
Ricard beranjak meninggalkan Zahra dan juga pelayan yang akan menggantikan pakaian Zahra, dan ia pun berjalan menuju ruang kerjanya. Tidak membutuh kan waktu lama akhir nya Ricard pun tertidur hingga pagi hari ia masih tidur dengan pulas nya hingga melupakan Zahra yang ia bawah pulang semalam.
"Nona, Apa anda ingin dibawakan sarapan kesini.?" tanya pelayan.
Zahra dengan berat membuka matanya, dia ingat sejak semalam dia tidak makan. Zahra mengangguk lemah.
"Nona anda,?" pelayan itu langsung berjalan ke arah Zahra untuk membenarkan selimut Zahra, tanpa segaja menyentuh kulit tangan Zahra yang begitu panas. "Nona maaf jika saya lancang." ucap pelayan Ricard, lalu menyentuh kening Zahra, yang memang sangat panas.
"Tolong ambilkan minum untukku bi." pintah Zahra dengan suara serak. Dengan cepat nya pelayan itu memberikan Zahra segelas air.
"Nona anda makan dulu, karena sejak semalam anda belum juga makan." ucap wanita paruh baya itu.
Zahra menggeleng kepala. "Saya hanya mau tidur, jika saya lapar saya akan panggil bibi." balas Zahra tanda membuka kedua mata nya.
Pelayan itu pun berjalan dengan tergesa-gesa nya menuju ruang kerja Ricard dan memberitahukan kondisi Zahra.
toktok...
"Masuk!" ucap Eicard sembari menggosok kedua mata nya.
"Den, Nona Zahra, tubuhnya sangat panas dan belum makan apapun." jelas wanita paruh baya tersebut.
"Apaa..." teriak Ricard dan berlari menuju kamarnya. Ricard pun naik ke sisi ranjang dan mulai menyentu kening Zahra yang begitu panas.
"Zahra,,Hey."
Zahra pun memaksa membuka kedua matanya dengan begitu lemas nya. "Ada apa.??" tanya nya dengan suara yang begitu kecil dan hampir tidak terdengar.
"Kamu makan lah dulu." ucap Ricard dengan khawatir. Zahra hanya menggeleng. "Tidak!" balas Zahra.
"Atau kita kerumah sakit saja." ucap Ricard yang tampak mulai kesal.
"Aku hanya ingin pulang ke Apartementku." ucap nya pelan.
"Baik, Aku akan mengantarmu tapi kamu makanlah dulu." ucap Ricard.
"Baiklah" ucap Zahra dengan suara seraknya.
__ADS_1
Ricard pun berdiri dan berjalan keluar kamarnya dan menyuruh sang Bibi untuk membawakan sarapan Zahra..
"Baik, Den!" balas sang Bibi.
Ricard pun kembali ke kamarnya dan mengambil handphone yang ada di samping Zahra.
"Hallo Rany, hari ini saya tidak ke kantor, saya sedang keluar Kota dan Bu Zahra dia sedang cuti 3 hari. Jadi kamu handell semua kerjaan kami." ucap Ricard di balik ponsel nya.
"Baik CEO!" jawab Rany.
toktok..
"Masuk Bi..." sahut Ricard.
"Nona ini sarapannya." ucap sang Bibi.
"Taruh disitu saja, dan maaf merepot kan mu, Bibi!" ucap Zahra.
"Zahra kamu makan saja dulu, saya mau mandi." ucap Ricard.
Zahra tidak menjawab apa yang dikatakan Ricard. Ricard pu berlalu meninggalkan Zahra dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Ricard pun keluar tanpa dengan bertelanjang dada dan hanya sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.
"Maksud kamu apa, Zahra?" Ricard yang balik bertanya kepada Zahra.
"Kenapa kamu tidak memakai pakaianmu, dan keluar seenak nya saja." balas Zahra tanpa melihat ke arah nya.
Dan dengan santai Ricard menjawab. "Ini kan rumahku, terserah aku mau melakukan apa." balas Ricard ketus.
Zahra membung wajah dengan kesal.
Ricard yang sudah berpakaian santai melangkah kan kaki nya menuju ranjang, ia pun tampak kesal karena Zahra tak kunjung memakan sarapan yang telah di antar kan sang Bibi.
Zahra cukup peka ketika melihat perubahan raut wajah Ricard seketika menjadi muram ketika melihat sarapan di atas nakas yang belum di sentuh nya. "Aku mau kembali ke Apartement?" ucap Zahra seketika dan hendak turun dari ranjang Namun belum sempat turun dari ranjang, Ricard sudah menahan pergelangan tangannya dan menatap dingin ke arahnya.
"Lepas kan tanganku, Aku mau kembali ke apartement." teriak Zahra.
"Zahra, jangan memancing kemarahanku. Kamu mau makan atau aku akan..." ancam Ricard.
__ADS_1
"Akan apa!" balas Zahra dengan teriakan karena ia sudah mulai geram dengan tingkah Ricard yang selalu mengatur nya. "Kam-hmmmm" belum sempat Zahra meneruskan Ricard sudah mencium bibir Zahra.
Zahra mendorong Ricard dan menamparnya.
"Apa kamu sudah gila?" teriak Zahra kembali.
Ricard hanya tersenyum dan berkata. "Kamu habiskan makananmu atau aku akan menciummu lagi." Ricard berjalan dan meninggalkan Zahra namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Zahra.
Zahra dengan keras kepalanya berteriak. "Aku tidak akan makan dirumahmu." teriak Zahra kembali.
Ricard yang mendengarkan teriakan Zahra membalikkan badannya, dan berjalan kembali menuju Zahra. "Apa kau sungguh-sungguh tidak akan makan." tanya Ricard dengan tatapan yang begitu dingin.
"Yan aku tidak akan pernah makan dirumahmu." jawab Zahra dengan tegas.
"Zahra.. sungguh kau memancing kemarahanku." Ricard pun menarik pergelangan tangan Zahra dengan paksa dan mendudukkan Zahra di ranjang setelah nya ia mengambil makanan di atas nakas dan memberikannya kepada Zahra.
"Zahra makanlah!" ucap Ricard dan segera menyendok makanan tersebut dan mengarahkan ke mulut Zahra.
Zahra memalingkan wajahnya. "Aku tidak lapar.!" dengan datar Zahra menjawab.
"Ayo buka mulutmu Zahra." pintah Ricard dengan sabar.
"Aku akan makan di Apartementku." jawab Zahra sekali lagi.
Ricard mulai geram dengan sikap Zahra yang begitu keras kepala. Ricard pun mencengkram rahang Zahra, kemudian memasukkan makanan ke dalam mulut Zahra. "Jangan berani membuangnya, atau aku akan lebih kasar dari ini." ucap Ricard dengan raut wajah memerah karena mencoba menahan emosi nya.
Zahra menelan makanannya tanpa terasa butiran bening itu jatuh di pipinya.
"Zahra..Habiskan makanannya, dan minumlah obatmu. Setelah sore nanti aku akan mengantarmu kembali ke apartement." ucap Ricard dengan kemarahan yang perlahan lahan mereda.
Ricard berjalan menuju ruang kerjanya. "Apa yang aku lakukan padanya. Kenapa aku tidak bisa mengontrol emosiku saat bersamanya." ucap Ricard saat melihat bayangan nya di cermin dan berulang kali mengepal tangan nya dan memukul tembok hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Zahra yang sudah selesai makan dan minum obat, akhirnya mencoba tidur kembali. Karena dia tidak mau berdebat dengan Ricard lebih lama lagi.
Ricard yang berada di ruang kerjanya hampir seharian. Kini keluar dan menuju kamarnya tanpa membersih darah di tangan nya.
Dia melihat Zahra yang sedang tidur masih dengan isakan tangis. Ricard pun duduk di tepi ranjang dan menatap Zahra lamat-lamat.
__ADS_1
"Maafkan aku, yang sudah terlalu kasar kepadamu Zahra." ucap nya dengan pelan di samping Zahra yang sedang tidur.