Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
143. Kepergian Selama nya


__ADS_3

Zahra sedikit pun tidak merasa kan sakit, hingga pada detik berikut nya terdengar suara tangisan sang anak.


"Ayah jangan tinggalin Grita, Grita janji Grita gak bakalan jadi anak nakal, Ayah bangun." suara cempreng sang anak pun menyadar kan semua orang.


"Maafin Ayah sayang, Ayah bahagia bisa milikin kamu sama Bunda, berjanjilah untuk menjadi anak yang kuat, kelak Ayah mau Grita mengganti kan posisi Ayah di hati Ommah dan Oppah, jaga mereka untuk Ayah. Janji!" ucap Ricard dengan memegang pipi sang Anak.


"Grita janji, akan menjaga Ommah, Oppah dan Bunda untuk Ayah." balas sang anak sembari mencium pipi Ricard dengan isakan tangis.


"Ricard!" teriak Zahra dengan panik.


"Ricard bertahan lah! Don tolong bawa Ricard ke rumah sakit." ucap Zahra kembali dengan isakan tangis nya.


"Tidak Zahra, kamu tahu tidak, aku sangat bahagia ketika bisa menikahi dirimu, sudah sejak lama aku menanti kan hari itu, ssttt jangan menangis Ra, ada hal yang ingin aku katakan kepada mu tapi mintalah Leon kesini." ucap Ricard dengan suara tersenggal senggal.


Leon pun perlahan berjalan maju dan berjongkok di depan Ricard.


"Leon maaf kan a-aku, a-aku tidak bermaksud merusak hubungan mu dengan Zahra, ketahui lah pernikahan ini adalah pernikahan palsu, se-mua sudah kami atur dengan baik, aku tidak ingin menyakiti siapa pun lagi, aku mohon jaga mereka berdua untuk ku." ucap Ricard dengan susah payah.


"Bertahan lah Ricard, jika aku harus merela kan Zahra di tangan mu, aku pun rela demi kebahagian nya." balas Leon dengan berat hati.


"Aku sudah memikir kan ini sejak kami kembali dari Prancis, kau begitu menyayangi anak ku lebih dari apapun, setelah kepergian ku, aku tidak perlu memikir kan apa pun karena aku memiliki penganti yang tepat untuk menggantikan posisi ku di hati Grita. Berjanji lah untuk tetap bersama mereka." ucap Ricard sembari mengerat kan tangan nya dengan tangan Leon. Leon pun mengangguk kan kepala nya.


"Ricard apa pun yang terjadi kamu tetap lah suami ku, dan aku adalah istrimu." ucap Zahra masih dengan isakan tangis.


"Penghulu itu dan Akte nikah semua nya adalah palsu, aku tidak ingin merusak kebahagian mu Ra, aku begitu bahagia saat kamu mengatakan aku adalah suami mu, aku pun bahagia ketika kamu menjadi Istri sehari ku, meskipun itu semua palsu tapi aku begitu bahagia, jadi kan Leon sebagai Ayah pengganti untuk anak kita, aku ingin kalian menikah setelah pemakaman ku. Berjanji lah untuk menjaga anak kita, kelak antar kan Aggrita kepada Papah dan Mamah di Prancis karena mereka begitu menyayangi cucu mereka." ucap Ricard panjang lebar dan menyatukan tangan Zahra dan Leon sebelum menghembus kan nafas terakhir nya.


Almira pun segera memeriksa denyut nadi Ricard. "Innalillahi wa inaillahi rojiun." ucap Almira.

__ADS_1


"Ricard bangun, gak lucu Ricard!" ucap Zahra sembari tertawa.


"Ayah bangun...Ayah.." teriak sang anak histeris. "Bunda, kenapa Ayah gak mau bangun Bun." tanya sang anak dengan polos nya.


Mendengar pertanyaan polos si kecil, Donny pun mengambil alih si kecil. "Sayang udah ya nangis nya, Ayah udah ketemu sama Tuhan, Ayah akan di temani banyak malaikat dan pasti nya Ayah tidak ingin melihat Grita sedih, Grita udah janji kan sama Ayah kalau Grita bakalan jadi anak yang kuat dan tegar." ucap Donny dengan lembut nya sembari menghapus butiran bening yang keluar dari pelupuk mata nya.


"Sayang udah, jangan seperti itu, saat ini Ricard sudah beristirahat dengan damai." ucap Leon sembari mengambil alih Ricard dari pangkuan Zahra.


"Za, bantu angkat Ricard, kita akan segera membawa Ricard kembali ke Prancis untuk di semayam kan." ucap Tuan Laks.


Seperti tahu dengan pemikiran Leon, Ayah Laks pun berucap. "Ayah akan mengabari Paman Fikry, agar mereka bisa bersiap siap menunggu jasad Ricard di sana." jelas Ayah Laks dan di anggukin oleh Leon dan Fahreza.


"Sayang, ayo bersiap siap, setelah nya kita akan segera terbang ke Prancis dengan jet pribadi kita. Mom, Bunda dan Al bawa Zahra ke kamar untuk bersiap." ucap Ayah Laks dengan sedih ketika melihat kehampaan dari sorot mata sang anak.


Setelah memastikan para anak laki-laki membawa jasad Ricard untuk di bersihkan, dan Zahra yang di bawah ke kamar, Ayah Laks pun menelpon sahabat nya sekaligus besan nya.


"Waalaikumsalam, Ayah. Ada apa?" balas Papah Fikry dari kejahuan.


"Papah yang kuat ya, Ayah turut berbela sungkawa, Ricard terkena tembakan dan nyawa nya tidak terselamat kan Pah." jelas Ayah Laks.


Di kejahuan sana, tampak Papah Fikry terdiam sejenak, ia begitu terpukul mendengar berita kematian sang anak. "Ayah bisakah-" ucap Papah Fikry yang langsung di potong oleg Ayah Laks.


"Papah jangan khawatir, saat ini jasad Ricard sedang di bersih kan sama anak-anak, setelah nya kami akan segera berangkat ke Prancis mengantar kan jasad Ricard untuk di semayam kan di sana." balas Ayah Laks dengan berat hati, ia tahu jika berita ini adalah pukulan terberat bagi sahabat nya, mengingat hanya Ricard lah anak semata wayang mereka.


"Ayah makasih atas segala nya, kami akan menunggu kedatangan kalian beserta jasad Ricard." ucap Papah Fikry dengan besar hati.


Sambungan telpon pun terputus. Papah Fikry yang sejak tadi menahan tangisan nya pun akhir nya pecah. Ia tidak menyangka jika Anak semata wayang nya akan pergi secepat ini.

__ADS_1


"Pah, apa yang terjadi?" tanya Mamah Lindah yang melihat kesedihan di sorot mata sang suami.


"Mah, Ricard Mah.." ucap Papah Fikry dengan sedih.


"Pah, ada apa dengan Ricard? Ricard baik-baik saja kan?" tanya Mamah Linda dengan panik.


"Mah, ikhlas kan Ricard. Ricard sudah kembali ke pencipta nya, Ricard terkena tembakan dan tidak terselamat kan." jelas Papah Fikry dengan menggenggam erat tangan sang Istri.


"Tidak mungkin Papah, ini bukan lelucoan Pah!" balas Mamah Lindah tidak percaya dengan perkataan sang suami.


"Itulah yang terjadi, dan jasad nya sedang dalam perjalanan kesini. Mamah harus ikhlas dan sabar, sekarang prioritas kita adalah membesar kan anak Ricard, cucu kita semata wayang." jelas Papah Fikry dengan hati yang di buat setegar mungkin.


Mamah Lindah yang mendengar itu pun jatuh pingsan.


"Mbok, tolong bawa kan minyak angin." teriak Papah Fikry kepada kepala pelayan.


"Tuan, ini minyak angin nya." ucap Mbo Lila sembari menyidor kan minyak angin kepada sang majikan.


"Mbok, minta yang lain nya untuk membangun kan tenda di pekarangan depan dan tolong siap kan beberapa keperluan untuk penjemputan jasad Ricard." jelas Tuan Fikry dengan sedih kepada Mbok Lila.


"T-tuan apa yang terjadi sama Tuan muda?" tanya Mbok Lila yang begitu terpukul mendengar kabar jasad Ricard yang akan di antar kan ke rumah.


"Mbok, maafin kesalahan yang di segaja atau pun tidak segaja Ricard lakukan selama ini. Ricard menghembus kan nafas terakhir nya 3 jam lalu akibat terkena tembakan." jelas Tuan Fikry dengan deruh nafas yang tidak beraturan.


"Inalillahi wa innaillahi rojiun, Tuan muda tidak pernah melakukan kesalahan, beliau orang yang sangat baik yang pernah mbok Lila temui Tuan, Den muda selalu menganggap Mbo dan lain nya seperti keluarga, semoga Den muda khusnul hotimah. Ya sudah Tuan, saya kembali ke belakang dulu untuk menyiap kan segala sesuatu yang di perlu kan." balas Mbok Lila dengan sedih mengingat Ricard selalu menganggap Mbok Lila seperti keluarga nya.


"Terima kasih Mbok." balas Tuan Fikry.

__ADS_1


__ADS_2