
Waktu pun berjalan dengan cepatnya. Zahra yang sejak tadi tampak cemberut karena Leon tak kunjung memberikan selamat ulang tahun kepadanya.
"Sayang, pukul tujuh nanti aku ada jamuan makan malam bersama beberapa rekan kerjaku, kamu ikut, ya." ucap Leon kepada Zahra.
"Aku lagi males jalan, kamu pergi sama Ervan aja, ya." balas Zahra dengan cemberut.
"Kok gitu sih, aku gak mungkin loh kesana tanpa ada pendamping." ucap Leon kembali dengan menahan tawa karena sejak tadi ia melihat perubahan raut wajah Zahra yang seperti sedang kesal dengannya.
"Hhmm!" balas Zahra dengan deheman.
"Aku udah beli gaun untuk kamu, biar kamu kelihat cantik ketika mengenakan itu." ucap Leon kembali.
"Iya, ya udah aku siap-siap dulu." balas Zahra dan segera berjalan menuju kamar tanpa menanggapi perkataan Leon kembali kepadanya.
Kini di kediaman Leon telah berkumpul keluarga besar Zahra, dan juga sahabat dan para rekan kerja dari keduanya. Fahreza dan Naysila kini sedang sibuk mengatur beberapa cemilan di berbagai meja sedangkan Donny maupun Prily sedang sibuk merias gadis kecil keluarga Chandra. Almira, Adri beserta Alfian menjemput para tamu undangan di depan pintu masuk kediaman Leon.
Semua telah di berikan tugas masing-masing, sedangkan orang tua Zahra dan juga Ommah Diana sedang berbincang dengan para tamu undangan. Rasa cinta dan kasih sayang selalu di ajarkan oleh Tuan Laksmana kepada Zahra dan ke tiga Kakaknya. Saling suport dan menjaga satu sama lain menjadi prioritas utama untuk mereka.
Zahra maupun Leon yang sudah selesai bersiap pun segera turun dan menuju mobil mereka namun sebelum Leon mengemudi ia pun berkata kepada Zahra.
"Sebelum ke pesta jamuan makan malam, aku ingin menemui Al sebentar karena sejak kita kembali dari Malaka aku tidak lagi bertemu dengannya." ucap Leon tanpa melihat ke arah Zahra.
"Terserah kamu deh, toh pestanya masih sejam lagi." balas Zahra dengan kekesalannya.
Tanpa di sadari Zahra, Leon telah mengirim pesan kepada Almira mengenai mereka yang sudah menuju ke sana.
__ADS_1
"Dek, kami akan tiba dalam beberapa menit lagi." isi pesan Leon kepada Almira.
Almira tampak bahagia dan mulai kegirangan, semua pun telah bersiap siap untuk menyambut kedatangan Leon dan Zahra. Adri bersama Alfian meninggalkan Almira dan segera berjalan menuju ruang kontrol untuk mematikan seluruh lampu di kediaman Leon.
Kali ini suasana di kediaman Leon yang awalnya sangat bising kembali sepih karena semuanya sudah berkumpul di samping kolam renang yang memiliki luas yang cukup besar untuk menampung para tamu undangan.
"Le, apa yang terjadi? Kok gak ada penerangan sama sekali di rumah!" ucap Zahra dengan khawatir.
"Aku juga gak tau! apa mungkin Al lupa membeli token listrik seperti waktu itu." balas Leon dengan berpura-pura kaget.
Keduanya pun segera turun dan berjalan ke dalam, Leon yang sejak awal tau jika Zahra pasti akan mencari ponselnya namun sebisa mungkin Leon berpura pura meninggalkan ponsel Zahra di Apartement.
"Le, ponsel aku, ada di kamu kan!" tanya Zahra.
"Sayang, maaf, aku lupa membawanya." balas Leon.
"Sejak tadi kok kamu marah-marah sih!" balas Leon tak kalah ketusnya.
"Siapa juga yang gak marah, kamu sejak tadi ngeselin banget." ucap Zahra kembali dan segera berjalan tanpa tau arah yang ia tujuh.
Leon pun dengan perlahan berjalan menjauh dari Zahra karena ia tau jika phobiah Zahra dengan kegelapan belum sepenuhbya hilang.
Tak mendengar balasan dari Leon pun membuat Zahra tampak gelisa berulang kali ia meneriaki dan memanggil nama Leon namun tak mendapatkan balasan. Dan kali ini Zahra mulai merasa takut dan memilih berjongkok dan memeluk kedua lututnya dan mulai menangis.
"Selamat ulang tahun, Zahra.." Semua pun mulai menyanyikan lagu ulang tahun dan perlahan lahan Leon mengikuti mereka dari belakang dengan mendorong sebuah kue tar yang cukup besar dengan di atasnya ada sebuah lilin yang menyalah.
__ADS_1
Zahra dengan keterkejutannya pun dengan perlahan berdiri. Tangisnya pun mulai pecah ketika mendapati Ayah, Bunda dan para sahabatnya berada tepat di hari ulang tahunnya dan memberikan ia sebuah surprize.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Selamat ulang tahun, Bunda." kini nyayian itu bergema kembali dan alangkah terkejutnya Zahra mendapati sang anak menyayikan lagu ulang tahun untuknya bersama Leon.
"Selamat ulang tahun, sayang. Maaf, aku sudah membuatmu kesal sejak siang tadi namun kali ini ada beberapa hal yang ingin aku katakan." ucap Leon seraya memeluk Zahra dengan eratnya.
"Sejak kepulangan kita dari Malaka, aku sudah berdiskusi dengan Al mengenai ini dan meminta bantuannya untuk mempersiapkan pesta ulang tahunmu namun di balik ini semua ada satu hal yang menurutku harus meminta persetujuan dari Reza dan lainnya termasuk Ayah, Bunda dan Ommah dan mereka pun setuju." Setelah berkata panjang lebar Leon pun bertekuk di depan Zahra dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru.
"Will you marry me! Kamu adalah kebahagianku tanpamu aku tak berarti apa-apa." ucap Leon dengan tersenyum bahagia.
Zahra begitu terharu ketika sebuah lampu besar menyorot ke arahnya dan juga Leon, kali ini ia tidak dapat berkata kata dan terlihat jelas jika ia menitihkan butiran bening saat Leon menyodorkan sebuah kotak berisi cincin berlian yang memancarkan keindahan.
"Yes, I want to marry you." balas Zahra dan memberikan tangannya kepada Leon sembari tersenyum bahagia.
Sorakan pun mulai terdengar di ruangan itu, sahabat dekat Zahra maupun Leon memberi selamat kepada mereka, tampak kebahagian menyelimuti keluarga besar Zahra. Ommah Diana kali ini tak dapat menahan tangisnya lagi karena ia begitu bahagia melihat acara lamaran dari cucu perempuan satu-satu di keluarga Chandra.
"Kami hanya bisa mendoakan kalian, semoga kedepannya kalian akan saling menjaga satu sama lain, dan Ayah ingin kalian selalu mensuport satu sama agar kedepannya kalian bisa melewati segala permasalahan kalian dengan baik tanpa ada campur tangan siapapun." ucap Tuan Laksmana dengan menitihkan butiran bening tanda ia bahagia ketika melihat anak semata wayangnya di lamar.
Zahra maupun Leon berjalan maju dan memeluk Tuan Laksmana seraya meminta doa restu. Setelah mendapatkan restu dari pada kedua orang tua Zahra dan juga Ommah Diana kini Zahra menatap ke arah ketiga kakaknya dengan mata berkaca kaca.
"Kami hanya bisa mendoakanmu, kelak kami tak dapat ikut campur dalam hubunganmu dengan Leon karena semua sudah berubah dengan statusmu yang baru." ucap Fahreza dan memeluk erat Zahra.
"Terima kasih, kak. Kalian selamanya akan menjadi orang terpenting dalam hidupku. Statusku akan berubah setelah ini namun ikatan persaudaraan kita akan tetap terjalin selamanya." balas Zahra dengan berlinang air mata.
"Le, kami titipkan Adik kami, kepadamu. Jangalah ia seperti bagaimana kami menjaganya, jangan buat ia sedih dan jika itu terjadi kamu harus menanggung konsekuensinya." timpal Adri dan Alfian.
__ADS_1
Leon pun menanggapi perkataan calon iparnya dengan senyuman.