
Setelah merasa tidak ada yang menatap nya, Al pun berlari menuju ruangan nya, ia menangis pilu, mengingat kedekatan dan perkataan Alexa yang menyatakan jika mereka telah resmi berpacaran dua bulan lama nya.
"Kenapa harus sesakit ini! aku yang mengakhiri hubungan ini dan aku pula yang tersakiti." teriak Al di dalam kamar mandi.
Zahra tahu jika, Al pasti hancur ketika mengetahui kedekatan Adry dan Alexa yang bukan hanya sebatas sahabat. Maka dari itu Zahra memohon agar Leon bisa mengijin kan ia untuk menemani Al.
"Al, ayo bicara dengan ku! aku tahu kamu masih mencintai kakak Adry." ucap Zahra dari balik pintu.
Al pun membuka pintu, melihat sosok Zahra di depan nya, ia pun berhamburan memeluk Zahra. "Apa yang harus aku lakukan? aku yang memulai semua ini dan aku juga yang merasa sakit." keluar sudah apa yang di pendam Al beberapa bulan ini.
"Jika kau benar-benar mencintai nya, coba lah berpikir realistis, aku tahu kak Adry, dia gak bakalan semudah itu mengganti kan posisi mu di hati nya, terlebih kau adalah cinta pertama nya, waktu setahun tidak mampu menutup kenangan indah kalian Al, mungkin perpisahan kalian adalah salah satu cara untuk kalian saling menghargai perasaan satu sama lain." nasihat Zahra untuk adik ipar sekaligus sahabat nya.
"Makasih kak, aku bahagia bisa milikin kamu dan juga kakak. Makasih atas segala nya." balas Almira masih mengerat kan pelukan nya.
"Ya sudah, kakak balik dulu, bersihin wajah mu yang kusut itu." ledek Zahra sebelum keluar dari ruangan sang ipar.
"Hhmmm." balas Al dengan deheman, ia merasa malu dengan kakak ipar nya.
"Ra, kau wanita berhati malaikat yang Tuhan berikan di kehidupan kami, aku berdoa kelak kau dan kakak akan berbahagia dan bersama selama nya." gumam Al dalam hati, ia mengagumi sosok Zahra.
Setelah merasa cukup, Al pun kembali ke ruangan Zahra. Tepat saat Al masuk ia tidak segaja mendengar suara yang sangat ia kenali. Ya, di dalam sudah ada Adry bersama Alexa yang bergabung bersama yang lain nya. Al pun dengan acuh tak acuh duduk di antara Ervan dan Reza.
__ADS_1
Perbincangan makin seru saat Alfian menanya kan beberapa hal kepada Alexa. Namun kecanggungan cukup terasa di ruangan itu tatkalah saat Alexa menyapa Al, dan gadis yang di sapa pun dengan malas nya menjawab sapaan tersebut.
Tok..tok.. suara ketukan pintu.
"Masuk!" sahut Reza dari dalam.
Seketika Leon menatap Almira dan Ervan bergantian. "Selamat berjumpa kembali, Leon Alexander." ucap sang pria yang baru saja masuk.
"Mira ada hal yang ingin aku bicara kan dengan mu! aku sudah mencari mu beberapa hari ini, namun aku bersyukur pada beberapa stasiun tv yang selalu menanyang kan beberapa pidato mu, hingga aku menemukan kalian di sini." ucap sang pria tanpa rasa takut.
Leon pun memberi kode kepada Ervan, dan Ervan yang tahu maksud dari sang sahabat pun segera beranjak dari duduk nya.
" Serkan, kau terlalu banyak bicara. Ikut lah bersama ku." ucap Ervan dengan jijik nya.
"Serkan hentikan, kau hanya akan menakuti nya saja." pekik Leon yang mulai kesal dengan tingkah pria tersebut.
Tak terima dengan ucapan Leon, pria itu pun mengancung kan tangan nya ke arah Leon. "Kau, kau tidak berhak ikut campur dalam masalah kami, Leon Alexander." ucap sang pria dengan dingin nya.
"Serkan, keluar kau brengsek!" teriak Leon dengan kemarahan nya.
"Hahaha...Leon kau masih saja seperti dulu, kau tidak pernah berubah. Jangan ikut campur lagi, jika tidak rahasia besar ini akan segera menggempar kan penjuru negeri." ancam sang pria dengan berani.
__ADS_1
Fahreza, Adry dan lain nya, tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi, mereka pun hanya diam tanpa kata menyaksi kan itu semua.
"Ayo ikut aku Mira, jangan membuat ku marah, kau akan tahu akibat nya jika membuat ku marah." ucap sang pria setengah mengancam Al.
Zahra tak tinggal diam, ia pun beranjak dari ranjang. "Lepas kan Mira, kau tidak memiliki hak atas diri nya. Keluar dari ruangan ku." ucap Zahra yang sudah tersulut emosi.
"Hahaha.. Leon begini kah, cara mu mengajar kan cara berbicara kepada istri mu!" pekik sang pria yang menertawai Leon.
Plaakkk
"Kau mengira aku tidak tahu, apa yang selama ini kau gunakan untuk menekan suami dan Adik ipar ku." pekik Zahra yang sudah tahu dengan situasi yang di takuti Leon selama ini.
"Siapa kau? kau hanya istri dari seorang pria depresi, semua kekuasaan itu adalah milik keluarga ku, apa kau tahu itu." ucap sang pria itu dengan marah.
"Serkan Serkan, satu hal yang kau tidak ketahui selama ini. Kau hanya lah pion bagi keluarga mu, sebenar nya kau lah yang bukan anak kandung dari orang tua Leon dan Mira. Semua informasi yang kau dapat, serta rekaman pertengkaran orang tua Leon, itu semua untuk mengelabui kamu dan orang tua mu." jelas Zahra dengan serius.
"Ohh yah, satu lagi yang harus kau ingat, di dalam wasiat orang tua Leon, kamu hanya akan mendapat kan 2% saja dari harta kekayaan mereka, namun untuk mendapat kan nya, kau harus menyerah kan diri terlebih dahulu, untuk menebus segala kesalahan yang kau lakukan selama ini, termasuk kasus kecelakaan pesawat orang tua Leon yang kau dan Ayah mu rencana kan." tambah Zahra kembali dengan sorot mata elang nya.
"Kau! jadi orang yang selalu membuntuti aku dan Ayah ku setahun lalu itu adalah kamu. Aku sungguh bangga dengan keberanian mu. Kita lihat saja setelah rekaman ini tersebar, apa kalian masih bisa mengalah kan ku untuk merebut segala kekayaan Alexander, Hahaha." ancam sang pria di ikuti gelak tawa.
"Lakukan apa yang kau ingin kan! tapi kau harus ingat ini, aku pasti kan kau dan seluruh keluarga mu akan mendekam di penjara seumur hidup, atas pembunuhan berencana terhadap orang tua Prily. Ohh atau mungkin kau lupa dengan gadis yang kalian buang saat ia berumur 14 tahun. Aku tahu segala nya, Serkan." ucap Zahra dengan marah ketika mengingat di mana ia menyelidiki kasus orang tua Prily yang di kabar kan meninggal karena serangan jantung. Namun semua bukti yang ia dapat berbanding terbalik dengan pemberitaan.
__ADS_1
Zahra pun merampas ponsel Serkan. "Kau ingin mengirim nya bukan? aku akan membantu mu mengirim kan rekaman ini." Zahra pun menekan tombol kirim dan membagi nya di berbagai media masa dan juga stasiun tv. "Keluar!" teriak Zahra dengan mata yang memerah.
"Kalian tunggu pembalasan ku!" pekik Serkan sebelum keluar dari ruangan itu.