Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
120. Sebelum pernikahan.


__ADS_3

Hari pernikahan pun telah di putuskan dan akan di selenggarakan pada bulan berikutnya di hotel Zerathon milik Leon. Semua tamu undangan akan di cek oleh para bodyguard Leon, tanpa undangan tidak dapat masuk di area pelataran hotel. Leon akan memperketat penjagaan untuk pernikahan nya kali ini. Karena ia tidak ingin terjadi kekacauan saat pesta pernikahan nya.


Setelah acara lamaran selesai seluruh anggota keluarga Zahra pun kembali ke Indonesia. Setelahnya mengantarkan keluarga besarnya Zahra maupun Leon kembali ke Mansion. Kini hanya mereka berdua di rumah mewah itu karena Almira memilih ikut bersama Adri ke Indo.


"Sayang, sebelum pesta pernikahan, ayo kita jalan-jalan." ucap Leon saat berbaring di pundak Zahra.


"Kemana?" tanya Zahra singkat.


"Terserah kamu aja." balas Leon.


"Roma?" ucap Zahra seraya meminta persetujuan Leon.


"Ya sudah, kita akan berangkat siang nanti." balas Leon dengan tersenyum dan segera berjalan namun Zahra menahan pergelangan tangannya.


"Le, makasih untuk semua yang kau berikan kepadaku, tapi ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu." ucap Zahra kembali dengan sedih.


Mendengar nada bicara Zahra yang seperti menahan tangis membuat Leon duduk kembali di sampingnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan, dan mengapa kamu terlihat sedih!" balas Leon dengan menggenggam tangan Zahra.


"Kamu gak masalah dengan, statusku sebagai seorang pembunuh!" perkataan Zahra kali ini membuat Leon tampak terkejut hingga membuat raut wajah Leon berubah.


"Apa yang kamu bicarakan! aku gak suka kamu bicara seperti itu, emang cinta yang aku berikan ke kamu kurang, hingga kamu meragukan aku, Ra!" balasan Leon kali ini terdengar begitu tegas hingga Zahra yang awalnya menatap Leon akhirnya menunduk.


"Aku gak habis pikir dengan kamu, Ra. Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu.! Ra, apa yang kamu lakukan di masa lalu atau pun baru-baru ini, semua itu pasti ada alasannya. Kamu pun tau mengenai masa lalu aku, toh kamu juga gak pernah permasalkan itu, sebaliknya dengan aku. Dan aku tekankan sekali lagi ke kamu, jika kamu masih memikirkan masa lalu kamu, jangan salahkan aku, jika itu semua akan membuat jarak pada hubungan kita." ucap Leon kembali dan meninggalkan Zahra dengan pikirannya yang masih kemana mana.


"Tapi, bagaiman jika kelak kamu mempermasalahkan itu! Dan memilih mengakhiri hubungan kita.!" ucap Zahra kembali saat Leon hendak masuk ke kamar.


Leon dengan seribu kekesalannya segera menjawab pertanyaan Zahra dengan tatapan yang cukup tajam. " Mungkin itu akan terjadi, tapi saat aku tak lagi hidup di dunia ini.!" balas Leon dengan marah dan di ikuti dentuman pintu yang cukup kuat hingga membuat Zahra terlonjak kaget.


Leon pun dengan kekesalannya memilih tidur di ruang kerjanya. Namun selang beberapa menit keberangkatan mereka Zahra pun memilih masuk ke ruang kerja Leon dan hendak membangunkannya namun semua itu ia urungkan karena ia tau jika saat ini Leon marah akan dirinya.


Leon yang sejak tadi terbangun dari tidurnya berpura pura tidur kembali, karena ia ingin melihat sejauh mana Zahra akan mendiaminya. Setelah melihat Zahra keluar kembali tanpa membangunkannya Leon pun segera duduk di kursi kerjanya sambil memijat pelan dahinya.


"Sungguh wanita keras kepala!" monolog Leon dengan mengacak acak rambutnya.

__ADS_1


Kali ini Zahra pun memilih masuk kembali ke ruangan itu, dan di lihatnya pria yang teramat di cintainya sedang duduk menatap ke arah jendela, ia pun menggumpulkan keberanian dan berjalan maju menuju Leon.


"Le, maafin aku, aku takut jika kelak nanti kamu akan meninggalkan aku.!" ucapnya yang sedang berdiri di belakang Leon. Jangan kan menatapnya saat ia bicara pun Leon tak membalas perkataannya.


Melihat sikap Leon yang tak menggubrisnya, ia pun kembali berjalan dan berdiri tepat di depan Leon. "Aku sedang bicara sama kamu! ya sudah, aku tau aku salah! maka dari itu aku minta maaf." ucap Zahra kembali dengan raut wajah yang sudah hampir menangis.


Leon masih tetap bungkam namun saat melihat mata Zahra yang sudah berair ia pun menarik Zahra dan mendudukan Zahra di pangkuannya.


"Aku gak suka kamu seperti barusan, itu semua hanya akan membuat jarak untuk hubungan kita, dan aku gak mau kamu mengungkit masa lalu kamu atau pun aku kelak nanti." ucap Leon dan berulang kali mengecup bibir Zahra.


"Kamu gak marah lagi, kan.! dan mengenai jalan-jalan kita?" tanya Zahra bersemangat.


"Ternyata kamu minta maaf ke aku karena ini dan bukan karena merasa bersalah." ucap Leon dengan menaiki alisnya.


"Gak kok, aku beneran minta maaf, karena aku tau aku udah menyinggung perasaan kamu, tapi sayang jika jalan-jalan kita di batalkan hanya karena kamu kesal ke aku." balas Zahra dan membalas kecupan Leon di bibirnya barusan.


"Oohhh.. Siap-siap gi, bentar lagi kita berangkat." ucap Leon kembali dan menunjuk ke arah pintu dengan tersenyum.

__ADS_1


"Makasih, aku cinta kamu, Le." balas Zahra dan segera berjalan ke luar ruangan itu.


"Aku juga cinta kamu, Ra." ucap Leon dan segera melambaikan tangan kepada Zahra untuk segera bersiap siap.


__ADS_2