
Jam 9 malam akhirnya pesta pernikahan itu pun selesai di gelar. Sisa-sisa tamu undangan pun berangsur pergi meninggalkan tempat acara.
Di sana hanya tinggal panitia, tim wedding organizer dan para pemuda desa. Membereskan beberapa pekerjaan terakhir.
Besok pagi baru merobohkan semua tenda dan pelaminan ini.
Mereka juga seperti berpesta sendiri, perayaan karena telah jadi bagian penting suksesnya acara pernikahan tersebut.
Erwin dan beberapa pemuda dari keluarga Ajeng juga masih berada di sana. Belum pulang untuk menghargai semua yang telah membantu acara ini.
Untungnya saat malam itu Sean sudah tidur, jadi dia tidak sadar ketika digendong masuk ke dalam mobil Oma Putri.
Malam ini Sean akan tidur bersama Omanya. Semua orang jelas tau tak ada yang boleh mengganggu yang namanya malam perttama untuk pengantin.
"Apa tidak apa-apa Sean bersama Oma? bagaimana kalau besok dia marah?" tanya Ajeng, dia masih memakai gaun malamnya dalam pesta pernikahan, namun belum rela melepaskan sang anak untuk ikut Omanya.
Ajeng takut besok pagi Sean kaget karena tidak tidur di kamarnya, lalu jadi marah dan teriak-teriak.
Sungguh, gadis itu belum paham maksud semua orang membawa Sean pergi.
Tidak etis juga jika disebutkan secara gamblang.
Ya biar kamu bisa annu-anu sama Reza Jeng!
Tidak mungkin kan bicara seperti itu di depan umum seperti ini?
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, biar Sean bersama Oma. Sudah ya, sebelum semakin larut malam, Oma pulang dulu. Besok kita bertemu lagi," jawab Oma Putri, sekaligus pamit.
Dengan raut wajahnya yang murung, akhirnya Ajeng mengangguk.
Oma Putri dan semuanya mulai masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah sewaan.
Papa Reza, Ajeng dan semua keluarga disini pun mulai masuk ke dalam rumah.
Beberapa keluarga Ajeng juga masih ada yang menginap disini. Suasananya masih ramai.
"Mbak, mau ku bantu nggak lepas bajunya?" tawar Nia, karena tadi saat memakai baju itu pun butuh bantuan dia.
"Tidak usah nduk, kamu tidur saja, biar Ajeng dibantu suaminya." Ibu Tri yang menjawab.
Mendengar jawaban ibunya tersebut, Ajeng baru sadar jika malam ini dia akan tidur dengan papa Reza.
Astaghfirullahal Azim, ya Allah, bagaimana ini, ya Allah, mana Sean pergi lagi. Batin Ajeng, mendadak cemas dan gugup, takut, seperti belum sanggup.
Padahal Ajeng tahu kalau malam ini dia dan papa Reza pasti annu.
Ya Allah.
"Ayo sayang," ajak Reza untuk segera menuju kamar.
Tubuh Ajeng sudah gemetar, mendadak dia merinding. Suara papa Reza itu seperti hawa mengerikan yang meniup tengkuk lehernya.
__ADS_1
Ajeng hanya bisa pasrah saat tangannya di tarik untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
Makin berdegup tak karuan jantungnya saat mendengar suara pintu itu dikunci.
Glek! Ajeng menelan ludah dengan kasar.
"Pa-papa Reza mau apa?" tanya Ajeng langsung, entah kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu.
Reza mengulum senyum melihat istrinya yang gugup, sekarang Reza benar-benar merasa jika dia seperti om-om.
Om-om yang sedang memaksa seorang gadis untuk melayaninya.
"Melakukan apa? tentu saja yang biasa dilakukan oleh sepasang suami dan istri," jawab Reza dengan bibir tersenyum menyerinngai.
"Ahk!!" Ajeng belum apa-apa sudah menjerit geli. Tubuhnya pun bergidik ngeri.
"Papa jangan melihat ku seperti itu! Mesyum!!" kesal Ajeng.
"Panggil Mas sayang, jangan papa."
"Tapi jangan senyum-senyum seperti itu! geli!"
Reza jadi tertawa.
Ya Allah, bagaimana caranya ini mau mulai. Batin Reza.
__ADS_1