
"Alhamdulillah karena Ajeng gagal menikah, itu artinya Allah memang hendak menjodohkan Ajeng dengan ku dan Sean," ucap papa Reza, memberikan tanggapan atas semua cerita yang sudah diungkapkan oleh bi Ratih.
Sungguh tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hatinya untuk segera meminang Ajeng menjadi istri. Ini bukan perkara tentang Sean, tapi juga tentang dirinya yang sudah sangat mencinta.
Dan jawaban Reza itu membuat Ajeng langsung mengulum senyum meski wajahnya masih menunduk.
Dan Rilly, hanya mampu memutar kedua bola matanya malas. Beberapa detik lalu dia menebak bahwa sang kakak tidak akan terpengaruh apapun dengan cerita bi Ratih tersebut. Kakaknya tidak akan gentar untuk menikahi Ajeng dan ternyata tebakannya langsung terjadi.
Rilly ikut prihatin dengan nasib yang pernah dialami Ajeng, senang pula kakaknya tidak mempermasalahkan.
Tapi entah kenapa, dia tetap saja sebal dengan sikap kakaknya itu. Aneh, lebay jijjay, dan senyum mas Reza itu sungguh mengganggu penglihatannya.
"Alhamdulillah," ucap Oma Putri dan bi Ratih saat mendengar jawaban Reza.
Pembicaraan selanjutnya, bi Ratih akan lebih dulu menceritakan ini semua pada keluarga Ajeng di kampung. Agar tidak ada peristiwa terkejut-terkejut.
Setelah ada pembicaraan dengan keluarga Ajeng, baru nanti dibicarakan acara selanjutnya, yaitu lamaran dan di acara lamaran itulah baru bisa ditentukan kapan pernikahannya.
Pembicaraan serius itu membuat Reza jadi tidak tenang, takut dipisahkan dengan Ajeng setelah lamaran nanti. Sedangkan menunggu hari nikahnya masih lama.
Belum apa-apa pria berusia 33 tahun itu mulai gundah gulana, pujaan hati masih ada di depan mata tapi rindunya sudah terasa.
Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kegalauannya tersebut.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga semuanya lancar ya Bi," ucap Oma Putri, mengakhiri pembicaraan mereka sore itu.
Malam ini Oma Putri juga berencana untuk menyampaikan berita bahagia ini pada seluruh keluarga Aditama.
Karena tidak bisa bertemu langsung, dia akan buat pengumuman di grup whatsapp keluarga.
Malam itu bi Ratih menolak saat diminta untuk menginap, dia lebih nyaman tidur di kamarnya sendiri.
Sebelum pulang bi Ratih memeluk Ajeng dengan erat, katanya Reza duluan yang mencintai Ajeng dan hal itu membuat bi Ratih bangga.
"Keponakan bibi memang cantik," puji bi Ratih.
Ajeng tersipu malu.
Dan Ajeng makin tersipu malu dibuatnya.
Menjelang malam waktu itu, bi Ratih pulang diantar oleh Deri.
Ajeng dan Reza mengantar sampai ke teras.
Sampai mobil yang dikendarai Deri keluar dari halaman rumah ini, sepasang kekasih itu masih berdiri di sana.
Ajeng ingin masuk duluan, tapi canggung dengan papa Reza. Jadi saat dia berbalik, malah bersitatap langsung dengan pria tersebut.
__ADS_1
Pria yang wajahnya tidak dingin lagi, pria yang kini malah sering senyum-senyum sendiri.
"Katakan, aku dengan Erwin tampan siapa?" tanya papa Reza, mendadak senyumnya hilang.
Satu pertanyaan yang membuat Ajeng malah terkekeh pelan, terdengar lucu di telinganya.
"Jawab," tuntut papa Reza pula.
"Tentu saja tampan Papa," balas Ajeng.
Senyum Reza kembali terukir lebar.
"Ajeng."
"Iya, kenapa Pa?"
"Kalau sedang berdua begini jangan panggil Papa, panggil Mas."
Ajeng langsung tersipu-sipu, dia meremat kedua tangannya sendiri merasa gemas.
"Iya Mas," jawab Ajeng patuh.
Dan sikap patuh itu makin membuat Reza jatuh hati, jatuh di tempat yang paling dalam.
__ADS_1
"Papa! Mama! Masuk!!" teriak Sean, yang tiba-tiba datang.