"Ly, makasih, selama ini kamu mensuportku dan selalu memberiku semangat untuk tetap melangkah, aku bersyukur di berikan adik sepertimu walau kita bukan saudara sedarah namun kau sama berarti dengan kakak Reza dan lainnya." balas Zahra dan segera memeluk Prily dengan eratnya begitu pun dengan Leon yang ikut memeluk Prily karena baginya Prily sama seperti Almira.
Donny yang melihat pun tampak bahagia, dan beban hidupnya kini berkurang ketika melihat wanita yang teramat penting dalam hidup beberapa tahun lalu sebelum ia memutuskan menikahi Prily bahagia bersama pria yang tepat seperti Leon.
"Jaga dia untuk kami Le, karena kebahagiannya kami percayakan kepadamu sepenuhnya." ucap Donny dengan tersenyum.
__ADS_1
"Bunda, Deddy, kok sejak tadi malah meluk Kakek, Ommah, Paman, Ibu dan juga Papah Ony. Grita sama Aunty, kapan di peluknya.?" ucapan sang anak kali ini mengundang tawa bagi seluruh tamu undangan yang ada, karena berhasil membuat mereka terkejut dengan gaya bicaranya yang terkesan cemburu karena tidak di peluk sejak tadi.
"Ooh...Anak Bunda sama Deddy mau di peluk juga,?" balas Zahra dengan Leon bersamaan dan keduanya pun segera berjalan ke arah di mana anak mereka berdiri bersama Almira.
Gadis kecil itu pun menganggukkan kepala, dan segera berlari ke arah Leon maupun Zahra. Leon dengan sigapnya menangkap anak sambungnya dan segera menggendongnya.
"Setelah Deddy sama Bunda nikah, Grita mau punya dedek bayi, biar Grita punya teman buat main. Soalnya kalau sama Aunty sama Ibu juga lama-lama Grita terlihat tua." ucap sang anak dengan polosnya dan berhasil membuat bola mata semua orang membulat karena terkejut mendengar perkataannya.
"Aunty sama Ibu cantik kok, tapi dari semua wanita yang ada di sini Gritalah yang lebih cantik." ucapnya kebali dengan bangga.
__ADS_1
"Tapi sayangnya Ibu sama Aunty gak suka ngompol di tempat tidur. Kalau Grita kan suka ngompol di tempat tidur." balas Adri dengan menahan tawa karena melihat raut wajah malu keponakannya.
"Adri, liat tuh wajahnya, udah memerah gitu." timpal Fahreza dan segera berjalan menuju Zahra dan Leon yang sedang menggendong Aggrita.
"Sayang, gak usah malu, Paman Eza gak bakalan kasih uang jajan ke Paman Adri biar tau rasa Paman Adrinya, siapa suruh berani ganggu keponakan tersayang Paman Eza." ucap Fahreza dan mengayunkan tangannya untuk memeluk keponakannya.
Setelah Aggrita di peluk Fahreza kini Leon menatap ke arah Adiknya denga mata yang sudah berair sejak tadi.
" Kakak, terima kasih telah menjadi orang tua untukku selama ini, ini adalah balasan yang Tuhan berikan kepada Kakak, Kakak sudah membesarkanku hingga aku bisa se sukses saat ini, aku bersyukur memiliki seorang Kakak sekaligus orang tua seperti Kakak, dan inilah waktunya Kakak membebaskan diri Kakak dengan mencari kebahagiaan Kakak sendiri, dan mengenai diriku Kakak tidak perlu menghawatirkan aku lagi. Aku sudah besar dan memiliki hidup sendiri dan mungkin setelah ini aku pun akan menikah dengan pria yang aku cintai." ucap Almira dengan tangisan.
__ADS_1
"Kakak, selamat ya, aku ngedoain Kakak sama Kakak Ipar semoga kalian bahagia selalu dan tidak akan ada perpisahan untuk ke sekian kalinya dan hidup hingga menua bersama." ucap Almira dan segera berlari memeluk Leon karena keluarganya saat ini hanyalah Leon seorang.
"Dek, terima kasih untuk segalanya, Kakak akan selalu ada untukmu, dan kali ini Kakak tidak akan menjadi orang tua tunggal bagimu karena Kakak Iparmu akan menjadi orang tua perempuanmu juga." balas Leon dan mengeratkan pelukan kasih sayangnya kepada Almira, Adik semata wayangnya.