Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
94. Ini semua salahku


__ADS_3

Ervan kini meninggalkan vila kecil milik Leon dan kembali ke perusahan namun saat ia sedang dalam perjalanan menuju perusahan berulang kali ponselnya berdering namun Ervan tidak berani mengangkat telpon tersebut.


Maafkan aku Mira, aku tak tahu harus berkata apa kepadamu saat aku menerima telponmu. Membathin Ervan.


Disisi lain Almira tampak kesal karna berulang kali menelpon Ervan namun tak di jawab oleh Ervan. Almira pun segera menuju perusahan sang kakak untuk meminta penjelasan dari keduanya. Setibanya di perusahan Almira di sambut dengan ramahnya oleh para pegawai perusahan namun sebelum menuju ruangan sang kakak ia berkata kepada para pegawai perusahan untuk tidak mengatakan kepada Ervan maupun sang kakak atas kedatangannya kesana.


Ervan kini berlalu menuju ruangan Leon untuk mengambil beberapa file yang akan di pelajarinya sebelum penandatanganan kontrak bisnis namun langkahnya terhenti saat mendapati sosok yang di hindarinya beberapa saat lalu.


"Hallo Tuan Ervan! Akhirnya kita bisa berjumpa lagi di sini dan mungkin menurutku anda harus menjelaskan mengenai masalah yang terjadi akhir-akhir ini kepada saya." dengan tegasnya ia berkata dengan raut wajah yang tampak memerah hingga membuat Ervan yang awalnya tersenyum kaku menjadi pucat pasif seperti bertatap muka dengan malaikat maut.

__ADS_1


"Hallo Mira, senang berjumpa denganmu lagi dan jika di perkenankan saya ingin tahu fengan maksud pertanyaan anda barusan kepada saya." jawabnya dengan gemetar dan kaku kepada Almira.


"Di mana kakakku, dan aku merasa seperti kamu sedang mencoba menghindariku. Apa yang sebenarnya terjadi Ervan?" tanyanya kembali dengan tegas.


"Bukan seperti itu, saya bukan menghindari anda tapi saya sedang sibuk dengan beberapa tender penting. Dan mengenai ķakak anda, ia sedang melakukan perjalan bisnis ke Malaka dan mungkin akan kembali beberapa bulan kedepan." jawabnya tanpa melihat ke arah Almira.


"Sungguh! Apa kau tidak ingin mengatakannnya kepadaku,! Aku sudah tahu mengenai masalah kakak yang sebenarnya dan mungkin kamu ingin mengatakannya setelah kakakku tidak ada lagi di sini." pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Almira hingga butiran bening memenuhi pelupuk matanya membuat Ervan tidak tega melihat kesedihan di mata adik sahabatnya.


" Dimana kakak sekarang, aku ingin menemuinya saat ini juga." teriak Almira.

__ADS_1


"Ok, sebelum kamu bertemu Leon, aku mohon jangan menangis di depannya ataupun mengatakan hal yang bisa memicu penyakitnya kambuh karna saat ini kondisinya memburuk lebih cepat dari perkiraan dokter. Dan jangan katakan apapun kepada Zahra mengenai kondisi Leon saat ini karna ia tidak ingin Zahra bersedih ataupun mengutuk dirinya atas apa yang terjadi pada hubungan mereka sebelumnya."


"Mengapa kalian begitu tega kepadanya, ia berhak tahu mengenai kondisi kakak dan apa kalian tahu mengenai kondisi Zahra 3 bulan terakhir ini sejak kepergian kakak." marah Almira kepada Ervan.


Di luar ruangan tampak sosok yang sedang mendengar perbincangan keduanya dan tampak begitu syok mendengar kondisi Leon yang memburuk. Zahra yang awalnya ingin mengembalikan barang-barang Leon tidak segaja mendengar perbincangan antara Ervan maupun Almira dari balik pintu yang terdapat sedikit celah sehingga ia bisa mendengar segala perbincangan mereka tanpa mereka mengetahui keberadaannya.


Mendengar Ervan maupun Almira hendak berjalan keluar dengan cepatnya ia pun segera masuk di salah satu ruangan tepat di samping ruangan Leon.


Almira dan juga Ervan kini menuju mobil dan bergegas menuju Villa yang berada cukup jauh dari pusat kota dengan di ikuti Zahra dari belakang.

__ADS_1


Menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Ervan maupun Almira tiba di Villa tersebut begitupun dengan Zahra namun ia tidak ikut masuk bersama mereka karna sungguh ia tidak ingin mengganggu pertemuan kakak beradik itu dan memilih menunggu beberapa saat.


__ADS_2