Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
134. Acting yang luar biasa.


__ADS_3

Dua hari berlalu, di mana Zahra terbangun dari pengaruh anastesi ketika mendengar suara tangisan seseorang di samping nya, ia pun dengan perlahan mencoba bangun, namun rasa perih di belakang nya membuat ia meringis kesakitan.


Merasakan pergerakan dari wanita di ranjang itu, Leon pun buru-buru membersihkan butiran bening itu dengan kasar nya. "Sayang, kamu sudah bangun!" tanya Leon dengan perasaan legah.


"Ya.." jawab Zahra dengan lemah sambil mencoba duduk.


"Sayang, kamu tidak boleh banyak bergerak setelah operasi besar ini! berbaringlah!" ucap Leon dengan memohon.


"Baiklah! tapi tunggu dulu, kok aku harus berbaring? aku kan hanya pingsan saja, yang semesti nya yang berbaring itu kamu bukan aku." ucap Zahra dengan suara serak nya dan terkesan masih berpura pura seperti tidak terjadi sesuatu.


"Berbaringlah!" ucap Leon dengan dingin nya karena ia tidak habis pikir dengan Zahra yang masih berpura pura.


Zahra pun mengedar kan pandangan nya ke arah sudut sofa, di lihat nya di sana ada empat orang pria dan satu orang wanita yang sedang menundukkan kepala, layak nya anak sekolah yang sedang kedapatan bolos sekolah dan di hukum oleh sang guru.


Ia pun menajamkan pandangan nya, terdapat Adry seperti memberi isyarat kepada nya.


Flashback


"Sejak aku bangun, aku tidak menemukan Zahra di sini! dimana Zahra." tanya Leon kepada Al dengan dingin nya.


"Zahra sedang istirahat di penginapan, kakak tidak perlu mengkhawatirkan nya." jelas Al dengan raut wajah biasa-biasa saja karena tidak ingin membuat sang kakak curiga.


"Al, kamu tidak pandai dalam berbohong! katakan di mana Zahra sebenar nya!!" sindir Leon kepada sang adik, karena ia tahu jika saat ini ada yang di sembunyikan Al dari nya.


"Apaan sih, siapa juga yang boong! ya sudah kakak istirahat dulu, aku ingin menemui Dr. Geral, ada beberapa hal yang ingin aku diskusi kan dengan nya." ucap Al untuk mengalih kan topik pembicaraan Leon yang membuatnya begitu gugup.


Tok..tok...


"Masuklah!" sahut Al dari dalam.


"Hey bro, gimana kabarmu?" celetuk Adry dengan santai nya.

__ADS_1


"Adry, di mana Zahra!" ucap nya dengan suara meninggi.


"I-itu dia sedang di kantin bersama dr.Gun dan juga dr.Geral." balas Adry dengan gugup.


"Bukan nya katamu Zahra sedang di penginapan!" tanya Leon dengan sorot mata yang tajam.


"Kalian ka--" ucapan Leon terhenti saat melihat kedatangan Dr.Gun bersama Dr.Gerald yang menghampiri mereka.


"Tuan, apa anda memiliki keluhan? tanya dr.Gerald dengan santai nya setelah memeriksa kondisi Leon.


"Bukan nya Zahra bersama kalian, di mana dia? kenapa hanya kalian yang kesini." kali ini pertanyaan itu ia layangkan untuk kedua dokter tersebut.


Mengerti dengan keadaan saat ini, sang dokter pun mulai gelagapan mencari alasan yang masuk akal.


"Iya, tadi Nyonya bersama kami namun kata Nyonya ia memiliki beberapa urusan dan harus pergi untuk beberapa saat." jelas dr.Geral dengan serius walau sebenarnya ia merasakan ketakutan karena mendapatkan pelototan tajam dari sang penguasa di depan nya.


"Kakak, jangan terlalu banyak memikirkan apapun untuk saat ini, fokuslah untuk penyembuhan kakak. Ya sudah, kami keluar dulu, kakak istirahatlah dulu." ucap Al dan memberi kode kepada ke 4 pria di sampingnya.


Leon memejamkan mata nya, ia berpikir jika operasi mendadak kali ini pasti ada campur tangan Zahra yang ikut terlibat, pasal nya sejak ia siuman Zahra tak kunjung menemui nya, kecurigaan nya pun bertambah kuat saat menanyakan keberadaan Zahra kepada kelima orang di depan nya, dan jawaban dari mereka pun sangat berbelit belit.


"Zahra adalah pendonor nya bukan!!" ucap nya masih dengan memejam kan mata.


Baritone itu membuat kelima orang itu menghentikan langkah mereka di ambang pintu. Mereka tidak dapat melangkah keluar lagi ketika mendengar pekikan tajam itu, sungguh tubuh mereka bergetar, terlihat peluh bercucuran keluar dari dahi mereka.


"Katakan apa itu benar!" teriak Leon dengan marah ketika melihat keterkejutan dari mereka ketika ia menyebutkan nama Zahra sebagai pendonor.


"Ka-kakak, tenang dulu. Aku akan menceritakan semua nya." ucap Al dengan gemetar karena takut dengan kemarahan sang kakak.


"Kalian sungguh membuatku kecewa, aku tidak menyangka kalian bisa mengorban kan nyawa Zahra demi penyembuhan ku! dan kau Adry mengapa kau tega melakukan itu kepada nya." ucap Leon dengan dingin nya namun di akhir kalimat nya terdengar suara serak nya yang menahan tangis.


"Maafkan kami, kami tidak bermaksud mengorban kan kakak ipar, tapi kami tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan kakak ipar." seru Ervan ketika melihat Leon menitih kan butiran bening.

__ADS_1


"Saat kami berdiskusi dengan dr.Gerald di ruangan nya, kami terkejut dengan kedatangan Zahra di sana, ia mendengarkan segala nya, ia pun mengancam kami untuk tidak mengatakan nya kepada mu! saat itu kami tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan nya." jelas Adry dengan rasa bersalah.


"Di mana dia sekarang?" tanya Leon kembali dengan lirih nya.


"Zahra berada tepat di sebelah ruangan ini, tapi hingga saat ini ia tidak sadarkan diri sejak selesai operasi." balas Adry dengan mata berkaca kaca.


Mendengar itu seperti ribuan pisau menusuk seluruh tubuh nya, ia pun segera mencabut segala alat medis yang berada di tubuh nya, ia pun hendak turun namun Dr.Gerald menahan nya.


"Tuan, jangan lakukan ini, apa yang anda lakukan saat ini akan terkesan menyia nyiakan pengorbanan Nyonya. Nyonya rela memberikan nyawa nya kepada anda. Anda hanya akan membuat nya sedih dan kecewa ketika melihat anda seperti ini." ucap Dr.Gerald dengan tulus nya mengingat pengorbanan seorang Zahra demi kesembuhan kekasih nya.


Leon seperti terciut hatinya menfengar penuturan dr.Gerald mengenai pengorbanan Zahra terhadap hidup nya. Ia pun perlahan kembali membaringkan tubuh nya di ranjang.


"Pindahkan aku ke ruangan Zahra, sekarang!" ucap nya tegas.


"Saya akan mengurus semua nya, asal Tuan tidak melakukan tindakan yang membahayakan tubuh Tuan." balas dr.Gerald dengan anggukan.


Flashback off


"Sayang, bisa tolong ambilkan air? aku haus!" ucap Zahra dengan suara serak nya, ia penasaran dengan kelima orang yang berada di sudut ruangan itu, namun lidah nya terasa keluh dan suara nya seperti tertahan untuk bertanya.


Leon pun dengan cepat mengambil air dari nakas, namun melihat Zahra yang meringis kesakitan ia pun dengan sabar menyuapi air tersebut dengan sendok.


"Datang dan periksa lah Istriku." ucap Leon dengan dingin tanpa melihat ke arah orang yang ia perintah kan.


Dr.Gerald pun melangkah maju dengan tergesa gesa. "Nyonya, apa anda merasakan pusing?" tanya dr.Gerald memastikan.


"Aku hanya merasa kan pusing, mungkin efek dari kepala ku yang terbentur tadi." jelas Zahra parau sembari mengedipkan sebelah mata nya le arah dr.Gerald.


Ke empat orang yang berdiri di belakang tanpak gugup mengingat Zahra yang masih belum menyadari situasi yang sedang terjadi dan terus menerus beracting.


"Setelah ini, kamu akan aku masuk kan ke engenci perfilm ku, di karena kan acting mu sungguh luar biasa, siapa tahu dengan kamu menjadi Aktris aku bisa mendapat kan banyak keuntungan." ucap Leon tajam se tajam silet dan sedikit menyindir Zahra.

__ADS_1


Kelima orang itu tampak sedang menahan tawa mereka, ketika mendengar pekikan Leon yang sedang menyindir Zahra.


?


__ADS_2