Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
151. Mbok-Mbok jual sayur.


__ADS_3

"Dek, kamu baik-baik saja kan? jika Adry memang jodoh mu, kalian pasti akan kembali bersama, dan mungkin Tuhan sedang menguji kekuatan cinta kalian." ucap Leon saat melihat kesedihan di raut wajah sang adik.


"Apaan sih kakak, siapa juga yang mikirin dia." balas Al dengan menyangkal segala perkataan sang kakak.


Zahra tak segaja melihat Al beserta Leon, ia pun merasa kasian terhadap adik ipar nya, ia pun berpamitan kepada keluarga nya.


"Ayah, Zahra kesana dulu ya." ucap Zahra dengan tidak enak hati.


"Baik sayang." balas sang Ayah.


"Hey, sedang ngomongin apa sih, serius banget." tanya Zahra pura-pura mengalih kan topik pembicaraan Al dan juga sang suami.


"Gak tahu nih kakak, dateng-dateng ngomong gak karuan, bawah gih suami mu kesana!" balas Al dengan kekesalan nya.


"Oh iya, selamat ya atas pernikahan kalian, cepat beri aku dan Grita teman untuk main, takut nya jomblo lapuk ini bakalan karatan mengingat umur nya yang hampir tidak muda lagi, alias tua." celetuk Al dan itu membuat Leon gemes dengan sang adik, ia pun seketika menarik pipi tembem Al.


Kekesalan Al pun bertambah, ia pun meninggal kan kedua nya setelah memeluk Zahra dengan erat nya. "Bey bye!" ucap Al dan berlalu pergi.


"Kamu sih, jadi ngambek kan dia." marah Zahra kepada sang suami.


"Lah kok aku di salahin. Kan dia aja yang suka sensian, dikit dikit ngambek, dikit dikit marah-marah gak jelas." balas Leon tak mau di salah kan.


"Nak, selamat ya atas pernikahan kalian. Papah sama Mamah senang bercampur bahagia, ketika satu dari amanat Ricard terlaksana kan. Makasih ya udah mau melaksana kan amanat Ricard. Semoga kalian bahagia selalu dan cepat-cepat mendapat momongan, Papah dan Mamah percaya jika kasih sayang dan cinta kalian akan selalu tercurah kan untuk Aggrita." ucap Papah Fikry dengan tersenyum.


"Tidak ada yang akan menganti kan posisi Aggrita di hati kami, sekalipun itu darah daging saya, Paman." balas Leon dengan tegas nya.


"Makasih Nak, sudah menerima Aggrita meski ia bukan darah daging mu sendiri." ucap Papah Fikry dan memeluk Leon, ia mengira jika Leon pasti akan mempermasalah kan keberadaan sang cucu di antara pernikahan mereka, namun semua nya di luar ekspetasi dan Leon tidak terlihat sedang berpura pura melain kan terlihat jelas ketulusan dari sorot mata nya.

__ADS_1


"Ya sudah, Papah dan Mamah ingin berbincang dulu dengan Ayah dan Bunda kalian." pamit Papah Fikry kepada kedua nya.


Seluruh rangkaian acara pun terselesai kan dengan lancar. Hari berlalu begitu cepat nya, ini adalah bulan ke empat setelah pernikahan Zahra dan Leon.


"Dad, ada apa? Daddy kok terlihat pucat!" tanya Zahra khawatir saat melihat raut wajah sang suami yang begitu pucat dan lemas.


"Gak tahu, sejak selesai sarapan tadi Daddy mual melulu. Ini aja udah ke 10x nya bolak balik buat muntah doang." keluh Leon kepada sang istri dengan lemas nya.


"Ya sudah, Bunda telpon Al dulu deh, siapa tahu Al punya obat buat ngilangin mual nya Daddy." jelas sang istri dan meraih ponsel di atas nakas.


"Hallo, Al. Kamu bisa tolong kesini gak?" mohon Zahra kepada sang adik ipar.


"Aku baru aja mau kesana buat ngantarin paketan kalian yang hampir memenuhi seluruh ruang keluarga." balas Al yang kelabakan dengan banyak nya kado pernikahan dari berbagai Kota dan Negara tetangga yang pasti nya itu semua di kirim kan oleh rekan bisnis dari kedua pengantin tersebut.


"Jangan lama ya, kasian kakak mu udah lemas banget." pintah Zahra kembali.


Zahra dan Leon, bukan tidak menerima hadiah rumah pemberian mediang Ricard, namun mereka berjanji akan sering mengunjungi rumah tersebut saat akhir pekan tiba, agar sang anak lebih sering menghabis kan waktu nya bersama kedua orang tua Ricard.


"Kakak ipar, apa yang terjadi dan di mana kakak?" tanya Al saat sudah berada di kediaman Leon.


"Kakak mu ada di kamar, kamu langsung ke kamar aja, kakak mau nyiapin bubur dulu buat ngejanggal perut kakak mu." jelas Zahra kepada Al. Al pun mengangguk dan segera berjalan menuju kamar utama di rumah mewah tersebut.


"Kakak, kok bisa kayak gini sih! emang sebelum nya kakak makan apa?" tanya Al khawatir ketika melihat wajah lemas nya sang kakak.


"Al, kamu jauh-jauh deh dari kakak. Parfum mu buat kakak ingin mual lagi." usir Leon kepada sang adik sembari menutup hidup nya karena merasa mual saat mencium aroma parfum yang di kenakan sang adik.


"Gimana Al, apa ada yang terjadi? atau peny-." tanya Zahra khawatir.

__ADS_1


Hoeeekk Hoeeekkk terdengar Leon kembali muntah-muntah setelah Al keluar dari kamar nya.


"Huussstt jangan pikir yang macem-macem dulu. Kakak apa kamu sedang hamil?kamu udah cek kehamilan mu belum?" tanya Al memastikan.


"Gak, emang kenapa?" tanya Zahra bingung.


"Ya sudah, cepat deh siap-siap, kita ke rumah sakit dulu. Buat periksa kehamilan kakak ipar dulu. Takut nya itu kakak terkena sindrom couvade. Biasa nya itu terjadi saat istri hamil suami yang ngidem." jelas Al dengan senyum mereka.


Zahra terdiam sejenak sebelum lamunan nya di buyar kan sang adik ipar.


Seandai nya aku beneran hamil, aku dan Leon pasti akan sangat bahagia, tapi jika tidak pasti Leon akan kecewa dengan ku, yang belum memberi kan nya keturunan.


"Lah kok bengong sih, udah cepetan. Aku nelpon kak Ervan dulu, takut nya aku gak di kasih semobil sama suami mu itu." ucap Al kepada Zahra.


"Terserah kamu aja deh." balas Zahra dan berlalu kembali ke kamar.


15 menit kemudian, Zahra beserta Leon tampak sudah keluar dari dalam kamar namun Al dengan segaja nya lewat di samping sang kakak. Leon pun dengan cepat nya menutup hidung nya. "Al, kamu segaja ya lewat di depan kakak!" kesal Leon dengan sikap sang adik.


"Siapa juga yang segaja, aku kan mau ngambil apel, siapa juga yang suruh kakak berdiri di situ." balas Al dengan santai nya.


Hooeeekk Hooeeekk.


Leon kembali berlari menuju kamar nya dan memuntah cairan bening kembali ketika mencium bau parfum sang adik. "Kenapa dia Al? kayak orang ngidem aja." tanya Ervan yang berlari masuk ketika mendengar Leon yang muntah-muntah.


"Mana ku tahu. Masa aku di bilang kayak mbok-mbok jual sayur pake parfum emak-emak lah. Kesel tau gak." balas Al dengan kesal nya mengingat Leon mengusir nya dan mengatai diri nya seperti mbok penjual sayur di pasar.


Hahaha "Ada-ada aja nih Leon." balas Ervan. "Tapi jika di lihat-lihat perkataan kakak mu ada benar nya juga deh, lihat aja sejak kepergian Adry kamu kayak gak ke urus lagi." ledek Ervan dan segera berlari menuju mobil namun langkah nya terhenti saat Al menarik kerah belakang Ervan.

__ADS_1


"Haaisstt.. Tidak semudah itu lari dari ku, kakak." ucap Al dengan seringai licik, ia pun menyumpal mulut Ervan menggunakan Apel yang di pegang nya. "Itu pembalasan dari ku." bisik Al dan segera berlari menuju mobil nya sembari memelet kan lidah nya ke arah Ervan.


__ADS_2