
Sinar pagi hari pun mulai terlihat di balik gorden rumah sakit. Fahreza dan kedua adik nya menjaga Zahra sedang kan Tuan Laks sudah kembali ke rumah Leon untuk menceritakan kondisi Zahra saat ini.
Prily yang mendengar kan itu pun segera mengabari Donny.
"Mas, kakak Mas!" ucap Prily dengan isakan tangis nya.
"Sayang apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu terhadap Zahra?" tanya Donny dengan khawatir.
"Kakak mengalami depsresi dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit namun Ayah dan Ommah tidak mengijinkan aku kesana." jelas nya dengan tangis.
"Kenapa bisa terjadi hal sedemikian." tanya Donny kembali.
"Al membawa kakak Ipar ke rumah sakit besar di luar Negeri tapi Ayah tidak mengatakan di mana rumah sakit itu berada. Itu faktor terbesar yang mengguncang kondisi kakak tidak stabil" jelas Prily masih dengan isakan tangis nya.
__ADS_1
"Sayang tenangkan dirimu, mungkin Ayah dan Ommah menghawatir kan kamu yang sedang mengandung, makanya mereka tidak mengijinkan kamu pergi menemani Zahra. Mas akan coba berbicara dengan Ayah. Ya sudah kamu istirahat dan jaga kondisi kamu karena Mas tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu maupun anak kita." ucap Donny kepada sang istri untuk menenangkan nya.
"Baik Mas, ya sudah. Aku tutup dulu." balas Prily dan memuruskan sambungan telpon nya.
Almira, Ervan beserta Dr.Gunawan saat ini sedang menyantap sarapan mereka di satu kantin yang berada dekat rumah sakit.
"Al, apa kamu sudah mengabari kakak ipar mengenai kepergian kita?" tanya Ervan dengan serius.
"Aku tidak berani menghubungi kakak ipar, tapi aku sudah mengabari Paman Laks dan menceritakan semua nya. Dan Paman pun mengerti maksud dari kepergian kita kesini." jelas Almira sembari menguyah makanan nya.
"Dr.Mira ini sudah seharus nya saya lakukan, jika tidak dengan kemurahan hati Tuan Leon mungkin tidak ada Dr.Gu saat ini." balas Dr.Gu ketika mengingat kebaikan Leon pada diri nya.
Zahra yang sudah bangun sejak beberapa menit lalu menatap ke arah ketiga kakak nya yang sedang tidur dengan pulas nya. Ia pun merasa kasihan dengan ketiga pria di samping nya.
__ADS_1
"Le, aku sangat merindukan mu! kamu harus kuat, kamu harus ingat janji yang kamu ucap kan kepada ku." gumam Zahra dengan isakan tangis nya.
"Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, mungkin beberapa saat lalu aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri ku sendiri dan mungkin ini teguran dari Tuahn atas ke egoisan ku beberapa waktu lalu." gumam Zahra kembali dengan isakan.
Fahreza yang telah bangun pun kaget mendapati Zahra yang sedang melamun namun dengan isakan tangis. Ia pun segera membangun kan kedua adik nya.
"Sayang!" panggil Fahreza dengan lembut nya.
"Kak, aku ingin bertemu Leon." ucap nya dengan lirih.
"Kakak janji akan menemani kesana, tapi setelah kamu pulih." balas Fahreza dan segera memeluk erat Zahra dan dengan terus menerus mengecup puncak kepala nya.
" Berjanji lah kepada kakak, untuk tidak seperti ini lagi. Jika Dokter sudah mengijinkan kamu pulang, kakak akan bicara dengan Ayah mu karena sejauh ini Paman tidak pernah mengatakan di mana rumah sakit yang saat ini merawat Leon." jelas Fahreza meyakinkan Zahra.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan nya kak." ucap nya kembali masih dengan tangisan.
"Al tidak mungkin membawa Leon pergi jauh dari kamu, pasti semua yang di lakukan Al demi kesembuhan Leon semata." Fahreza berbicara.