
Zahra yang sudah selesai memakai crim wajah akhirnya keluar dari kamar mandi karna ia begitu malu dengan Leon yang berada di dalam.
Zahra yang hendak keluar setelah berganti pakaian dan menghampiri gagang pintu akhirnya terhenti ketika Leon yang sudah selesai mandi dan dengan cepatnya menarik Zahra kembali ke dalam kamar dan mulai ******* bibis tipis Zahra. Zahra pun menikmati cumbuan Leon yang berulang kali membuat kenikmatan di bagian lehernya.
"Sayang udah dong, kasian loh Ervan sama Mira di bawah yang lagi nungguin kita." Zahra berkata.
Leon pun menyudahi ciuman panas itu dan berganti pakaian lalu keduanya turun dan menuju ruang makan.
Almira dan Ervan tampak bahagia ketika melihat raut wajah Leon yang memancarkan kebahagian ketika bersama Zahra karna ini kali pertamanya mereka melihat Leon dengan tulusnya mencintai wanita dan sifat dinginnya perlahan lahan memudar.
Usai makan malam, Zahra bangun dari tempat duduknya lalu membantu bibi membersihkan meja makan. " Bibi istirahat aja di kamar! Biar aku yang cuci piringnya. Bibi kembalilah ke kamar dan istirahat." perintah Zahra.
"Tapi Nyonya." ujar sang bibi.
"Tidak apa-apa Bi, pergilah.!"
"Terima kasih Nyonya."
Zahra mengangguk dan melanjutkan mencuci piring yang banyak bekas makan malam mereka. Zahra yang sudah selesai pun keluar dari dapur.
Zahra pun bergabung bersama Leon dan Ervan yang sedang bermain catur. Sedangkan Almira sudah kembali ke kamarnya.
Zahra terkekeh melihat Leon yang sedang beradu mulut dengan Ervan. "Kalian ini kalau udah main ginian pembawaan nya kayak anak kecil aja adu mulut."
Ricard yang sudah selesai berkecamuk dengan beberapa berkas akhirnya selesai dan segera turun menuju parkiran karna ia sangat kangen dengan Aggrita.
"Grita kok belum bobok sih!" tanya Ricard.
"Ayah, Grita mau nanya ke Ayah, tapi Ayah jawab dengan jujur ya." Aggrita dengan polos nya bertanya.
" Anak Ayah mau nanya apa.!" jawab Ricard.
"Teman Grita hanya punya satu Ayah, tapi kenapa Grita punya Ayah, Papah Ony dan juga punya Deddy, terus Grita punya Bunda, Ibu Ily dan juga Mamah Sally." pertanyaan sang anak membuat Ricard terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Sayang, kelak kamu akan tau mengenai ini semua, tapi belum sekarang dan Ayah janji akan mencerita kan semuanya dengan jujur kepada Grita saat Grita beranjak dewasa nanti." jawab Ricard.
"Ya sudah sekarang waktu nya Grita bobok ya!" pinta Ricard.
"Baiklah Ayah, Grita sayang sama Ayah" ujar sang anak dan mendarat kan kecupan di pipi Ricard.
Setelah melihat sang anak yang sudah tertidur dengan pulas nya, Ricard pun mengecup puncak kepala sang anak dan berlalu keluar dan pergi ke kamar nya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan kelak kepada Grita ketika ia meminta penjelasan mengenai diriku dan juga Zahra yang hidup terpisah." Membathin Ricard.
Ricard yang sudah berada di dalam kamar tak bisa membayangkan jika kelak Aggrita tahu mengenai dirinya yang brengsek. "Aku tidak ingin hidup jauh darinya, apapun akan aku lakukan untuk kebahagian nya dan aku pastikan tak seorangpun bisa menyakitinya." gumam Ricard untuk kesekian kalinya.
Zahra dan Leon sedang menunggu kedatangan Adri di Airport, menunggu beberapa menit Adri pun keluar. Zahra yang melihat sang kakak pun berjalan ke arah Adri.
"Welcome to Italy Kakak.!" sapa Zahra.
Terima kasih kalian telah mendukungku dan mau mengajakku kesini.! balas Adri.
Ketiga pun berlalu menuju mobil. Zahra pun menceritakan tujuan dirinya memanggil sang kakak ke Italy agar saat Adri dan Almira berjumpa sebentar nanti tidak akan terjadi kesalah pahaman antar keduanya.
Setelah mengantar Adri ke Mansion, Zahra maupun Leon meninggalkan Adri di sana.
"Baiklah, tidak masalah dan kakak harap kalian akan segera kembali ke sini secepatnya karna kakak tak bisa berlama-lama di sini.!" jawab Adri.
Zahra maupun Leon meninggalkan Mansion dan kembali ke Airport untuk keberangkatan mereka ke Prancis.
Almira yang baru pulang seusai dirinya dinas memilih meregangkan tubuhnya di sofa namun ia begitu terkejut melihat sosok Adri yang sedang menuruni tangga.
Kenapa aku bisa memikirkannya,? tidak mungkin ia berada di sini. Ahh lama-lama aku bisa gila. Almira berteriak keras dalam hati dan menutup matanya kembali.
Adri yang melihat Almira pun berjalan ke arahnya.
"Sudah makan belum,?" tanya Adri.
__ADS_1
Almira yang mendengarkan suara yang begitu familiar pun segera membuka kedua matanya, ia begitu terkejut dan tidak percaya melihat Adri ada di depannya.
"A-aku belum makan," jawabnya dengan terbata.
"Ya sudah, ayo kita makan, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita." panggil Adri.
K-kamu kenapa ada di sini,? dan di mana kakak dan juga Zahra. Almira bertanya.
"Kakakmu dan juga Zahra berpamitan dan akan kembali besok nanti dan aku di sini ingin menemuimu."jawab Adri dengan spontan dan berjalan menuju meja makan.
Almira terlongo mendengar perkataan Adri namun ia pun tidak bisa menahan rasa senang di hatinya dengan kedatangan Adri. Ia pun beranjak dari sofa dan mengekor di belakang Adri.
Mereka makan dalam diam dan suasana di ruang makan terasa hening dan hanya terdengar bunyi sendok dan garpu. Sesekali Adri mencuri pandang ke arah Almira. Adri begitu bahagia bisa makan malam berdua bersama Almira. Setelah selesai makan Almira pun membersihkan peralatan makan mereka.
"Kamu tidurlah biar aku yang membereskan ini." ucapnya.
"Tidak, aku yang akan membereskan ini, kamu saja yang tidur." jawab Adri.
Perdebatan keduanya pun mulai terjadi, Almira dengan tegasnya berkata namun Adri pun tidak tinggal diam dan membalas perkataan Almira sehingga keduanya saling meneriaki satu sama lain.
" Ya sudah terserah kamu, aku malas berdebat denganmu, lama-lama aku bisa gila berhadapan dengan pria keras kepala dan suka menekan segala perkataan sepertimu." ucap Almira.
"Dasar wanita bar-bar, pantas saja kamu gak laku-laku." balas Adri.
Almira yang mendengar perkataan Adri pun tidak terima dan memilih meninggalkan Adri namun Adri dengan cepatnya menarik pergelangan tangan Almira dan memeliknya dengan erat.
Almira meronta ketika Adri memeluknya namun semua usahanya untuk melepaskan tubuhnya dan Adri hanya sia-sia karna Adri memeluknya dengan eratnya.
"Adri lepasin, aku gak suka kamu seenaknya memperlakukan aku seperti waktu itu." teriaknya Almira di teliga Adri.
"Emang apa yang aku lakuin ke kamu waktu,?" tanya Adri karna ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Almira yang begitu menggemaskan.
"Adri lepasin aku, jika kamu.." belum sempat meneruskan perkataan, Adri segera ******* bibirnya dengan ganas. Almira yang awalnya menolak hingga memukul mukul dada Adri pun akhirnya terdiam dan membiarkan Adri menciumnya berulang kali. Merasa Almira tidak meronta ronta lagi, Adri pun menggendong Almira menuju sofa tanpa melepas ciuman ganas itu.
Adri pun mulai menidurkan Almira di sofa dan di ikuti dirinya yang menindih Almira dari atas. Melihat Almira yang sudah tenang Adri pun melepas ciuman itu dan mulai berbicara kepada Almira.
__ADS_1
"Mira maafkan aku yang sudah lancang menciummu waktu itu. Itu semua karna aku ingin memastikan perasaanku terhadapmu. Aku awalnya tidak yakin dengan perasaanku kepadamu namun saat aku tau kamu kembali ke sini hatiku sakit dan merasa kehilangan sesuatu." Adri menjelaskan isi hatinya.
Almira tak membalas atau pun bebicara sepatah katapun dan mendorong Adri dan berlari menuju kamarnya.