Pelabuhan Terakhir Zahra

Pelabuhan Terakhir Zahra
150.Kedatangan seseorang di masa lalu


__ADS_3

"Dek berikan hadiah mu." ucap Fahreza kepada Alfian.


"Aku gak tahu kesukaan mu apa, tapi menurut ku ini adalah hadiah yang tidak akan pernah di tandingi dengan barang mewah pemberian kedua kakak kita." ucap Alfian dan memberikan sebuah kotak besar yang di bungkus dengan sangat indah.


Zahra pun membuka nya, ia tercengang saat melihat sebuah foto masa kecil mereka yang menurut nya sudah hilang sejak lama saat merek pindah ke Batam.


"Kakak, bukan kah foto ini hilang sejak kepindahan kita ke Batam, kok ini bisa ada di kakak sih." tanya Zahra kepada sang kakak.


"Sebulan lalu kakak dan Marcella kembali ke pontianak, tepat nya kerumah lama kita. Kakak sempat bingung mau cari kemana lagi, namun kami tidak sengaja bertemu mbok Anye, beliau lah yang memberikan foto itu kepada kakak. Dan satu lagi kakak punya hadiah yang pasti akan membuat mu sedih karena kehadiran orang di masa lalu kamu." jelas Alfian sembari meminta sang kekasih membawa keluar Mbok Anye pengasuh Zahra saat kecil dulu.


Zahra seketika berlari turun dari Altar menuju Mbok Anye, seorang wanita paruh baya yang sangat di rindu kan nya. "Mbok, Zahra kangen sama Mbok. Zahra sempat nyari keberadaan Mbok tapi Zahra tak menemu kan petunjuk keberadaan Mbok." ucap Zahra saat memeluk erat wanita paruh baya tersebut.


"Kesayangan Mbok, sudah besar ya. Mbok bahagia ketika nak Alfian meminta Mbok ikut kesini, kata nya Mbok bisa nemui Rara saat pesta pernikahan Rara, Mbok kangen sama Rara kecil Mbok." curahan hati Mbok Anye dengan isakan nya.


Fahreza dan Alfian pun bergabung bersama Zahra memeluk Mbok Anye, salah satu pengasuh yang menjaga mereka kala orang tua mereka berpergian hingga berbulan bulan lama nya. "Den Adry kok gak ada?" tanya Mbok Anye saat tak melihat keberadaan Adry.


"Mbok, Adry lagi di Canada, ia sedang melanjut kan S3 nya." ucap Fahreza sembari menghapus butiran bening di pipi Mbok Anye. "Tapi Mbok bisa mengobrol dengan Adry dari sini." seru Alfian dan ke empat orang tersebut berjalan sedikit menuju depan Altar.


"Mbok, Adry kangen sama Mbok. Adry seneng banget bisa ngelihat Mbok lagi, Mbok adalah orang tua pengganti bagi kami." ucap Adry dengan berlinang air mata.


Pernikahan Zahra kali ini, membuat banyak orang menitih kan air mata, bagaimana tidak kekompakan ke empat bersaudara itu bagaikan lem yang selalu lekat pada perangko, semua bangga terhadap orang tua dari keluarga Chandra yang mengajar kan ke empat nya saling menyayangi, mensuport satu sama lain dan tidak pernah membedakan status sosial mereka meski mereka orang yang sangat terpandang.

__ADS_1


"Yang sehat di sana, nak. Kembali lah setelah impian mu tercapai dan jangan lupa dengan sumpah janji kalian kepada Mbok waktu itu." pesan sang Mbok kepada ke empat anak asuh nya.


"Kami berjanji akan selalu menghormati, mencintai dan saling menyayangi dan tidak akan pernah ada nama nya perselisihan dalam persaudaraan kami, terlebih menjatuh kan satu sama lain dalam hal apapun." ucap ke empat bersaudara serempak sambil mengangkat sebelah kaki dan menjewer kedua telinga mereka.


Semua merasa terharu, dengan kekompakan mereka. Mereka tidak menyangka jika ke empat nya masih mengingat jelas segala perkataan dari sang pengasuh yang sudah 20 tahun lebih tak bertemu satu sama lain.


"Kalian masih ingat toh, perkataan Mbok. Mbok bangga bisa ada di antara kalian, namun Mbok harus kembali ke Pontianak, di sana ada banyak sekali kenangan Mbok bersama kalian dan Tuan dan Nyonya Chandra." ujar sang Mbok yang tidak ingin meninggal kan rumah lama keluarga Chandra.


Melihat ketidak relaan ke empat anak nya untuk berpisah dengan Mbok Anye, Ayah Laks, Bunda Wina dan Ommah Diana pun mendekati mereka.


"Mbok, lama tak jumpa." ucap Ommah Diana.


Mbok Anye pun merasa sungkan kepada sang Nyonya besar. "Nyonya, lama tak jumpa. Nyonya terlihat awet muda, tidak seperti saya yang sudah terlihat seperti nenek-nenek sekali." ucap Mbok Anye sembari membungkuk dan tindakan Mbok Anye membuat Ommah Diana merasa bersalah karena tidak membawa Mbok Anye ikut bersama mereka. Sang Ommah pun berjalan mendekati Mbok Anye dan memeluk nya dengan erat. "Mbok Anye, jangan terlalu sungkan seperti itu, saya bukan lagi majikan Mbok Anye, maaf kan kami yang tiba-tiba meninggal kan Mbok Anye sendiri di rumah waktu itu. Kami tidak bermaksud demi kian namun saat itu terjadi masalah besar dengan perusahan Laks, maka dari itu kami pindah secara tiba-tiba." jelas Ommah Diana.


"Mbok gak mau peluk saya sama Wina, ya?" tanya Ayah Laks dengan cemberut.


Sang Mbok pun berjalan menuju Ayah dan Bunda, setelah nya merek pun berpelukan dengan erat nya.


"Ommah, nenek ini siapa?" tanya sang cucu ketika melihat seluruh keluarga memeluk wanita paruh baya di depan nya.


"Oh, ini Ibu nya Bunda sama Paman nya Grita." jelas Bunda Wina kepada sang cucu.

__ADS_1


"Berarti Ommah nya Grita ada 3 dong, Grita mau dong di peluk juga." celetuk sang anak dengan polos nya. Semua pin tertawa mendengar perkataan so kecil.


"Mbok gadis kecil ini, anak nya Rara." bisik Reza tepat di samping Mbok Anye.


"Gak di bilang juga Mbok udah tahu kok, mana mungkin Mbok lupa sama wajah kecil nya Rara dan ini memang copy nya Rara kita saat kecil." balas Mbok Anye dan mengambil alih Grita dari gendongan Ayah Laks.


"Hellow, kok aku di tinggalin sih." seru Adry yang merasa terabai kan.


"Siapa gadis itu Dry?" tanya Ommah Diana yang sempat melihat seorang gadis bule yang sedang duduk di samping Adry.


"Oh, ini Alexa teman Adry." ucap Adry sembari memperlihat kan gadis cantik yang duduk di samping nya.


"Hellow." sapa gadis kebulean itu dengan melambai kan tangan nya ke arah layar ponsel Adry.


"Gile mulus amat bro, kok tumben teman kamu cewek bukan nya cowok!" celetuk Alfian tanpa melihat ekspresi dari seseorang yang majah nya sangat masam.


"Udah dulu ya, aku ada kelas ni, Alexa juga sudah harus kembali ke kantor." ucap Adry tiba-tiba dan segera memutus kan sambungan telpon nya tanpa pamit.


"Ada apa dengan nya, kok tiba-tiba kayak orang ketakukat gitu." celetuk Alfian kembali dan Reza pun menyikut perut sang adik hingga sang empuh merintih kesakitan.


"Kakak sakit tau." kesal Alfian kepada sang kakak.

__ADS_1


"Kalau ngomong itu lihat-lihat situasi oon, di sini masih ada Al, bagaimana pun juga hubungan mereka kandas hanya karena hal sepele." marah Reza dengan mulut ember sang adik.


Leon yang tahu jika sang adik sedang tidak baik-baik saja pun, berjalan menghampiri sang adik.


__ADS_2