Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 92 - Boleh Bahagia


__ADS_3

Setelah seharian merencanakan misi dan merayu mbak Ajeng, akhirnya jurus terakhir papa Reza mengenai hati gadis cantik tersebut.


Ucapan Papa Reza sore ini bukan hanya membuat jantung Ajeng berdebar, namun juga hatinya jadi menghangat.


Ada ketenangan yang Ajeng rasakan, tapi tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Mendengar papa Reza seperti menjilat ludahnya sendiri memang terasa kasihan, tapi memang itulah yang selalu Ajeng cemaskan.


Dan pertanyaan papa Reza tentang mereka yang akan memulai semuanya bertiga, Ajeng jawab dengan anggukan kepala kecil.


"YE!!" pekik Sean kegirangan.


Membuat Ajeng langsung tersenyum meski sedikit ragu-ragu.


Ajeng bahkan membalas pelukan Sean tak kalah erat ketika bocah itu mendekapnya.


"Pa-papa tidak akan mengatakan bahwa aku tidak tahu diri kan?" tanya Ajeng, walaupun sudah setuju tapi pertanyaan itu tetap saja keluar dari mulutnya.


Hanya untuk jaga-jaga.


"Tidak, sekarang akan mengatakan cobalah buka hatimu dan mulai cintai aku."


Ahhhh, Ajeng meleyot.


Rasanya ingin kelojottan. Tapi sekuat tenaga dia tahan, bahkan Ajeng hanya berani mengulum senyum. Tidak berani tersenyum lebar.

__ADS_1


Ajeng merasa dia baru saja mendapatkan durian runtuh, entah bagaimana caranya papa Reza bisa menaruh hati padanya, Ajeng tidak tahu.


Tapi yang jelas sekarang Ajeng benar-benar merasa sangat bersyukur dicintai oleh Duda anak 1 ini. Bukan hanya tampan nan rupawan, papa Reza juga kaya raya, tajir melintir. Bahkan harta papa Reza sampai tak mampu Ajeng bayangkan. Pemilik perusahaan perkebunan sawit terbesar.


Ya Allah Ya Gusti, Ajeng sampai tak bisa berkata-kata tentang harta itu.


Ajeng sudah seperti seorang cinderella dengan semua keberuntungannya.


"Sekarang kamu mandi lah, biar aku yang bersama Sean," ucap papa Reza.


"Ingat mandinya di kamar ku, sekarang itu sudah jadi kamar mu. Aku tidak akan masuk-masuk ke sana lagi sebelum kita menikah," terang papa Reza.


Tak sudah-sudah memberikan kejutan pada Ajeng.


"Oh satu lagi, sekarang kamu bukan lagi pengasuhnya Sean, sekarang kamu adalah calon mamanya Sean, jadi jangan merasa tidak enak hati dengan pelayan yang lain karena tidur di sana. Besok pagi aku akan jelaskan ke mereka semua siapa kamu sekarang, ya?"


Sedikit canggung, Ajeng pun melepaskan pelukannya pada Sean dan bangkit dari duduknya, kemudian keluar dari dalam kamar tersebut.


"Huh!" Ajeng membuang nafasnya dengan kasar, dia bahkan mengelus daddanya sendiri agar tenang.


Lalu segera berlari menuju kamar papa Reza. Ketika sudah masuk ke dalam kamar itu Ajeng berjingkrak kegirangan.


"Ahk!" pekik Ajeng dengan suara tertahan. Melompat lompat dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Bukan mimpi! bukan mimpi! bukan mimpiiii! Ini bukan mimpii!!" pekiknya lagi.

__ADS_1


Ajeng lantas mempercepat langkah dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar tersebut. Wanita cantik itu tersenyum seraya menatap langit-langit kamar ini yang nampak begitu mewah.


Hanya langit-langit kamar saja dihiasi dengan ukiran yang sangat indah.


Bagi Ajeng ini sudah seperti sebuah istana.


Ajeng lantas mencubit pipinya sendiri dan benar-benar terasa sakit.


"Awh!" keluhnya, dia yang berbuat dia pula yang merasa kesakitan. Ajeng lantas duduk di atas ranjang itu, kembali menelisik tiap sudut kamar ini dengan bibir yang terus tersenyum.


Tangannya meraba kasur yang selama ini jadi tempat tidur papa Reza.


Dia mengulum senyum, jadi malu sendiri hingga kedua pipinya jadi merah merona.


Kemudian tatapannya tertuju pada sebuah meja yang nampak seperti meja kerja di ujung sana.


Ajeng turun dari ranjang itu dan mendekati meja tersebut, melihat sebuah foto yang menarik perhatiannya, foto yang berisi papa Reza dan Sean. Hanya berdua saja.


Entah kenapa dia senang karena tidak melihat foto mama Mona disana.


"Ya Allah, apa aku jahat ya?" gumam Ajeng. Namun kemudian buru-buru menggeleng.


"Tidak tidak, mama Mona dan papa Reza kan sudah cerai, jadi aku tidak perlu merasa jahat," ucap Ajeng lagi.


Dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia layak berada disini. Bahwa dia boleh bahagia mendapatkan ini semua. Papa Reza dan Sean.

__ADS_1


Ya, Ajeng bahagia sekali.


Dia bahkan mengambil foto tersebut dan mendekapnya erat.


__ADS_2