Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
40. Itu saja


__ADS_3

"Zahra, Kamu bagaimana bisa tahu Sadewa akan mempermalukan dirimu saat pesta tadi." tanya Ricard heran.


"Aku sudah lama mengenalnya, sebelum Kami menjadi saingan bisnis, kami pernah dekat, bisa di bilang teman lah. Namun saat Sadewa mengundang ku makan malam. Sadewa berbicara dengan seorang dan memberikan sebuah bubuk untuk di masukkan ke minuman ku." jelas Zahra.


Zahra menceritakan panjang lebar. Ricard yang sedang menyetir tiba-tiba mengambil jalur kiri dan memberhentikan mobil. "Zahra, Apa benar kamu sudah bertunangan?" tanya Ricard dengan tiba-tiba ketika mendengar perlakuan Sadewa terhadap Zahra.


"Ricard udah dong jangan bahas itu lagi." pintah Zahra dengan lembut.


"Zahra Aku butuh jawaban, jika kamu benar sudah bertunangan, aku tidak akan mengganggumu lagi." seru Ricard dengan serius.


Zahra pun berbalik dan menatap Ricard dengan intens, kedua nya pun sudah saling bertatapan.


"Sebenarnya pria waktu itu adalah teman aku, ia datang bersama kak Adri, dan Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun, udah puaskan." jelas Zahra dengan pelan.


Ricard tersenyum, Ricard mengerti dengan Zahra yang hanya diam, Ricard pun kembali mengemudikan mobilnya. Mereka pun sampai di depan Apartement Zahra. Zahra yang hendak turun tiba-tiba pergelangan tangan nya di tarik oleh Ricars Ricard.


"Apa?" tanya Zahra.


Ricard tak menjawab namun dengan cepat nya ia mengecup dahi Zahra. "Aku mencintai, Zahra!" ucap nya dan segera melambaikan tangan ke arah Zahra.


Zahra pun turun dengan keterkejutan nya karena Ricard menyatakan cinta kepada nya dan memberikan kecupan di dahi nya, Zahra tampak memerah mengingat Ricard yang dengan lembut nya mengatakan itu. Ia pun sambil tersenyum, dan membalas lambaian tangan Ricard.


"Besok jam 08.00 pagi aku jemput, kita pergi bareng!" teriak Ricard dan langsung melajukan mobilnya.


Zahra tampak bahagia, mengingat Ricard mengecup dahi nya dan menyatakan cinta kepada nya, kali ini ia pun mencoba membuka hati nya untuk Ricard, rasa nyaman yang Ricard berikan membuat hati Zahra luluh dengan sendiri nya. "Mungkin saat ini, adalah waktu terbaik untuk aku membuka hati ku kembali." gerutu Zahra di depan cermin dan sekilas ia melihat bayangan Ricard yang tersenyum kepada nya.


Ricard tak berhenti melebarkan senyum nya mengingat ketika dia mengecup dahi Zahra, tanpa penolakan dari Zahra. Ricard akhirnya sampai di villa.Ia pun segera berjalan masuk ke kamar mandi, setelah selesai mandi ia pun berlalu menuju ruang kerja nya. Ricard tampak serius membaca beberapa file yang di taruh Dirgantara siang tadi untuk ia tanda tangani.


Toktok


"Masuk!" ucap nya dari dalam.

__ADS_1


"Ric, kamu belum tidur! bukan nya besok kamu ada perjalanan bisnis bersama Zahra.?" tanya Tuan Fikry yang entah sejak kapan sudah berada di Villa Ricard.


"Belum Pah, bentar lagi selesai!" balas nya dengan pelan.


"Ya udah, kamu jangan begadang sampe larut, ntar sakit loh. Besok Papah akan kembali ke rumah utama, ingat lah untuk menjaga Zahra dengan baik." ucap Tuan Fikry kembali.


"Iya, bentar lagi selesai kok." jawabnya kembali.


Papah Fikry pun meninggalkan Ricard dan berlalu ke kamarnya. Di lain tempat tampak Tuan Laks sedang berkumpul bersama Fahreza dan kedua Adiknya dan sedang berbincang di ruang tamu Apartement Zahra.


"Paman Laks, ada apa?? kok Paman diam aja." tanya Fahreza ketika melihat sang Paman seperti sedang melamun.


"Paman gak nyangka aja, Zahra bisa berdiri di depan orang banyak, dan membalas perlakuan Sadewa. Kini Zahra bukan lagi anak lecil yang dapat di remeh kan, ia sudah sangat dewasa, sudah tau memilah mana yang benar dan mana yang salah." seru Tuan Laks dan mengingat kembali Zahra dengan kemarahan nya.


"Kami juga begitu terkejut saat dia membalas Sadewa dengan kemarahan nya dan kami pun lebih terkejut saat mengetahui jika Zahra lah yang membeli Nirmala Corp, dan yang paling membuat kami bangga ia berhasil membeli perusahan itu dengan keuntungan saat ia bekerjasama dengan Tuan Xander waktu di Jerman." balas Fahreza dengan bangga ketika memiliki adik yang sangat luar biasa seperti Zahra.


"Baiklah, kalian tidur lah! besok pagi Paman dan Alfian harus kembali ke Indo." ucap Tuan Laks kembali.


Pagi pun tiba, dimana Zahra sedang menyiapkan sarapan untuk Ayah dan ketiga kakaknya. Setelah selesai, Zahra pun membersikan tubuh nya karena tepat pukul 08.00 Ricard akan menjemput nya untuk perjalanan bisnis mereka.


Ayah dan ketiga Kakaknya sudah menunggu nya dimeja makan. Zahra yang sudah selesai bersiap pun duduk bersama untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, mereka mulai menggoda Zahra.


Sang Ayah yang melihat keempat anaknya begitu bahagia. "Sayang, Ayah sama Kakakmu harus berangkat ke Airport, karena hari ini kami akan kembali ke Indonesia." ucap Tuan Laks di selah-selah Zahra sedang bercanda dengan Fahreza.


"Ayah sama kakak hati-hati di jalan, maaf Zahra tidak bisa mengantar Ayah ke Airport karena sebentar lagi Ricard datang. Sampein salam sayang Zahra buat Ommah." ucap nya sebelum menyebut kan satu nama ia pun terisak, Tuan Laks pun langsung memeluk Zahra. "Udah jangan nangis, entar riasan di wajah mu rusak. Bunda juga di Italya dijaga ketat oleh banyak Dokter dan perawat. Kamu jangan khawatir." ujar Tuan Laks sembari meyakin kan Zahra.


Ruangan itu tampak tenang dan hanya terdengar isakan dari Zahra saja, namun selang beberapa menit dering ponsel Zahra membuyar kan isakan di ruangan itu. Fahreza pun meraih ponsel tersebut dan kaget ketika melihat id pemanggil di layar panggilan.


"Hhmmm, dek ini ada yang menelponmu." ucap Fahreza seraya tersenyum dan menyodor kan bendah berukuran kecil itu kepada Zahra.


"Apaan sih Kak, senyam-senyum." gerutu Zahra.

__ADS_1


"Hallo Ricard!" sapa Zahra.


........Ricard.


"Baiklah, Aku akan segera turun." balas nya dan segera memutuskan sambungan tersebut.


.........Ricard.


Mereka pun turun bersamaan. Ketika Ricard melihat Tuan Laks berjalan beriringan bersama Zahra dan ketiga Kakak nya, Ricard pun turun dari mobil dan menyalami dan mencium punggung tangan sahabat Ayahnya itu dan bertegur sapa dengan ketiga Kakak Zahra.


"Ayah, Kakak kami pergi dulu, ya." ucap Zahra berpamitan.


"Baiklah, kalian hati-hati di jalan." jawab sang Ayah.


"Paman Laks kami pergi dulu, karena takut nya kami akan tiba di sana pada larut malam." ucap Ricard dan mengambil alih koper Zahra dan memasuk kan nya kedalam bagasi mobil.


"Paman titip Zahra kepada mu! jaga ia untuk Paman." balas Tuan Laks.


Ricard pun membuka kan pintu untuk Zahra, setelahnya Ricard duduk di kursi kemudi dan berjalan meninggalkan ke empat pria keluarga Chandra. Ayah dan ketiga Kakak Zahra terus tersenyum melihat Ricard yang begitu memahami Zahra.


Ricard dan Zahra menuju kota Toulouse yang perjalanan nya cukup jauh dan mengharuskan mereka untuk bermalam di sebuah Hotel. Ricard pun memberhenti kan mobil tepat di depan Hotel Crowne Plaza, setelah mengambil barang bawaan mereka di bagasi, mereka pun turun dan menuju resepcion.


"Selamat malam, Tuan Alziro." sapa pegawai hotel


"Selamat malam, saya ingin memesan dua kamar VIP." ucap Zahra.


"Mohon maaf Tuan Alziro, kamar VIP tertinggal satu kamar saja." balas sang resepcion.


"Itu aja!" ucap Zahra dengan cepat. Ricard pun menatap ke arah Zahra dengan tidak percaya, Zahra yang menyadari jika Ricard sedang menatap nya segera mungkin ia mendekat kan tubuh ke arah Ricard dan berbisik. "Udah, kamu tidur di sofa Aku tidur di ranjang! selesaikan." pekik Zahra dengan tersenyum.


Mendengar itu Ricard tidak dapat berkata kata karena ia mengira Zahra hanya bercanda namun nyata nya wanita itu berani mengambil keputusan yang menurut nya sungguh tidak masuk akal. Pelayan hotel pun mengantar Zahra dan Ricard menuju kamar VIP.

__ADS_1


__ADS_2