
"Kau mengkhawatir ku?" ucap Leon dengan suara yang masih parau.
Zahra menggeleng.
"Tidak, aku tidak menkhawatirkan mu, jangan beri aku pertanyaan bodoh mu itu, aku tidak menyukai nya!" balas Zahra dengan kesal.
Leon tersenyum di ujung bibir nya. "Mendekatlah sayang!" pinta Leon dengan senyum.
Zahra pun segera mendekatkan tubuhnya, Leon mulai menyentuh wajah wanita yang sangat di rindukan nya dengan lembut dan perlahan menghapus butiran bening di pipi Zahra dengan jemari nya. "Maafkan aku yang sudah membuat mu sedih dan khawatir atas apa yang terjadi pada ku." ucap Leon dengan lirih nya.
Zahra tak kuasa menahan diri atas kerinduan nya pada sosok yang terbaring lemah di pembaringan ruangan itu. Zahra pun menjatuh kan diri nya di tubuh Leon, ia mendekap Leon dengan erat nya. "Berjanji lah untuk tetap kuat, demi diriku dan janji kita." ucap Zahra di ikuti dengan tangisan.
Leon pun membalas melingkarkan tangan nya di punggung Zahra dan mendekap tubuh wanita yang sangat di rindukan nya dan melupakan sakit nya saat Zahra mendekap tubuh nya dengan erat. Kejadian mengharu kan itu pun berlangsung sangat lama untuk menumpahkan semua hasrat kerinduan dan tak ingin kehilangan satu sama lain, hingga kedua nya pun lupa dengan keberadaan Ervan, Adry dan dr.Gun di ruangan itu.
"Aku mencintai mu, sayang" bisik Leon pelan dengan mata yang sejak tadi menahan gejolak akhir nya pun butiran bening itu lolos tak tertahan kan.
Ervan, Adry dan juga dr.Gun pun perlahan keluar dari ruangan tersebut karena tidak ingin mengganggu gejolak kerinduan antara Zahra dan Leon.
Perancis, Bordeaux.
Di gedung perkantoran Alziro Group, terjadi beberapa kekacauan. Di mana terlihat beberapa pria berseragam hitam lengkap dengan atribut berdiri mengelilingi seseorang. Dirgantara yang baru saja tiba tidak andil dalam kerumunan itu dan hanya melihat dari kejauhan saja.
__ADS_1
Alangkah terkejut nya ia saat melihat sosok yang di bawah oleh beberapa orang berseragam hitam itu. Setelah melihat kepergian mereka Dirgantara pun segera memanggil salah seorang security untuk di tanya mengenai apa yang terjadi.
"Ada apa ini, Pak? mengapa Nona Sally di bawah oleh para Polisi?" tanya Dirgantara.
"Nona Sally terlibat dalam kasus penculikan keluarga Chandra beberapa bulan lalu, akibat dari hasutan Nona Sally akhir nya Irchan Kwal tegas di bunuh di tempat itu oleh seseorang yang cukup berpengaruh di Malaka." jelas sang security.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas info nya." ucap Dirgantara dan segera berjalan menuju lift dengan segala keterkejutan nya.
Sesampai nya di lantai 10 ia pun segera berjalan masuk ke ruangan Ricard.
Tok..tok..
"Ric, ada kabar buruk!" ucap nya dengan suara yang terputus putus.
"Apa?" tanya Ricard dengan santai.
"Wanita mu di tangkap polisi barusan, ia terlibat dalam kasus penculikan Keluarga Chandra." ucap Dirgantara dengan ngos ngosan.
"Apa terjadi sesuatu dengan Zahra?" tanya Ricard khawatir.
"Yang saya ketahui kejadian itu terjadi sekitar 4 bulan yang lalu dan tempat kejadian itu terjadi di Malaka." jelas Dirgantara.
__ADS_1
"Shiit! dasar wanita iblis, bisa-bisa nya ia melakukan itu kepada Ibu dari Anak ku!" marah Ricard saat mengetahui kebusukan Sally Jhou.
"Kamu pergi lah ke kantor polisi dan serah kan dokument pengelapan uang perusahan yang di lakukan Sally setahun yang lalu, buat ia mendekam di pencara untuk waktu yang lama." pekik Ricard dengan kemarahan nya.
"Tapi ada hal yang lebih para lagi, Ric." ucap Dirgantara kembali.
"Apa itu!" tanya Ricard masih dengan kemarahan nya.
"Sebelum kesini Aku memastikan kebenaran dari kasus Sally. Dan Aku mendapat kan informasi mengenai meninggal nya Arwin Kwal belasan tahun yang lalu, di tembak di bagian kepala dan kali ini Irchan Kwal meninggal dalam keadaan luka tembak di kepala juga, dan orang yang membunuh mereka ad-." ucap nya terbata saat ingin menyebut kan nama Zahra karena ia takut jika Ricard akan marah jika itu bukan kebenaran nya.
"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Ricard dengan penasaran.
"Yang membunuh kedua Kakak beradik itu adalah Zahra!" ucap Dirgantara dengan gugup.
"Jangan gila kamu ya! mana mungkin Zahra membunuh seseorang!" bantah Ricard dengan tidak percaya.
"Baiklah, jika kamu tidak percaya, tapi pemberitaan sudah menyebar di mana-mana seiring berjalan nya penangkapan Sally."
Ricard begitu terkejut dan berulang kali tidak mempercayai apa yang di katakan sahabat nya. Melihat itu Dirgantara pun segera mengambil remot tv dan menyalakan tv dan mencari saluran berita yang sedang memperbincang kan mengenai Zahra.
Awalnya ia tidak mempercayai namun setelah melihat pemberitaan ia pun jatuh terduduk di kursi kekuasaan nya dengan lemas. Betapa hati nya sakit ketika mendengar wanita yang di cintai nya terlibat dalam kasus pembunuhan Kakak beradik yang termasuk orang yang di takuti di Malaka.
__ADS_1