Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
31. Keras kepala


__ADS_3

"Rany tolong keruanganku sekarang" pinta Zahra.


toktok...


"Zahra, Apa ada yang bisa saya bantu??" tanya Rany.


"Rany, kamu belikan aku beberapa alat lukis dan kertas lukis, ini uangnya." jelas Zahra sembari menyodorkan uang kepada Rany.


"Baik Zahra.." balas Rany seraya mengambil uang yang di berikan Zahra kepadanya.


Hampir setengah jam Zahra menunggu kedatangan Rany, akhirnya Rany membawakan keperluan yang Zahra minta. "Makasih ya Rany." ucap Zahra.


"Iya sama-sama Zahra, jika kamu membutuhkanku lagi, jangan sungkan untuk menelponku." ucap Rany dan berlalu meninggalkan ruangan Zahra.


Melihat Rany sudah keluar dari ruangannya, Zahra pun menghampiri pintu ruangannya dan mengunci diri di dalam ruangan nya.


Ricard tidak habis pikir dengan tingkah Zahra. "Apa yang akan dilakukannya,? kenapa dia tiba-tiba mengunci diri dan menarik semua blind di ruangan itu??" membathin Ricard. Ricard pun keluar dan menghampiri Rany.


"Jangan biarkan orang masuk ke ruanganku, siapapun itu! Aku ingin istirahat." dengan tegasnya ia berbicara.

__ADS_1


"Baik CEO.!" balas Rany.


Ricard pun kembali masuk keruangannya dan mengunci diri dari dalam.


Zahra menarik semua blind untuk menutup semua kaca yang ada di ruangan nya tanpa ia sadari kaca yang cukup besar di sampingnya sebenarnya bisa dilihat dari ruangan disebelahnya yang tepatnya penyambung ke ruangan CEO. Zahra mulai bermain dengan alat lukis, dia mulai menggambar abstrak.


Ricard yang melihat nya merasa takjub dengan keahlian Zahra dalam menggambar.


Zahra dengan begitu cepat bisa menggambar 3 lukisan Abstrak, dan menggambar kembali kejadian antara diri nya dan juga Ricard tanpa ia sadari, ia menggambar seorang pria yang sedang menahan pergelangan tangan seorang wanita.


Ricard yang melihat pun tersenyum dan perlahan-lahan kemarahannya hilang ketika melihat gambar yang dilukis Zahra persis seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu terhadap Zahra.


Zahra Humairah terhanyut dalam melukis sehingga melupakan jam pulang kantor dan melupakan jam makan malam, hingga membuat penyakitnya kambuh.


Dia pun meraih ponsel yang tidak di sentuh nya sejak ia melukis, alangkah kaget nya ia ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 22.00 malam, dengan cepat Ia membereskan alat lukisnya.


Namun Ricard sudah memegang gagang pintu ruangan nya, agar ketika Zahra keluar ia pun akan keluar, sehingga ia bisa berpapasan dengan Zahra.


Zahra takut jika melihat sebuah boneka. ketika dia membuka pintu, sesak di dadanya membuat dia berkeringat dingin, "Ayah, Bunda Aku takut, disini ada boneka yang sedang melihat ke arahku! tolong Aku, Ayah." Zahra yang merintih ketakutan di ambang pintu ruangan nya.

__ADS_1


Ricard merasa aneh ketika tidak mendapati Zahra keluar dari ruangan nya, dan seingat dia, Zahra sudah membuka pintu ruangan tersebut tapi tak kunjung keluar dari ruangan itu, ia pun mempercepat langkah nya. Namun langkah nya terhenti saat di depan pintu ruangan Zahra. Ia mendapati Zahra yang sudah bersandar dipintu dengan keringat dingin dan begitu pucat pasif seperti ketakutan.


"Zahra, apa yang terjadi? mengapa kamu begitu pucat, apa kamu sedang sakit!" tanyanya dengan seribu kebinggungan.


"Ricard tolong Aku, nyalakan lampunya." pinta Zahra dengan suara tertahan.


"Ada apa sebenarnya,? jangan membuatku takut, Zahra." ucap Ricard yang begitu khawatir dengan keadaan Zahra.


"Aku takut, di sana ada sebuah boneka yang sedang menatap ke arahku." sambil memegang dadanya, butiran beningpun jatuh tepat di tangan Ricard.


Ricard tau lampu di perusahannya ada di ruang tersendiri, dan ia tidak bisa menyalakan lampu pada saat jam operasional kerja telah selesai selain ada hal yang sangat mendesak, namun mengenai boneka, mana mungkin di kantor ada boneka, Ricard pun berpikir jika lampu, ada saat untuk di nyalakan kembali.


"Aku akan menggendongmu keluar dari sini, kalau kau merasa takut kau boleh menyandarkan wajahmu ke dadaku." ucap Ricard dan segera melepaskan jasnya untuk menutupi wajah Zahra dan mulai menggendongnya menuju lift khusus CEO. Zahra pun mengalungkan tangan di pundak Ricard.


"Kamu tidurlah, jangan memikirkan apapun." ucap Ricard dan terus menerus menenangkan Zahra. Ricard merasakan debaran ketika Zahra mengalungkan tangan di pundak nya. Sesampai nya mereka di dalam lift Ricard menyadari jika Zahra sudah tertidur. Ricard tak tahu harus membawa Zahra kemana, karena saat ini di Apartement Zahra tidak ada siapa pun, dia pun berpikir untuk membawa Zahra ke villanya, menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai di villa megah Ricard.


Ricard pun kembali menggendong Zahra masuk ke villanya dan menaruh Zahra di ranjang nya. Ricard pun tidak ingin terjadi salah paham antara diri nya dan juga Zahra , ia pun berpikir jika ia akan tidur di ruang kerja nya namun ketika ia hendak berjalan Zahra menahan pergelangan tangannya.


"Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut." Zahra yang tak melepaskan tangan Ricard. Ricard pun duduk sambil memandangi wajah yang ada di depannya.

__ADS_1


"Wanita yang keras kepala, tapi sayang kamu takut dengan boneka." membathin Ricard. Ricard pun turun dari ranjang dan tidur duduk di samping ranjang dengan tangan yang saling memegang satu sama lain.


Setelah memejamkan mata beberapa saat, Ricard pun bangun dan keluar mencari salah seorang pelayan untuk menggantikan pakaian Zahra yang sudah sangat basah dengan keringat.


__ADS_2