
Leon yang sudah selesai mandi pun ikut tidur di samping Zahra dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek selutut. Kini keduanya hanyut dalam pandangan satu sama lain.
Zahra berulang kali menggambar di dada Leon dengan jemarinya, Leon pun membalas perlakuan Zahra dengan mengelus elus pipi Zahra seraya menariknya lebih dekat dan mengeratkan pelukannya.
"Sayang, maafin aku ya, yang sudah membuatmu sedih beberapa waktu lalu. Aku sungguh tidak sanggup harus hidup tanpa ada kamu di sisiku." ucap Leon sembari mengecup dahi Zahra berulang kali.
"Aku juga minta maaf, sudah berpikir negatif tentang dirimu waktu itu, dan memilih pergi tanpa mendengar penjelasan dari Ayah mengenai kondisi kamu." balas Zahra seraya memeluk Leon.
Leon tidak mau mengulur waktu lebih jauh lagi untuk segera melamar Zahra. Setelah melihat Zahra yang telah tertidur dengan pulasnya ia pun segera menelpon Almira untuk menyampaikan berita bahagia ini dan meminta bantuan sang adik untuk mempersiapkan acara lamaran untuknya dan juga Zahra. Namun kali ini ia ingin melangsungkan acara lamaran yang hanya akan di hadiri oleh keluarga terdekat dan juga beberapa kerabat, dan acara tersebut akan di langsungkan saat ulang tahun Zahra besok hari di kediaman Leon.
"Hallo, Dek." sapanya.
"Iya Kakak, kalian di mana,? kami sejak tadi menunggu kalian di rumah." balas Almira.
"Maaf kakak lupa mengabarimu, tapi saat ini kami sedang berada di apartement. Dek, kakak ingin melamar Zahra dan memerlukan bantuan kalian." jelasnya dengan malu-malu.
"Baguslah, jika kakak sudah berpikir mengenai ini. Aku sudah sangat lama menunggu hari besar ini." balas Almira dengan bahagia.
"Tapi, kakak perlu bantuan kamu sama yang lainnya." ucapnya kembali.
"Aku tau, apa yang harus kami lakukan. Aku akan menyiapkan segala keperluannya, dan kakak tidak perlu mengkhawatirkan semua itu." balas Almira dengan penuh kebahagian.
"Terima kasih, Dek." ucapnya singkat dan segera memutuskan sambungan telpon itu.
Almira beserta ke tiga kakak Zahra tampak sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Semua pun segera mempersiapkan segala sesuatu di pagi hari. Donny dan Prily yang berada di America kini telah berkumpul bersama Fahreza dan lainnya di kediaman Leon.
Segala sesuatu berjalan lancar dari mulai pembagian undangan kepada beberapa kerabat dekat, hingga keluarga besar Zahra telah di sebarkan tanpa di ketahui oleh Zahra.
Aggrita yang sedang membantu Prily dan juga Almira tampak bahagia.
__ADS_1
"Aunty, terima kasih telah menyiapkan kejutan ini untuk Bunda." dengan polosnya ia berbicara.
Almira dan juga Prily menatap anak kecil itu dengan tersenyum. "Kebahagian ini pantas untuk Bunda, karena Bunda orang baik dan wanita terhebat untuk kita." balas Almira seraya menggendong Aggrita dan berulang kali mencium pipinya.
Keluarga besar Zahra yang sedang dalam perjalanan pun ikut berbahagia mendengar kabar tersebut. Berulang kali Tuan Laksmana mengucap syukur atas kabar bahagia ini.
"Semoga setelah ini mereka tidak akan terpisah lagi. Dan kebahagian akan selalu menyelimuti mereka dalam hubungan mereka kelak nanti." ucapnya kepada kedua wanita yang sangat ia sayangi. Dan di balas dengan senyum dari kedua wanita tersebut.
"Aunty, bisakah Aunty menelpon Deddy?" ucap anak itu dengan wajah memohon.
"Emang keponakan Aunty, mau bicara apa sih sama Deddynya.?" balas Almira.
"Aunty kepo. Yang pastinya sebelum Deddy nikahin Bunda, ada beberapa hal yang ingin Aggrita bicarakan empat mata tanpa ada yang tau." balasnya dengan polos hingga membuat semua yang mendengarnya tertawa.
"Emang Aunty sama Ibu gak mau di kasih tau, ya." tanya Almira kembali dengan tawa.
"Gak boleh dong, kan ini rahasia antara Deddy sama Grita." balasnya kembali.
Almira pun dengan segera menelpon Leon, namun berulang kali ia menelpon tak mendapatkan jawaban. Dan kali ini membuat sih kecil tampak cemberut karena tidak dapat berbicara dengan calon Ayah sambungnya.
"Sayang maaf, mungkin saat ini Deddy sedang sibuk, makanya tidak menerima panggilan dari Aunty tapi jangan khawatir, Aunty akan menelpon Deddymu terus hingga tersambung." jelasnya dengan pelan karena melihat perubahan di raut wajah gadis kecil mereka.
Leon yang saat ini sedang berada di salah satu toko perhiasan melupakan ponselnya di dalam mobil. Dan saat ini ia sedang memilih sebuah cincin untuk acara lamarannya, dan pandangannya teralihkan pada sebuah cincin berlian yang harganya cukup fantastik.
"Tolong bungkuskan cincin itu untukku." ucapnya kepada seorang wanita penjaga toko tersebut.
"Ini pilihan yang sangat baik, Tuan! Cincin ini adalah cincin satu-satu yang baru saja di rilis. Sungguh beruntung wanita yang akan mengenakan ini dan pastinya akan terlihat sangat cantik di jarinya." balas sang penjaga toko yang sejak awal merasa takjub dengan pilihan Leon yang rela membelikan cincin untuk seorang wanita dengan harga yang begitu fantastik.
Setelah selesai membeli cincin, Leon melihat jam di tangannya yang berarti ia masih memiliki waktu untuk bertemu anak sambungnya sebelum pestanya di mulai.
__ADS_1
Donny yang mendapati kedatangan Leon pun ikut tersenyum dan menyapanya.
"Lama tak berjumpa, Le" sapa Donny sembari berjabat tangan dengan Leon.
Leon pun membalas jabatan tangan dari Donny dan tersenyum. " Kontrak kerja sama kamu sama Ambyar Group gimana?" tanya Leon kepada Donny mengenai proyek yang di berikannya kepada Donny.
"Tinggal beberapa persen aja, dan sebentar lagi akan selesai. Tapi setelah ini aku di berikan kewenangan untuk menghandel beberapa proyek di America." jelas Donny dan tersenyum kepada Leon karena berkat Leonlah Donny bangkit kembali dan mendapatkan kembali segalanya.
"Bagus dong, sukses selalu ya, Don!." ucap Leon dengan tersenyum.
"Semua ini berkatmu Le. Terima kasih ya, udah mau bantuin aku sama Prily. Zahra sunguh beruntung mendapatkan pria sepertimu yang memiliki kebaikan yang sangat luar biasa sepertimu." balas Donny.
"Jangan ngomong gitu, ahh, keluarga Zahra adalah keluarga aku sama Al juga, jadi ini sepadan untuk kamu dan juga Prily." balas Leon dengan menepuk pundak Donny.
"Oh iya, kamu di cariin tuh sama si kecil. Sejak tadi dia ngambek karena kamu gak angkat telpon Al, jadinya dia diemin Prily dan Al imbasnya kekita juga gak mau ngomong, liat aja tingkahnya udah kayak orang lagi putus cinta." ucap Donny seraya tertawa geli ketika mengingat Aggrita yang tidak mau bicara kepada mereka.
"Baiklah, aku mau nyamperin si kecil dulu, bisa runyam ceritanya kalau di ngambek saat pesta sebentar nanti." balas Leon dengan tawa dan segera menghampiri Aggrita yang sedang duduk melamun di samping kolam renang dengan pantauan Prily dan lainnya.
"Kakak!" sapa Prily dan juga Al bersamaan.
"Liat tuh tingkah anakmu, gak mau bicara sama kita sejak tadi." timbal Fahreza yang datang dari arah berlawanan dan di ikuti Donny dan lainnya.
"Kakak kemana aja sih! sejak tadi dia ngotot mau bicara sama kakak tapi kakak gak angkat telpon aku." marah Almira karena kesal dengan Leon hingga dia di cuekin oleh Aggrita.
"Maaf, tadi ponsel kakak ketinggalan di mobil, ngelihat beberapa panggilan dari kamu kakak tau jika sesuatu pasti terjadi di sini." ucapnya sambil tertawa geli dan di balas oleh semuanya dengan tawa hingga membuat Aggrita kesel.
"Apaan sih ketawa-ketawa.!" teriakannya kali membuat semua terdiam dan menatap ke arahnya. Leon yang tau jika saat ini anak sambungnya benar-benar marah pun segera berjalan ke arahnya dengan perlahan karena ia ingin membuat kejutan untuk si kecil. Kini ia tepat berjongkok di belakang Aggrita, belum sempat ia berkata, Aggrita yang sejak tadi mencium aroma parfum Leon pun segera berbalik karena ia begitu hafal dengan parfum yang sering Leon pakai.
"Grita gak mau ngomong sama Deddy, sama Papa Ony sama semuanya juga." ucapnya kali ini membuat Donny dan lainnya berjalan ke arahnya dan berulang kali mencubit pipinya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gak mau ngomong, Paman usir aja Deddy dan gak bolehin Deddy ke sini lagi." ucap Fahreza dengan menahan tawa.
"Paman, apaan sih ngusir-ngusir, inikan rumah Deddy, dan Grita gak bolehin Paman ngusir Deddy, jika Paman berani Grita akan laporin Paman sama Aunty Nay biar di jewer telinga Paman." balas Aggrita dan segera memeluk Leon.