
Hari pun berlalu dengan cepat, tampak kecemasan di raut wajah seluruh anggota keluarga besar Zahra yang sudah rela menunggu di depan ruang operasi selama 13 jam lebih untuk mengetahui perkembangan Leon paska operasi berlangsung.
Tepat pukul sembilan malam akhirnya lampu ruang operasi di matikan dan dengan cepatnya seluruh keluarga berdiri di depan pintu masuk untuk menunggu Almira keluar. Selang beberapa saat akhirnya satu persatu dokter maupun perawat keluar tanpa berkata apapun kepada mereka. Dan kali ini mereka terpukul karna kemungkinan yang di katakan Almira.
Hingga akhirnya Almira keluar dengan raut wajah yang begitu sedih dan terlihat seperti selesai menangis.
" Al, bagaiman kondisi Leon,?" tanya Adri ketika melihat keadaan kekasihnya yang begitu sedih.
"Aku tidak tau apakah operasi barusan bisa berhasil atau tidak, karna saat ini kakak belum keluar dari masa kritisnya dan belum sadar hingga saat ini. Dan seharusnya kakak sudah sadar sejak empat jam yang lalu setelah operasinya selesai." ucap Almira dengan tangisannya dan jatuh pingsan.
"Al bangun, kamu harus kuat kamu tidak boleh seperti ini, saat ini Leon memerlukanmu." panggil Adri dan yang lainnya.
Aggrita tampak binggung dengan ketidak hadiran sang Bunda di sana saat ini dan memilih untuk menjauh dari yang lain dan memilih menelpon sang Bunda.
Zahra yang sedang asik berbincang dengan Reimont di kejutkan dengan denting ponselnya yang berulang kali berbunyi. Ia tampak terbelalak melihat 12 panggilan dari sang anak dan segera menelponnya kembali.
"Hallo sayang, maafkan Bunda yang tidak menjawab telponmu." sapa dan penjelasan Zahra.
"Bunda di mana,? Grita, Ommah, Oppah dan Paman sedang di rumah sakit menjenguk Deddy Eon yang sedang operasi." balas sang anak.
" Apa maksudmu Nak, emang Deddy Eon sakit apa,?" tanya Zahra menyelidik.
__ADS_1
"Kata Aunty Al, Deddy terkena kanker darah dan gak mungkin selamat karna saat ini Aunty juga sedang di periksa dokter." ucap sang anak dengan polosnya.
"Tidak mungkin, gak boleh bicara sembarangan gitu sayang, Deddy Eon pasti sakit kepala atau mual-mual saja." balas Zahra tak percaya atas perkataan sang anak.
"Ya sudah, Bunda terima Video Call dari Grita ya, biar Grita lihatin keadaan Deddy Eon di ruang ICU, Grita akan masuk ke ruangan itu tanpa ada yang tau." balas Grita dan mulai menghilang perlahan lahan dari pandangan semua orang dan menuju ruang ICU.
Zahra seperti di sambar petir di siang hari ketika melihat keadaan Leon yang terbujur kaku dengan beberapa alat medis yang terpasang di seluruh tubuhnya. Saat itu pun ia segera pamit dan pergi ke Airport menuju Italya.
"Maafkan aku Reimont tapi aku harus secepatnya kembali ke Italya karna ada hal penting yang harus aku lakukan disana." jelasnya sembari berlari seperti orang kehilangan arah.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke Airport." balas Reimont.
Ervan dan beberapa pegawai keamanan membelikan makan malam untuk keluarga besar Zahra, karna sejak mereka tiba tak satupun dari mereka terlihat makan.
"Paman, aku tidak tau makanan apa yang kalian sukai, tapi aku ingat dengan perkataan yang Leon katakan jika kalian sangat menyukai Ayam panggang tanpa bumbu merica di atasnya dan juga stik sapi yang di panggang menggunakan bakaran baberqu tanpa di olesi margarin. " ucap Ervan dengan berlinang air mata.
"Terima kasih nak Ervan, ternyata Leon adalah orang yang sangat perhatian dengan segala hal menyangkut keluarga besar kami, semoga saja ia cepat melewati masa kritisnya, karna kami tidak tau harus mengatakan apa kepada Zahra kelak nanti." ucap Tuan Laksmana seraya berterima kasih.
Tanpa mereka sadari sejak pingsannya Almira, Aggrita tak lagi bersama mereka, saat hendak makan malam Prily menyadari jika Aggrita tak lagi bersama mereka.
"Mas, Aggrita mana,? sejak tadi aku tidak melihatnya." tanya Prily khawatir.
__ADS_1
"Iya ya, dari tadi mas juga gak melihatnya. Apa mungkin dia ikut bersama Alfian ke supermarket. Tapi sejak Almira pingsan dia tidak lagi bersama kita." jawab Donny dengan tidak yakin.
"Ayah, Aggrita mana,? sejak tadi gak kelihatan.?" tanya Prily.
"Bukannya sih kecil bersama kalian sejak tadi.!" Tuan Laksmana balik bertanya.
"Iya, awalnya tadi bersama kami, tapi saat mengantarkan Almira kesini ia tidak terlihat lagi. Apa mungkin si kecil ikut bersama Alfian ke supermarket,?" jelas Prily.
"Za coba kamu telpon Alfian dan tanya apa si kecil ikut bersamanya." pintah sang Paman.
"Baiklah Paman, aku akan menelponnya." jawab Reza.
Belum sempat menelpon Alfian, Alfian kini masuk dengan membawa beberapa keperluan mereka. Dan kali ini semua tampak panik karna tidak ada Aggrita yang membuntut di belakang Alfian.
"Alfian, si kecil mana, bukannya barusan ikut bersamamu,?" tanya Prily dengan khawatir.
"Aku ke supermarket sendirian saja, sejak tadi aku ingin menanyakannya ke mba Prily karna sejak kita sibuk membawa Almira kesini, si kecil gak kelihatan." balas Alfian
"Maafkan aku Ayah, yang sudah lalai menjaga Grita" ucap Prily dengan rasa bersalah.
"Semua ini bukan salahmu, mungkin saja ia sedang bermain di sekitar sini, ya sudah kita berpencar untuk mencarinya." jawab sang Bunda.
__ADS_1