Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
53. Kado Istimewah


__ADS_3

"Kita tunggu aja, mungkin Ayah sedang dalam perjalanan kesini." ucap Donny dan keduanya pun berlalu ke kamar masing-masing.


Matahari sudah tidak memancarkan sinarnya dan hari pun mulai gelap. Tepat pukul tujuh malam semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga dan sedang berbincang. Namun tidak dengan Tuan Laksmana.


Baby Aggrita berjalan menuju ruang keluarga bersama Prily yang ada di belakangnya. Semua pun mengalihkan pandangan ke arah Aggrita seraya tersenyum kepadanya.


Fahreza begitu kangen dan langsung menghampiri Aggrita. "Keponakan Paman tambah cantik aja deh!" ucap Fahreza dan langsung menggendongnya.


"Aman ali mana, kok gak aja Grita cih." tanya sang Keponakan.


"Paman abis kerja, Paman lagi cari uang yang banyak buat beli kuda ponny nya Grita." balas Fahreza seraya terus menerus menciumi pipi Keponakan nya.


Agrritapun mengalungkan tangannya di leher Resa dan membalas mencium pipi Fahreza. Semua pun tertawa mendengar cara bicara Aggrita yang sungguh menggemaskan.


ting tong...


Adriyansyah yang hendak berdiri membukakan pintu, tiba-tiba terhentikan langkah nya ketika Prily dengan cepatnya berucap, "Mas biar kan saya yang membukakan pintu. Mas duduk aja!" ucap Prily dan secepat nya berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Adriyansyah pun mengangguk.


"Siapa Ly?" tanya Ricard dari dalam.


"Kurir Tuan!" jawab Prily cepat.


Prily pun masuk dengan membawa sebuah kotak besar berwarna silver gold dan sebuah bungkusan yang cukup besar.


Semua pun tampak melonggo melihat kotak berukuran besar yang Prily pegang.Prily pun dengan santainya berucap. "Ini kado dari Tuan Safeer Ali untuk Aggrita." ucap nya santai.


Fahreza, Ricard maupun Donny saling bertatapan heran. Prily yang menyadari kebinggung ke tiga Pria itu langsung berkata, "Maafkan saya Tuan, seminggu yang lalu Tuan Safeer menelpon saya dan menanyai saya kabar baby Aggrita, saya pun mengundang Tuan Safeer namun tadi Ia menelpon dan mengatakan jika ia dan Nona Anita tidak dapat datang tapi ada yang mengantar kado buat baby Aggrita." jelas nya cepat karena melihat perubahan raut wajah dari ketiga pria di depan nya.


Namun dengan cepatnya Alfian membuka bungkusan berwarna coklat yang menyerupai bingkai. Ketika membukanya Alfian melihat ke arah Aggrita dan kembali menatap bingkisan itu. Semua yang melihat raut wajah Alfian berubah seketika seperti syok pun dengan cepat nya segera mengambil bingkai dari tangan Alfian.


"Alfian, ada apa denganmu, kok kamu menatap Aggrita segitunya?" tanya Ricard yang belum menyadari bingkisan yang di ambil Adry dan Fahreza dari tangan Alfian.


"Sungguh menakjubkan, lukisan ini sungguh nyata dan menyodorkan lukisan itu ke arah Ricard, Donny dan Tuan Fikry yang sedang berbincang. Ketiganya pun menatap ke arah si kecil.

__ADS_1


"Waww... sungguh lukisan yang sangat indah dan sungguh ini bukan hanya mirip tapi ini seperti wajah nya yang di taruh di sini. Ini seperti lukisan yang begitu nyata.


Ricard pun mengambil lukisan itu, sekilas Ia teringat akan Zahra dan menyergitkan alisnya. "Apa ini, dan kenapa lukisan ini terasa sangat familiar sekali? cara lukisnya dan juga penulisan namanya, sama seperti cara Zahra saat melukis!!" Ricard pun menepis semua yang ada di pikirannya.


"Bro, berikan kepadaku lukisan itu!" Alfian yang berucap kepada Ricard. "Lukisan ini sangat lah istimewah." ucap Alfian kembali saat Ricard memberikan lukisan tersebut kepada nya kembali.


Lukisannya di taruh tepat di samping foto Zahra. "Aggrita sungguh kembaran nya Zahra, Dek kami akan selalu mengingatmu, karena separuh tubuhmu ada di Aggrita." gerutu Alfian.


Kini semuanya beranjak menuju ruang makan, semuanya makan dalam diam, Setelah selesai makan, mereka kembali berbincang.


"Ommah, Paman Laks kemana? besokkan pestanya Aggrita." seru Adriyansyah.


"Ommah juga gak tahu, Paman kalian kemana." balas Ommah.


Melihat raut wajah Ommah Diana seperti tidak biasa nya Ricard pun memecahkan kekhwatiran semua orang. "Ya sudah, jangan khawatir. Aku akan mencoba menghubungi Ayah." ucap Ricard dengan cepat nya.


Setelah selesai semua pun beranjak kembali ke kamar masing-masing, namun tidak dengan Ricard. Ricard kembali duduk di ruang keluarga, dan menelpon Tuan Laks namun tidak tersambung.

__ADS_1


Ricard pun membaringkan tubuhnya di sofa namun pandangannya terarah ke foto Zahra dan lukisan yang di terima beberapa jam yang lalu.


"Apa mungkin Safeer yang mengirimkan hadiah ini dan bagaimana lukisan ini bisa mirip! ini pasti ada yang tidak beres!" batin Ricard dengan segala pikiran nya.


__ADS_2