
Setelah mendonorkan darah kepada Zahra, Leon tampak baik-baik saja. Hingga saat di mana Zahra sadar Leon memilih menjauh darinya karena tidak ingin membahayakan Zahra dalam situasi apapun.
Fahreza dan lainnya sangat bersyukur ketika mendapati Zahra yang sudah siuman namun mereka begitu kecewa dengan sikap dan keputusan yang di ambil Leon yang rela meninggalkan Zahra dalam keadaan seperti saat ini.
Di sisi lain Almira dan Leon saling melemparkan beberapa pertanyaan hingga membuat keduanya saling beradu argumentasi.
"Kakak, apa yang kamu lakukan? semua ini tidak adil untuk kakak ipar! di berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanmu tapi apa balasanmu kepadanya! aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Kakak." Ucap Almira dengan kekecewaannya terhadap sikap yang di ambil oleh sang kakak.
"Al, kakak tidak ingin berdebat denganmu untuk saat ini. Tapi suatu saat kamu akan mengerti dengan keputusan yang kakak ambil saat ini!." Balasnyanya singkat.
"Kakak semoga saja kamu tidak akan menyesali setelah ini. Karna saat ini ada seseorang yang sedang berjuang mendapatkan cinta kakak ipar yang begitu tulus! Dan saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju kesini." Timpal Almira kembali.
Tanpa mereka sadari sejak perdebatan keduanya Zahra beserta Fahreza dan kedua Adiknya tidak segaja mendengar perdebatan mereka. Zahra begitu kecewa dengan Leon dan memilih meninggalkan markas tanpa di ketahui seorang pun.
"Kakak, aku ingin pergi ke suatu tempat dan jangan mengikutiku untuk beberapa saat hingga aku bisa menerima semua keputusan yang di ambilnya. Aku mohon jangan ikuti aku!" Ucapnya dengan kesedihan.
"Dek, kamu mau kemana biar kakak yang mengantarmu. Kami tidak bisa membiarkanmu pergi dalam keadaan seperti ini.!" Balas Fahreza.
"Tidak kakak, aku hanya ingin sendiri untuk saat ini. Berikan aku kunci mobilku." Timpalnya kembali.
Fahreza dan kedua Adiknya tidak berani lagi untuk menahan Zahra karena mereka tau betul jika saat ini Adik mereka dalam suasana hati yang begitu rapuh dan juga sedih.
"Baiklah, kami tidak akan menahanmu tapi ingatlah untuk kembali sebelum siang nanti karena penerbangan kita pukul dua siang nanti." Balas Reza sembari menyodorkan kunci mobil kepada Zahra.
__ADS_1
"Kakak, seharusnya tidak mengikuti kemauannya, bagaimana pun ia saat ini sedang dalam keadaan luka tembak dan baru saja melewati masa kritisnya." Ucap Adri hingga melupakan jika mereka masih berada di luar ruangan yang di mana Leon dan Almira berada.
Leon yang sedang berdebat dengan sang Adik tiba-tiba terdiam saat mendapati sosok Zahra yang sedang berjalan menuju mobil. Ia pun dengan segera berlari keluar namun kali ini Fahreza dan Adri menahannya.
"Jangan memberikan harapan palsu untuknya, inikan yang kau inginkan! Jika kamu benar tidak mencintainya lagi, kelak jangan pernah menemuinya ataupun menyuruh orang-orangmu untuk membuntutinya." Jelas Fahreza dengan kecewa.
"Minggirlah, ini masalahku dan Zahra, tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku bisa menyelesaikan masalahku dengannya tanpa kalian terlibat di dalamnya." Balas Leon dengan tegas.
"Masalahmu! Zahra adalah permata di keluarga kami, dan kau pun tau mengenai itu tanpa harus aku jelaskan. Jika ada yang berani menyakitinya itu akan menjadi masalah kami semua." Timpal Fahreza dengan marah.
"Kak hentikan! Kamu hanya akan menambah luka di hati Kakak ipar, jika kamu ingin pergi untuk mengucapkan perpisahan alangkah baiknya Kakak tidak usah menemuinya lagi." Ucap Almira dengan marah.
Leon tampak terdiam dengan pikirannya. Di mana dirinya harus memilih pilihan yang begitu sulit.
"Mungkin saat ini Zahra sedang menemui Reimont. Karena saat ini Zahra akan memberikan jawaban dari pertanyaan Reimont kepadanya beberapa waktu lalu." Timpal Alfian hingga membuat Leon tampak gelisa dan berlari meninggalkan Fahreza dan lainnya.
"Le..Le dasar keras kepala, mana mungkin kamu akan membiarkan seseorang merebutnya." Timpal Fahreza dan di tanggapi dengan tawa oleh Adri dan lainnya.
Zahra yang sedang mengemudi tidak dapat membayangkan jika dirinya benar-benar akan berpisah dari Leon untuk selama lamanya jika ia menerima lamaran Reimont, pria yang tidak di cintainya.
Berulang kali ia memberhentikan mobilnya di tepi jalan karena memikirkan bagaimana ia menjalani kehidupan tanpa ada Leon di sampingnya.
Leon yang sejak tadi mengemudi tidak melihat mobil yang di kendarai Zahra, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik mobilnya di arah berlawanan tapi sungguh suatu keberuntungan baginya melihat sosok wanita yang sangat di cintainya sedang berdiri di sebuah jembatan.
__ADS_1
Leon pun segera memarkirkan mobilnya di sebuah restoran dan memilih berjalan kaki menghampiri Zahra.
"Maafkan aku, tapi aku melakukan ini semua demi kebahagianmu!" Ucapnya saat sudah berada tepat di belakang Zahra.
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Untuk saat ini kita impas Le. Kamu pernah sekali menyelamatkan nyawaku, aku kesini bukan karena marah kepadamu, melainkan untuk menghirup udara luar untuk beberapa saat sebelum aku menyerahkan diri dari semua kejahatan yang pernah aku lakukan." Balas Zahra tanpa mengalihkan padangannya dari pemandangan jembatan itu dengan butiran bening yang ia tahan.
"Ra, apa yang kau katakan? aku akan membereskan semua ini tanpa melibatkanmu di dalamnya. Apapun itu!" Timpal Leon kembali ketika mendengar keputusan Zahra.
"Tidak perlu! Hidupku tidak berarti lagi saat kau memilih meninggalkanku, tanpa mengatakan kejujuran. Di antara kita tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, beri aku ruang Le. Aku ingin sendiri di saat-saat terakhirku menghirup dunia luar." Balas Zahra dengan tangisan.
Tanpa membalas perkataan Zahra, Leon pun segera menarik pergelangan tangan Zahra dan memeluknya.
"Lepaskan aku!" Ucap Zahra dan mencoba melepaskan pelukan Leon. "Kamu tidak perlu melakukan ini, keputusanku sudah bulat, apapun itu tidak akan merubah segalanya. Kamu dan juga Al sudah mengetahui semua rahasia diriku yang kami kubur belasan tahun lalu. Ucapkan permintaan maafku kepada Al karena telah membohonginya." Ucapnya kembali.
"Maafkan aku, tapi aku tidak akan membiarkan kamu menjalani hukuman yang tidak adil ini. Apapun akan aku lakukan untuk membebaskanmu dari hukuman ini." Balas Leon dengan mengeratkan pelukannya.
"Semuanya sudah terlambat! Tidak ada yang perlu di sesali, dan ini sudah waktunya untuk mengakhiri segalanya. Lepaskan aku Le!" Ucap Zahra dengan gemetar.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu lagi, semua keputusan yang aku ambil aku sangat menyesalinya. Kita akan hadapi semua masalah ini bersama. Selama ini aku mencoba tegar di depan kalian tapi sebebarnya aku tidak sanggup jauh darimu. Dan selama aku meninggalkanmu di Perancis sebenarnya aku tidak benar-benar pergi dari sana melainkan aku tinggal bersebelahan dengan apartementmu namun aku hanya bisa melihatmu dari balik celah pintu." Jelas Leon.
Mendengar itu tanggis Zahra pun pecah dan berulang kali memukul dada Leon.
"Aku takut Le, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup di penjara. Dan melalui hari-hariku di dalam sana." Balas Zahra dengan ketakutan.
__ADS_1
"Kamu tenanglah, aku sudah menyuruh Ervan untuk menghubungi beberapa pegacara untuk menangani kasusmu. Aku tidak akan pernah membiatkanmu masuk di tempat seperti itu." Ucap Leon untuk menenangkan wanita yang sangat di cintainya.
Setelahnya Leon pun mengajak Zahra untuk kembali karena melihat kondisi Zahra yang belum sepenuhnya pulih pasca operasi.