
Dalam perjalanan Ricard tampak tak berkata, ia hanya fokus menyetir dan tidak sekali pun menanyakan sepatah kata pun kepada Zahra. Zahra yang tahu jika Ricard marah kepada nya pun mulai memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
"Ricard, maaf! aku tahu aku salah tapi sungguh aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir." ucap Zahra dengan rasa bersalah nya.
"Sudah lah, kamu tidak perlu meminta maaf kepada ku, aku bukan siapa-siapa bagimu dan aku tidak berhak marah kepada mu." balas Ricard dengan serius tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah Zahra.
Mendengar perkataan Ricard, membuat hati Zahra seperti di tusuk-tusuk beribu pisau. "Perkataan nya memang benar, tapi mengapa hati ku merasa sakit saat ia berbicara seperti itu." membatin Zahra.
Melihat Zahra yang membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepala nya seketika Ricard menghentikan mobil nya.
"Apa yang coba kamu lakukan! ini sudah larut malam! tidak baik jika terkena angin malam" ucap Ricard dan segera membuka sabuk pengaman nya dan menarik pundak Zahra.
"Kamu! kamu menangis!" tanya Ricard.
"Tidak!" jawab Zahra singkat.
"Ra, maafin aku, mungkin perkataan ku barusan membuat mu sedih." ucap Ricard seraya menghapus butiran bening di pipi Zahra.
Detak jantung Zahra seketika derdegup kencang ketika berhadapan dengan Ricard dengan jarak yang begitu dekat. "Ra, aku mencintai mu! aku tahu mungkin kamu belum bisa melupakan mantan kekasih mu, tapi aku mohon berikan aku satu kesempatan untuk bisa membahagia kan mu." ucap Ricard saat membersihkan sisa butiran bening di pipi Zahra.
"Ricard maafkan aku, tapi aku belum bisa melupakan Donny, aku pun tidak ingin terlihat egois dan menerima mu dengan hati ku masih cinta kepada orang lain." balas Zahra dengan jujur.
"Baiklah, aku akan selalu menunggu mu hingga kamu menerima ku!" ucap Ricard kembali dan segera menarik tubuh nya menjauh dari Zahra dan mengemudi kembali.
"Tidurlah! aku akan membangun kan mu saat kita tiba nanti." ucap Ricard.
Ke esokan harinya Zahra memilih memasakkan sarapan untuk para teman dan juga ke tiga kakaknya.
Hampir sejam bergelut di dapur akhirnya ia selesai menyiapkan beberapa hidangan untuk mereka sarapan. Zahra yang masih mengantuk memilih tidur kembali di sofa setelah menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Nora, Prily dan yang lainnya yang sudah bangun dan sudah selesai mandi memilih duduk berkumpul di ruangan tamu namun semuanya tampak terkejut melihat Zahra yang tidur di sofa.
Keterkejutan mereka bukan hanya melihat Zahra, namun beberapa hidangan di atas meja makan. Mereka pun tersenyum dan mengagumi sosok Zahra tanpa membangunkannya.
Fahreza, Novan dan yang lainnya pun segera menuju Apartement Zahra namun mereka di tahan oleh Naysila.
"Kalian mau masuk boleh-boleh saja tapi jangan berisik." ucap Naysila.
"Ada apa sayang?" tanya Fahreza.
"Zahra tampak capek, setelah memesan kan sarapan untuk kita dan ia sedang tidur di sofa." jelas Nay.
Mereka pun masuk dan duduk berkumpul di ruang tamu. Hingga saat Zahra bangun ia tampak terkejut melihat semuanya sedang menatap ke arahnya.
Kalian sarapan lah lebih dulu! aku mau mandi." Zahra pun berlari ke kamarnya karena ia sungguh malu melihat tatapan dari semua nya.
"Saat kita bangun tadi, Ricard udah gak ada." balas Fahreza.
Setelah semua selesai sarapan, mereka pun memilih berkumpul kembali di ruang tamu. Semua pun menatap tajam menuju ke arah Zahra dan Adri. Namun Zahra dan Adri pun dengan ekspresi normal hanya membalas tatapan mereka.
Ketika Adri dan Zahra melihat ke arah kakak mereka yang menatap mereka seperti ingin memakan langsung berteriak.
"Oke oke kami akan menjelaskan semuanya." pekik Zahra kala melihat Fahreza yang hendak maju ke arah nya dan juga Adry.
Zahra pun menarik napas panjang dan mulai meceritakan. "Kakak sebenarnya ini bukan kali pertama aku hilang saat hiking, tapi sungguh aku bukan ingin membuat kalian khawatir. Tapi setiap hari terakhir hiking, aku berjalan jalan sekitar puncak untuk mendapatkan beberapa foto yang nantinya foto itu buat aku jadikan inspirasi saat aku melukis. Dan mengenai ka Adri, yang tidak memberitahukan kepada kakak itu adalah permintaanku." Zahra pun berlutut di depan Fahreza dan lainnya.
"Ini semua salahku, aku yang tidak bisa menjaganya. Terserah kakak mau menghukumku." Selah Adry dan menarik Zahra untuk berdiri namun Zahra tidak ingin membuat Adry terkena kemarahan Fahreza.
"Kamu berdiri ngapai berlutut begitu, kakak gak suka kamu berlutut seperti ini! tapi kamu harus berjanji tidak akan melakukannya lagi dan kamu Adri kamu tidak akan mendapatkan uang saku bulananmu untuk bulan depan." ucap Fahreza dan berjalan maju untuk menarik Zahra agar berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih kak!" ucap Adry dengan bahagia walau ia tidak akan menerima uang bulan nya.1
Zahra pun memeluk Fahreza dan berkata. "Kakak terima kasih." ucap Zahra seraya memeluk Fahreza. Setelahnya ia berjalan menuju Adri dan berkata dengan pelan nya. "Tenanglah aku akan memberikan kakak uang bulanan." ucap nya sambil mengedip kan sebelah mata nya.
Dan kali ini Alfian pun angkat bicara.
"Sebenarnya sarapan tadi itu, tidak di deliv melainkan kesayangan yang masak." s3ru Alfian.
Prily dan yang lainnya tampak tidak percaya dan melihat ke arah Zahra. Zahra pun hanya tersenyum melihat ekspresi teman-temannya.
"Sejak kapan! Bos tau masak" tanya Nora dan Rere besamaan.
"Sebenarnya aku memiliki beberapa restoran disini tepatnya dekat pusat perbelajaan dan di awasi oleh Prily. Aku mengeluti bisnis ini sudah lama sejak aku meraih gelar chef waktu di California." jelas Zahra. Prily tampak terbelalak karena selama ia hidup bersama Zahra ia tidak pernah tahu jika bos nya itu pandai dalam hal memasak.
"Dan ada hubungan apa kau dan dr.Bimo?" tanya Fahreza.
"Hubungan aku sama Dr.Bimo hanya sebatas sahabat. Setiap aku kesulitan Dr.Bimo lah yang selalu ada untukku, awalnya aku mengaguminya tapi hanya sebatas mengaguminya saja tidak lebih."
"Namun sejak dia mengutaran perasaannya aku mulai menjaga jarak dengannya karena teman aku Lilian sangat mencintainya. Jadi aku memilih untuk kembali ke Indonesia, kira-kira setahun lebih aku tidak berkomunikasi dengannya." jelas Zahra.
"Sebulan ketika aku udah mau ke sini buat study tidak sengaja bertemu dr.Bimo di restoran. Aku pun meminta dr.Bimo duduk bersama kami untuk sarapan, perlahan lahan hubungan persahabatan kami mulai membaik ketika aku udah mau berangkat pun dia yang mengantarku ke Airport. Udah hanya gitu aja gak lebih." jelas Zahra dengan jujur tanpa melebihkan atau mengurangi perkataan yang Adry katakan waktu di puncak.
"Baiklah!" ucap Fahreza
"Bos kami kembali dulu." ucap Rere dan lain nya bersamaan.
"Makasih ya! dan maaf merepotkan kalian." balas Zahra dengan melayangkan senyum.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami." balas mereka.
__ADS_1